Berita

Komisi VI DPR Pertanyakan Rencana PLN Terkait Penggunaan Dana PMN 2019

Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Kamis, 12 Jul 2018 - 15:08:25 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

79o_1b77qcstb1j15fq41542p63isms.jpg.jpg

Rapat Komisi VI dengan Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (12/7/2018). (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi VI dari Fraksi Partai Amanat Nasional (F-PAN) Mohammad Hatta mempertanyakan rencana Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir yang akan menggunakan listrik berbasis Diesel dan atau Genset untuk Listrik Perdesaan dari Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun anggaran 2019.

Pasalnya, startegi PLN itu dinilai sangat memboroskan uang rakyat dan dikhawatirkan PLN akan terus mengalami kerugian.

"Pak Sofyan tadi ngomong listrik ini akan berbentuk diesel atau genset, Bapak kan tahu resiko itu sangat besar dan mahal kenapa tidak dipikirkan menggunakan solar cell atau solar panel?," cecar Wakil rakyat dari Dapil Jateng V (Solo, Klaten, Boyolali, dan Sukoharjo) kepada Direktur Utama PLN, Sofyan Basir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (11/7/2018).

Menanggapi pertanyaan itu, Sofyan pun mengakui bahwa penggunaan Genset dan Diesel sangat tidak efisien dan dipastikan investasinya akan gagal atau tidak balik modal.

"Bapak bilang ini tidak efisien, benar Pak ini sangat tidak efisien Pak, kalau PLN ditanya mau tidak? PLN pasti jawabnya sebenarnya itu tidak mau, karena begitu satu rumah kami siapkan lampu maka terjadi kerugian pasti pak dan tidak akan kembali investasinya," kata dia.

"Tapi, dia (rumah yang dialiri Listrik menggunakan Genset atau Diesel) sebagai warga negara berhak mendapatkannya. itu kadang-kadang dilema bagi kami Pak, tapi hari ini kita enggak bicara telur dan ayam kami tidak bisa memilih tapi kami pasrahkan nanti setelah terjadinya," jawab dia.

Sofyan menerangkan, memang saat ini menggunakan teknologi terbarukan seperti Sollar Panel atau Sollar Cell bisa lebih murah. 

Akan tetapi, kata dia, dengan menggunakan sollar panel atau sollar cell maka listrik tak akan hidup selama 24 Jam dan harga baterainya saat ini juga sangat mahal.

Untuk Sollar Panel, kata dia, sangat bergantung pada sinar matahari untuk bisa menjadi listrik. Padahal, efektifnya cahaya sinar matahari diserap oleh panel tersebut hanya untuk 4 Jam, sementara kebutuhan listrik masyarakat adalah 24 Jam.

"Kita berbicara teknologi apa yang kita pakai memang saat kita diskusi dengan orang solar kita Hybrid dengan diesel solar ini mataharinya hanya 4 jam Habis itu dia mati dan 4 jam ini siang Pak justru malam yang kita butuh," katanya.

Begitu juga dengan Sollar Cell, menurut dia, dalam hal biaya perawatan solar cell beserta baterai penyimpan daya listriknya jauh lebih mahal.

"Begitu (juga) dengan baterai, luar biasa harganya mungkin pak, mudah-mudahan lebih cepat dari 10 tahun industri baterai ini sudah sangat maju Pak dan sangat murah," jawabnya.

"Dan kalau itu terjadi nanti Pak, memang pasti kita akan pindah ke teknologi baru terbarukan yaitu dengan baterai tapi hari ini dalam 1 tahun kedepan mereka harus nyala Pak bisa 24 jam Pak tidak ada jalan lain yaitu sementara pakai diesel," tambah dia.

Tak puas dengan jawaban Sofyan, Hatta pun kembali mengkorek lebih dalam ihwal startegi pilihan PLN tentang pembangkit listrik.

"Saya setuju Pak dengan omongan yang anda sampaikan cuma kan ini pilihan teknologi menurut saya solar sel itu efisien gitu loh itu itu kan cuma ditancepin aja nggak perlu pakai jaringan enggak perlu dan sebagainya dan Bapak katakan tadi 4 jam itu dimana ? hanya 4 jam ada matahari (dimana)?," tegas Hatta.

"Matahari (memberikan Cahaya) untuk efektifnya 4 jam pak," timpal Sofyan singkat.

"Nggak pak nggak karena saya itu pasang solar cell juga di Australia saya punya rumah di Perth (buktinya nyala 24 Jam)," Jawab Hatta.

Menurut dia, pilihan strategi pembangkit listrik yang dilakukan PLN sangat tidak masuk akal. Sebab, selain sangat ketinggalan zaman dan pemborosan, negara juga menjadi terlihat tak memiliki gaya.

"Sekarang pemerintah Australia lebih gila-gilaan lagi dalam melakukan efisiensi energi artinya apa itu sudah pilihan bagi mereka dan yang paling efisien untuk saat ini adalah solar cell mengapa kok itu tidak jadi pilihan bagi Bapak itu pertanyaan saya bapak boleh bilang ini itu dan sebagainya Tapi itu kan juga salah satu branch mark pada sebuah negara bagi sebuah negara dalam melakukan suatu kajian dan Untuk menentukan sesuatu jadi saya minta tolong dikaji," tegas Hatta.

"Kajiannya ini dibawa ke sini pak untuk kita bisa memberikan persetujuan Apakah itu masuk akal atau itu memang masih perlu dikaji begitu Pak Sofyan," cecar dia.

Menanggapi cecaran bertubi-tubi itu, Sofyan pun mengaku memiliki kajian yang sudah matang. Bahkan dari kajiannya itu, dia juga telah mencoba menggunakan Sollar Panel, namun, hasilnya belum memuaskan.

"Kajiannya ada Pak kalau boleh, saya tambahkan sedikit ada kok yang pakai solar Pak memang ada yang belum bisa mendapatkan sampai malam jadi dia hanya mendapatkan siang," klaimnya.

"Hanya siang saja tapi kalau malam tidak bisa mohon maaf Pak yang kita bicarakan ini untuk 24 jam dia nyala Hybrid ya pak jadi selnya itu tetap harus ada Pak, memang mahal jujur Pak kalau misalnya seperti yang sekarang kita lagi bangun ada beberapa solar yang besar Pak 50 Mega di atas Waduk Cirata floating PV itu hanya 6 sen pak murah Pak tapi begitu dia sangat terpisah-pisah Pak dan volumenya sangat kecil jadi lebih mahal dia Pak itu pasti kami sudah kaji Pak," tambah dia.

"Tapi secara progress nanti (kajiannya) akan kami akan berikan kepada bapak," tutupnya. (Alf)

tag: #komisi-vi-dpr  #pln  #bumn  

Bagikan Berita ini :