Oleh Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru pada hari Selasa, 15 Sep 2020 - 08:21:59 WIB
Bagikan Berita ini :

Anies Ditonjok, Dikeroyok, dan Ditohok: Anies Semakin Populer

tscom_news_photo_1600132919.jpg
Fuad Bawazier Menteri Keuangan Era Orde Baru (Sumber foto : Istimewa)

Gubernur Anies Baswedan ditonjok dengan tuduhan indek saham anjlok dibawah 5000 gara-gara DKI akan menerapkan kembali PSBB.

Padahal hari berikutnya juga naik lagi sebab naik turunnya indek memang hal yang amat biasa dan cepat berubah-ubah.

Lagi pula selama Pandemi Corona indek juga sempat anjlok dibawah 4000; Bukan cuma itu. Sebenarnya sejak Pandemi indek saham turun, kurs rupiah turun dan modal mengalir keluar negeri (out flow).

Jadi kenapa ribut?
Para buzzer bayaran juga serempak mengeroyok Anies.

Semua yang melihat Anies sebagai saingan atau lawan politik, seperti biasanya ikut menohok Anies dengan PSBB.

Akhirnya jagad raya medsos diramaikan pro-kontra pemberlakuan kembali PSBB di DKI dengan warna menyerang maupun mendukung Anies.

Serangan-serangan tersebut nampaknya semakin meningkatkan popularitas Anies sebagai tokoh yang humanis yang ingin melindungi rakyatnya dari bahaya Covid-19.

Nama Anies menjadi semakin dikenal luas bukan saja di DKI tapi di seluruh Indonesia.

Nampaknya Anies mampu melewati tekanan para pemburu rente dan buzzer orderan, yang terbukti dengan lolos dan diberlakukannya PSBB baru, meski sarat kompromi.

Sejak awal Pandemi Corona, sikap (pejabat) pemerintah memang terbelah dua sesuai mazhabnya, yaitu mazhab yang lebih mementingkan ekonomi dan mazhab yang lebih mementingkan kesehatan.

Umumnya petinggi pemerintah pusat bermazhab ekonomi dengan dukungan kuat kalangan bisnis, sampai sampai ada konglomerat yang bersurat ke Presiden RI untuk mencegah diberlakukannya PSBB di DKI.

Para kepala daerah, dokter, dan tenaga medis umumnya bermazhab kesehatan, mungkin karena mereka lebih dekat dengan rakyat atau masyarakatnya.

Serta melihat rekan sejawat mereka tewas karena Covid-19. Mazhab ini pilih pain duluan, gain belakangan.

Benturan mazhab ekonomi vs kesehatan ini masih berlangsung, lebih lebih bila berhadapan dengan Anies Baswedan yang diasosiasikan sebagai bakal calon presiden 2024.

Karena itu dimensi perselisihan (tokoh tokoh) pusat dengan Gub DKI menjadi semakin tajam sebab selain perbedaan mazhab, juga karena sarat persaingan politik menuju 2024.

Relatip mudah melihat atau membedakan masing masing mereka dari mazhabnya. Kepala daerah umumnya bereaksi dan gelisah ketika yang terinfeksi corona dan atau tewas meningkat.

Sedangkan petinggi pusat gelisah dan bereaksi keras atau kebakaran jenggot ketika indek saham tewas alias anjlok. Padahal pasar saham itu pasar elit, bukan pasar rakyat.

Pengikut mazhab dapat dilihat pula dari sikapnya dalam mengalokasikan APBN Covid. Mana yang lebih besar pos anggaran untuk kesehatan atau untuk ekonomi.

Jelas anggaran untuk menjaga dan memulihkan ekonomi lebih besar dari anggaran untuk memerangi Covid-19. Begitu pula realisasinya. Saya kira secara nasional, pemenangnya adalah “ekonomi”.

Seakan kesehatan hanyalah batu loncatan semata, dan Corona telah dimanfaatkan untuk dijadikan kambing hitam atas banyak kegagalan target
Pemerintah, tetapi dijadikan senjata pamungkas untuk mencapai tujuan tujuan elit termasuk yang bermotip komersil, naikkan deficit anggaran maupun untuk meningkatkan utang negara.

Seperti disebutkan diatas, sejak awal Pandemi telah ada perbedaan mazhab dan ada indikasi bau tidak sedap yang ingin mengulang “sukses menguras uang negara ala BLBI”.

Karena itu mau lock down, PSBB ataupun Herd Immunity, akan tetap saja heboh bersilang paham. Disinilah perlunya leadership yang tegas dan jelas. Dan Presiden sudah menegaskan Kesehatan yang harus diutamakan. Dan Gub DKI sedang melaksanakan kebijakan Presiden tersebut.

Jadi kalau ada yang tidak setuju mestinya Presiden secepatnya menegaskan bahwa nyawa manusia itu lebih utama dari kepentingan bisnis, dengan konsekwensi Bansos dan sebagainya agar dijalankan secara benar dan sungguh-sungguh.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Opini

Mahfud, Riwayatmu Kini

Oleh Ilham Bintang
pada hari Rabu, 21 Okt 2020
Menyedihkan menyaksikan penampilan Prof Mahfud MD dalam program Indonesia Lawyers Club ( ILC-TVOne) Selasa (20/10) malam. Menkopolhukam itu, begitu jauh dia berbicara untuk jarak yang begitu dekat: ...
Opini

Tahun Pertama di Periode Kedua: Warna Berbeda Jokowi

Semua harus akui, bahwa tahun 2020 bukanlah tahun yang mudah. Pemerintah harus menghadapi pandemi Covid-19 dilain sisi juga berjibaku dengan ancaman resesi ekonomi. Diperlukan leadership yang jelas ...