Jakarta

Pemprov DKI Jakarta Himbau Masyarakat Waspadai DBD

Oleh Bara Ilyasa pada hari Minggu, 20 Jan 2019 - 18:56:15 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

45Penyakit-Demam-Berdarah.jpg.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

 

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Peningkatan curah hujan dan perubahan iklim sangat berpengaruh terhadap perkembangan nyamuk yang dapat menularkan virus dengeu dan menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengeu (DBD). 

Oleh karena itu, pada awal tahun 2019 ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta terus melakukan berbagai upaya guna mengantisipasi munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di wilayah Jakarta. 

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta Widyastuti mengatakan, Pemprov DKI Jakarta terus melakukan berbagai tindakan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif di wilayah Jakarta secara keberlanjutan. Diharapkan juga masyarakat mampu terlibat aktif dalam rangka mewaspadai dan mengantisipasi penyakit DBD di Jakarta.

DBD merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh virus dengue yang menginfeksi bagian tubuh dan sistem peredaran darah manusia, serta ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti atau Albopictus Betina yang terinfeksi. 

Gejala DBD biasanya diawali dengan demam, nyeri otot dan sendi, terdapat bintik/ruam merah di kulit disertai mual dan nyeri ulu hati; pada kasus yang parah dapat terjadi pendarahan dan syok yang membahayakan nyawa.

"Kami harap warga juga ikut berpartisipasi aktif melakukan PSN agar lingkungan bebas dari jentik nyamuk. Untuk mencegah wabah DBD, warga bisa menguras tampungan air dan memelihara tanaman yang efektif mengusir nyamuk. Atau membuat lavitrap atau perangkap untuk mencegah nyamuk berkembang biak," ujarnya Minggu (20/1/2019).

Widyastuti juga menyerukan warga agar segera memeriksakan diri ke puskesmas maupun rumah sakit jika mengalami demam tinggi lima hingga tujuh hari. "Kami sudah imbau rumah sakit dan puskesmas untuk menyiapkan SDM dan sarana penunjang," ucapnya.

Widyastuti turut memaparkan, kasus DBD di DKI Jakarta dari Januari hingga 31 Desember 2018 tercatat 2.947 kasus DBD (Insidence Rate/IR = 28,15/100.000penduduk) dengan 2 (dua) kematian (Case Fatality Rate/CFR= 0,07 persen). Pada 2018 diketahui wilayah yang memiliki IR tertinggi di Jakarta adalah Kepulauan Seribu, yakni 41,4/100.000 penduduk, disusul Jakarta Barat sebesar 37,0/100.000penduduk. 

Pada tahun 2017 dilaporkan 3.362 kasus dengan IR sebesar 32,41/100.000 penduduk dan 1 (satu) kematian (CFR= 0,03 persen). Kemudian pada tahun 2016 tercatat 20.432 dengan dengan IR 198,80/100.000 penduduk dan 14 kematian (CFR= 0,07 persen).

Berdasarkan sistem surveilans berbasis web milik Dinkes Provinsi DKI Jakarta, untuk awal tahun 2019, di bulan Januari ini telah tercatat sebanyak 111 kasus DBD (IR = 1/100.000 penduduk). 

Namun, tidak terdapat adanya kematian dari kasus tersebut. Untuk diketahui pula, berdasarkan prediksi probabilitas kesesuaian kelembaban udara (Relative Humidity atau RH) 2019, jika semakin tinggi probabilitas (>75 persen), maka semakin tinggi kemungkinan RH mendukung pertumbuhan nyamuk Aedes Aegepty.

Adapun prediksi probabilitas kesesuaian kelembaban udara pada 5 (lima) wilayah DKI Jakarta adalah sebagai berikut:
Januari 2019:

1. Jakarta Barat: 77 %
2. Jakarta Selatan: 76%
3. Jakarta Timur: 77%
4. Jakarta Pusat: 74%
5. Jakarta Utara: 73%
Februari 2019:
1. Jakarta Timur: 81 %
2. Jakarta Selatan: 80%
3. Jakarta Barat: 79%
4. Jakarta Pusat: 77%
5. Jakarta Utara: 77%
Maret 2019:
1. Jakarta Timur: 81 %
2. Jakarta Selatan: 80%
3. Jakarta Barat: 79%
4. Jakarta Pusat: 77%
5. Jakarta Utara: 77%

Dari data tersebut, Prediksi Angka Insidensi DBD bulan Januari yang masuk dalam kategori waspada terdapat di wilayah Jakarta Barat, Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. Selanjutnya pada bulan Februari dan Maret 2019, seluruh wilayah DKI Jakarta masuk dalam kategori waspada.

