Jakarta

Sebelum Wafat, di ICU Dayat Sempat Memanggil: Pak Anies, Pak Anies, Cium Saya Pak

Oleh Ferdiansyah pada hari Minggu, 03 Mar 2019 - 19:07:00 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1551614820.jpg

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan saat mencium kening pasien ICU Rumah Sakit Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Rahmat Hidayat. (Sumber foto : Instagram @aniesbaswedan)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan bercerita tentang pertemuannya dengan seorang pasien ICU RS Pasar Minggu, Jakarta, Rahmat Hidayat (15) sebelum dikabarkan meninggal dunia. 

Dayat panggilan akrab Hidayat, belakangan diketahui merupakan seorang Thejakmania, pendukung club sepak bola kebanggaan warga Ibu Kota Persija Jakarta.

Hal tersebut diceritakan Anies Baswedan melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, @aniesbaswedan, Minggu (3/3/2019).

Anies bercerita, pada Kamis (28/2/2019), dirinya mengunjungi ibu sahabatnya yang tengah dirawat di ICU Rumah Sakit Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Saat Anies di ruang ICU itu, ada pasien yang memanggil namanya dengan lantang.

Anies Baswedan memaparkan, pasien itu menggunakan masker oksigen.

Sementara sekujur tubuhnya terkulai lemas karena patah di 2 ruas tulang leher akibat kecelakaan saat perjalanan ke kegiatan taklim.

Anies juga bercerita soal Dayat yang menyanyikan lagu penyemangat Persija hingga bersalawat.

Papar Anies Baswedan, Dayat bahkan sempat meminta untuk dicium olehnya.

Anies menjelaskan, Dayat dioperasi pada Jumat (1/3/2019) kemarin.

Namun, pada Minggu dinihari, Dayat dikabarkan meninggal dunia.

Anies Baswedan memaparkan, dirinya pergi melayat Dayat. Ia pun memanjatkan doa untuk Dayat.

Berikut cerita lengkap Anies Baswedan:

Terdengar suara pasien di bilik sebelah ruang ICU itu memanggil-manggil. 

Kamis malam itu saya menjenguk ibu sahabat kami yg dirawat di ICU RS Pasar Minggu. Antar bilik pasien dipisahkan korden. 

Suaranya keras walau terhalang masker oksigen yg dipakainya. Hingga terdengar seruangan ICU.

Saya hampiri. Matanya menatap tajam. Tangan, kaki dan sekujur badan terkulai tanpa gerak. Dia mengalami patah di 2 ruas tulang lehernya. Tangan dan kaki terlihat lumpuh. Seorang anak muda, 15 tahun, kecelakaan saat perjalanan ke kegiatan taklim. 

“Rahmat Hidayat,” jawabnya, saat saya tanya nama. Dayat, panggilannya, lalu menyanyikan lagu penyemangat Persija. Saya dengar dia juga suka melantunkan shalawat. Dlm sakit yang tak terkira itu, dia masih melantunkan shalawat. 

“Cium saya Pak. Cium saya Pak,” pinta Dayat. Saya tatap dia. Dia senyum dan saya senyum. Lalu saya sentuh keningnya, pundaknya. Perlahan saya cium keningnya. Saya tahan, saya cium lama kening Dayat. Seakan anak sendiri. Sambil membayangkan dia sedang berhadapan perenggang nyawa. Terdengar suara lirihnya, “terima kasih Pak Anies, terima kasih.” Saya senyum dan berdoa.

Saya pamit sambil memastikan operasi bisa segera dilaksanakan. Alhamdulilah Jumat pagi operasi dilakukan. Ikhtiar manusia menyelamatkan anak belia ini. Lebih dari 12 jam dokter & paramedik berjuang di meja operasi. Misi yang tidak ringan.

Allah punya rencana lain. Minggu subuh, sebuah teks masuk di wa mengabarkan Dayat wafat pukul 1 dinihari. 

Pagi tadi saya melayat ke Jagakarsa. Di mushola tempat dia disholatkan, saya temui Ibunya, Ayahnya. Mereka masih terpukul; tak pernah ada dalam bayangannya kalau mereka yg melahirkan dan membesarkan Dayat, kini harus menguburkannya. Pada orangtuanya saya sampaikan, Insya Allah anak ini akan jadi pembuka Jannah bagi mereka, amiin.

Kamis malam di rumah sakit, dia panggil saya dan minta dicium. Saya cium dia seakan anak sendiri. Minggu pagi ini saya datangi lagi Dayat. Kali ini telah jadi jenazah. Husnul khatimah Insya Allah...

Setelah disholatkan, kami angkat jenazahnya. Melepas ke rahmatullah... Ke Rahmatullah semua akan kembali, sebuah pelajaran bagi semua. Kullu Nafsin Dzaa Iqatul Maut...

Al Fathihah...

#ABW (Alf)

tag: #anies-baswedan  #pemprov-dki  #dki-jakarta  

Bagikan Berita ini :