
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Anies Baswedan-Sandiaga Uno disarankan memprioritaskan program layanan transportasi umum massal di Ibu Kota. Untuk mewujudkan program itu, Anies-Sandi bisa meniru sistem transportasi umum di Kuala Lumpur, Malaysia.
Demikian disampaikan Ketua Umum Solidaritas Aksi Perubahan Untuk Jakarta (SAPU - Jakarta), Harry Ara Hutabarat, di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (27/4/2017).
"Di sebuah Ibu kota Negara, layanan transportasi yang layak dan nyaman adalah kebutuhan mendasar. Sehingga, pemimpin baru DKI, Anies-Sandi kedepan harus mampu membuat transportasi publik yang jauh lebih baik," kata Ara.
Menurutnya, diperlukan terobosan dan inovasi dalam upaya meningkatkan pelayanan dan keamanan transportasi publik.
"Saya kira ini harus menjadi priorita utama dan harus menjadi komitmen gubernur dan wakil gubernur terpilih," katanya.
Meski begitu, Ara mengaku, secara sosial di Jakarta masih ada sebagian kalangan yang menilai transportasi umum kurang bonafit atau hebat.
"Jika menggunakan transportasi umum tidak keren. Ini harus cepat diatasi dengan teladan para pemimpinnya. Minimal Anies-Sandi ke depan dalam setiap pekan harus memberi teladan menggunakan transportasi publik, sehingga diikuti masyarakat lain yang masih berpikir kurang keren jika naik transportasi publik," beber Ara.
Lebih jauh, Ara menjelaskan, bahwa pihaknya baru saja melaksanakan studi banding ke Kuala Lumpur dan Malaysia pada 27-28 April 2017. Tujuannya, untuk memberikan masukan kepada Anies-Sandi yang baru saja mempercundangi petahana Ahok-Djart di putaran final Pilgub DKI 2017.
"Kami punya tanggung jawab moral untuk memastikan ke depan agar Ibu kota Negara makin maju kotanya dan bahagia warganya," katanya.
"Hasil studi di Kuala Lumpur Malaysia, ibu kota Malaysia, kota terbesar di Malaysia sangat penting. Kedua Negara tersebut mengembangkan sistem transportasi terintegrasi yang mengandalkan moda kendaraan bus dan kereta. Ini bisa jadi acuan bagi Anies-Sandi kedepan," bebernya.
Untuk kereta, lanjut Ara, terdapat tiga jenis kereta yang melayani penumpang dalam kota, yaitu rapid rail, commuter rail, dan monorail. Ketiganya terintegrasi dan terhubung lewat beberapa stasiun interchange. Rapid rail, yang disebut dengan RapidKL, memiliki dua jalur utama, yaitu Kelana Jaya Line dan Ampang Line. Keduanya membelah kota Kuala Lumpur dari selatan ke utara.
"Kelana Jaya Line adalah jalur metro paling penting di Kuala Lumpur, karena menghubungkan pusat kota dengan Subang Jaya, Petaling Jaya, dan daerah Gombak. Jalur tersebut membawa lebih dari 170.000 penumpang pada hari biasa, dan mencapai 350.000 penumpang saat liburan dan hari-hari nasional. Kelana Jaya Line sistem metro tanpa pengemudi terpanjang kedua di dunia," ujarnya.
"Selain Kelana Jaya, Ampang Line menjadi rute kedua dari jaringan RapidKL. Jalur ini menghubungkan daerah Putra Height ke Ampang dan Sri Petaling, dan membawa 130.000 hingga 150.000 penumpang per hari," paparnya.
Masih kata Ara, Kuala Lumpur memiliki sistem komuter lebih baik dari Malaysia. Sistem jalur komuter ini dijalankan oleh dua operator, Keretapi Tanah Melayu dan Express Rail Link.
"Ada 4 jalur komuter di Kuala Lumpur, yaitu Port Klang Line, Seremban Line, Tanjung Malim Shuttle Service, dan KLIA Transit. Keempatnya terhubung di KL Sentral, hub transportasi terbesar di Asia Tenggara. Panjang rute ini mencapai 27 kilometer dan memiliki 29 stasiun," tandasnya. (plt)