Opini

Nganu, Nginu, Ngunu; Tentang Perilaku Politik Sebagian Warga Bangsa

Oleh Hatta Taliwang (Direktur Institut Soekarno Hatta) pada hari Minggu, 10 Jun 2018 - 17:02:24 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

42Hatta-Taliwang.jpg.jpg

Hatta Taliwang (Sumber foto : Dok/TeropongSenayan)

Sewaktu lagi " kuatnya"  Ahok "mengancam" kuasai Jakarta atau Indonesia, banyak Tokoh Islam "bersandar" untuk tidak menyebut memuja Prabowo sebagai partner Perjuangan. Adalah atas jasa Prabowo, mengajukan Anis sebagai cagub Jakarta, lalu Anis menang,  sehingga umat Islam merasa lega, lepas dari ancaman dan cengkraman Ahok.

Adalah atas jasa jasa pengacara terafiliasi ke Prabowo sebagian tokoh Islam/ aktifis terbantu menghadapi kasus  berkaitan dengan "perang melawan Ahok".

Setelah "menang perang" suasana seakan terjadi apa yang disebut sebagai: hari panas kacang lupa akan kulitnya. Mulai terendus ucapan sebagian politisi atau aktifis, untuk menjauhi Prabowo dengan alasan nganu,nginu,ngunu.

Saya bukan kader Partai Gerindra, bukan juga sahabat atau teman Prabowo bahkan ketemu langsung baru 3 kali, itupun sekilas tak pernah ngomong lebih dari 1 menit. Saya cuma prihatin saja dengan perilaku sebagian politisi Indonesia yang kurang menghargai jasa atau kebaikan Prabowo.

Bukankah konon Prabowo telah bersedia pasang badan untuk jadi korban dan mengambil tanggung jawab atas dosa rezim militer masa lalu, meskipun itu bukan semata salahnya pribadi? Paling tidak itu yang saya pahami berdasarkan hasil analisis pribadi saya.

Bukankah konon telah berkali-kali diganjal oleh teman atau seniornya untuk menjadi pimpinan di negeri ini, meskipun temannya atau seniornya itu tak mampu juga memberi solusi untuk mengangkat derajat bangsa ini, meskipun teman atau seniornya itu berkesempatan berada di panggung kekuasaan formal?

Bukankah Prabowo konon pernah diingkari perjanjian politiknya oleh sebuah partai besar dimana mestinya mereka akan dukung Prabowo pada Pilpres yang lalu ?

Konon Prabowo lah yang secara formal mendukung pasangan Jokowi-Ahok, menjadi Gubernur Jakarta, yang menjadi tangga berikutnya bagi Jokowi untuk meraih jabatan Presiden?

Last but not least bukankah Anis - Sandiaga adalah karya dan keputusan Prabowo yang membuat nafas sebagian warga bangsa ini lega lepasa dari "ancaman" Ahok

Lalu sekarang sebagian tokoh politik nasional dan tokoh agama dan lain-lain sedang bekerja keras untuk memotong kesempatan bagi Prabowo untuk tampil menjadi Presiden dengan alasan nganu nginu dan ngunu.

Mari kita renungkan baik-baik, meskipun secara politik (machiavelis), boleh saja orang bersiyasah, bermanuver, memotong kesempatan lawan politik dan lain lain.
Tapi apakah batin kita sudah tertutup untuk melihat secercah kebaikan yang dipancarkan Prabowo dengan segala jasa dan pengorbanannya untuk kita? Masihkah pengkhianatan dan penganiayaan politik terhadap Prabowo akan dilanjutkan?

Mengapa tidak kita biarkan secara sehat panggung politik kita berlangsung dengan sehat, dan setiap yang mampu tampil dengan elegant, kita beri applaus lalu kita biarkan rakyat memutus pilihan politiknya tanpa hamparan fitnah nganu nginu, ngunu dan rasa takut serta merasa terintimidasi?

Sekiranya pandangan saya keliru mohon dimaafkan dan sekaligus tolong dikoreksi atau diluruskan. Anggap ini sekedar curhat orang yang ingin melihat permainan politik Indonesia berlangsung fair.(*)

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #prabowo-subianto  

Bagikan Berita ini :