DBD diprediksi akan meningkat beberapa hari atau minggu setelah musim hujan pada awal tahun 2019 ini. Untuk itu, perlu meningkatkan kewaspadaan dini, serta tindak lanjut guna mengantisipasi KLB DBD yang melibatkan masyarakat bersama Pemprov DKI Jakarta, dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:

1. Menyebarluaskan informasi kemasyarakat menggunakan media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE); atau media sosial yang ada tentang waspada DBD dan pengendaliannya, yaitu dengan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).

2. Peningkatan sistem kewaspadaan dini Penyakit DBD, melalui penguatan jejaringpelaporan kasus berbasis Rumah Sakit. Saat ini Pemprov Jakarta DKI bekerja sama dengan BMKG dalam pengembangan model prediksi angka DBD berbasis iklim yang dapat diakses melalui http://bmkg.dbd.go.id/. Pemodelan ini merupakan bentuk sistem kewaspadaan dini yang dapat diakses seluruh lapisan masyarakat dalam rangka antisipasi.

3. Melakukan upaya-upaya pengendalian DBD dengan kegiatan sebagai berikut:
* Melakukan peningkatan PSN 3 M (Menguras, Menutup, Mendaur ulang) tempat-tempat perkembangbiakan nyamuk penular DBD plus kegiatan lainnya dalam mengurangi gigitan nyamuk.
* Pemeriksaan jentik oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik) minimal seminggu sekali, biasanya dilaksanakan setiap hari Jumat.
* Peningkatan Peran Jumantik Cilik/Jumantik Sekolah dalam kegiatan PSN baik di sekolah maupun tempat tinggalnya.
* Pemutusan mata rantai penularan dengan fogging fokus pada kasus DBD dengan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) positif.
* Peningkatan kerja sama lintas sektoral khususnya pengelola gedung pada 7 (tujuh) tatanan (pemukiman, perkantoran, tempat-tempat umum, tempat pengelolaan makanan, institusi pendidikan, fasiltas kesehatan, dan fasilitas olah raga) dalam pelaksanaan PSN.

4. Menginstruksikan semua fasiltas pelayanan kesehatan untuk melakukan deteksi dini dan tata laksana kasus DBD sesuai standar.

5. Menghimbau masyarakat untuk berperan aktif dalam Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik (G1R1J) dan melaksanakan PSN 3 M Plus di tempat tinggal masing-masing minimal seminggu sekali, yakni sebagai berikut:

* Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air, seperti bak mandi/wc, tempayan, penampungan air minum, penampungan air buangan AC, ember, drum dan lain-lain.
* Menutup rapat-rapat tempat-tempat penampungan air, seperti gentong air, tempayan, dan lain-lain.
* Memanfaatkan atau mendaurulang barang-barang bekas yang dapat menampung air hujan.
* Menutup lubang-lubang pada pohon, bambu, pagar rumah dengan tanah atau lainnya.
* Mengganti air di vas bunga,tempat minum burung dan sejenisnya.
* Menaburkan larvasida atau memelihara ikan pemakan jentik pada tempat yang sulit dikuras.
* Menanam tanaman yang tidak disuka nyamuk.
* Mengupayakan ventilasi dan pencahayaan yang cukup dalam ruangan.
* Menghindari kebiasaan menggantung pakaian.
* Memakai repellent yang dapat mencegah gigitan nyamuk.

Sedangkan upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta dalam pengendalian DBD, antara lain:

1. Menerbitkan kebijakan sebagai upaya pengendalian DBD diantaranya: Perda No.6 Tahun 2007 tentang pengendalian DBD.

2. Pemantauan ketat melalui sistem surveilans DBD berbasis Web sejak tahun 2005 dengan melibatkan 160 Rumah Sakit dan Puskesmas di seluruh DKI Jakarta, sehingga dapat mempercepat informasi untuk pemutusan mata rantai penularan berdasarkan nama dan alamat.

3. Pelaksanaan PSN dengan metoda Self Jumantik telah dilaksanakan sejak tahun 2010 di DKI Jakarta, yangsl sekarang menjadi program nasional dengan Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik.

4. Bentuk kegiatan pelatihan untuk para Jumantik Sekolah telah dilakukan oleh Puskesmas bekerja sama dengan organisasi profesi maupun Perguruan Tinggi di beberapa sekolah di wilayah Jakarta.

5. Melakukan kajian DBD melalui berbagai disiplin ilmu yang melibatkan Institusi akademi seperti UI, IPB dan Institusi lainnya seperti BMKG dan BPPD untuk mencari strategi terbaik penanggulangan kasus DBD di Jakarta. (Alf)

tag: #pemprov-dki  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement