Jakarta
Oleh Alfian Risfil pada hari Senin, 27 Agu 2018 - 10:21:29 WIB
Bagikan Berita ini :

Gerindra-PKS "Deadlock" Soal DKI-2, Haji Lulung Bisa Jadi Alternatif

44calon-gubernur-dan-calon-wakil-gubernur-dki-jakarta-anies-_170312180041-849.jpg.jpg
Anies Baswedan, Haji Lulung dan Sandiaga Uno di acara deklarasi DPW PPP DKI putaran kedua Pilkada DKI 2017 lalu. (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Perseteruan Partai Gerindra dan PKS dalam memperebutkan posisi Wakil Gubernur DKI Jakarta kian memanas. Masing-masing partai tetap ngotot dan merasa paling berhak mendampingi Gubernur DKI Anies Baswedan.

Menanggapi hal ini, tokoh Betawi, Haji Hartono menyebut, kegaduhan tersebut sangatlah tidak elok karena dipertontonkan ke publik.

Dia pun meminta agar 'perang komentar' soal kursi DKI-2 tidak berlarut-larut dan harus segera disudahi.

Hartono menyatakan, kebuntuan komunikasi Gerindra dan PKS jangan sampai merusak hubungan baik kedua Parpol yang sudah terbangun sejak lama. Sehingga perlu dicarikan solusi yang bisa diterima semua pihak.

"Ribut-ribut kursi Wagub DKI harus segera diakhiri. Mungkin salah satunya adalah dengan mencari figur alternatif diluar kedua Parpol," kata Hartono kepada wartawan, Jakarta, Senin(27/8/2018).

Sebab, menurut dia, mustahil bagi Gubernur DKI Anies mengakomodasi keinginan Gerindra-PKS yang sama-sama menolak mengalah untuk mendapatkan kursi Wagub.

Hartono menjelaskan, banyak figur dan tokoh yang ikut berkeringat dalam pemenangan Anies-Sandi pada Pilkada DKI 2017 lalu. Salah satunya adalah mantan Ketua DPW PPP DKI Jakarta Abraham 'Lulung' Lunggana.

"Saya kira, sosok Haji Lulung mungkin bisa menjadi alternatif atas kebuntuan Gerindra dan PKS. Dia juga sangat menguasai persoalan Jakarta dan memiliki banyak pendukung," terang mantan Ketua DPP PPP kubu Djan Faridz itu.

Diketahui, pada Pilkada DKI 2017 lalu, Wakil Ketua DPRD DKI yang akrab disapa Haji Lulung itu termasuk tokoh yang paling bekerja keras mengantarkan Anies-Sandi berkantor di Balai Kota DKI.

Saat itu, kata Hartono, sikap politik yang berbeda dengan Parpolnya membuat Haji Lulung disimbolkan sebagai lawan politik petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang saat itu sedang kuat-kuatnya.

"Haji Lulung adalah ketua DPW PPP DKI Jakarta yang dipecat oleh DPP PPP baik Djan Faridz dan Romahurmuzy (Romy), karena menolak keputusan PPP yang mendukung petahana Ahok-Djarot," kenang Hartono.

Haji Lulung, lanjutnya, juga satu-satunya tokoh Betawi yang getol dan berani terang-terangan melawan Ahok lantaran kebijakannya selama memimpin Pemprov DKI dinilai kerap merugikan masyarakat Jakarta.

"Dia (Haji Lulung) adalah tokoh Betawi, dan dikenal sebagai musuh bebuyutan Ahok, bahkan sejak awal Ahok berkuasa. Dia adalah simbol perlawanan rakyat Jakarta," ungkapnya.

Karenanya, melihat rekam jejak sebagai politisi senior di DKI yang sudah lama malang melintang di legislatif Kebon Sirih, Hartono memandang, Haji Lulung patut diperhitungkan menggantikan Sandi untuk mendampingi Anies Baswedan.

"Konsistensi perjuangan Haji Lulung sudah teruji. Dengan segala resiko dia tatap bekerja keras demi membantu memenangkan Anies-Sandi. Hingga akhirnya harus dipecat sekalipun," tambah dia.

Diketahui, dalam beberapa pekan terakhir, setidaknya ada dua nama terkuat yang digadang-gadang pantas menggantikan Sandiaga uno, yakni Ketua DPD DKI Gerindra Mohamad Taufik serta Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera. (Alf)

tag: #partai-gerindra  #haji-lulung  #pks  #dki-jakarta  #pemprov-dki  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Jakarta Lainnya
Jakarta

Imigrasi Jadi Motor Ekonomi, Lapas Fokus Kemandirian

Oleh Redaksi Teropongsenayan
pada hari Minggu, 29 Mar 2026
JAKARTA – Staf Khusus Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Abdullah Rasyid menegaskan bahwa arah kebijakan kementerian saat ini tidak lagi semata berorientasi pada fungsi administratif, ...
Jakarta

INDONESIA DAN KEPEMIMPINAN DUNIA: DIMULAI DARI DALAM

Dunia hari ini sedang gelisah. Konflik geopolitik meningkat, ketegangan energi mengguncang ekonomi global, dan rivalitas kekuatan besar semakin terbuka. Dalam situasi seperti ini, banyak yang ...