Oleh Marlin Dinamikanto pada hari Selasa, 06 Apr 2021 - 16:12:45 WIB
Bagikan Berita ini :
Mengenang Umbu Landu Paranggi

Antara Platonis Nomaden dan Si Burung Merak

tscom_news_photo_1617700365.jpg
Marlin Dinamikanto (Sumber foto : Ist)

Rendra dan Umbu Landu Paranggi mengajarkan kepada kita: Seni, Sastra atau Puisi adalah gerakan - membangun partisipasi publik ke kawah candradimuka estetika yang mencerdaskan sekaligus membebaskan namun kerap diabaikan oleh penguasa.

Umbu hadir dengan Persada Studi Klub (PSK) yang menampung anak-anak muda peminat literasi, Rendra dengan Bengkel Teater yang membangkitkan gairah anak-anak muda menekuni teater. Keduanya telaten, istiqomah dan sabar menekuni jalan hidupnya hingga akhir menutup mata.

Rendra sebagaimana makhluk panggung lainnya senantiasa tebar pesona, si "Burung Merak" begitulah media massa menjulukinya. Rendra yang memiliki bakat alam berpuisi di usia matangnya begitu tangkas meracik pamflet dengan diksi-diksi puitis, tidak kering dan hambar seperti pamflet pada umumnya. Melainkan puisi-puisi pamflet yang menggerakkan hati kaum terdidik bersikap kritis terhadap Orde Baru.

Potret Pembangunan dalam Puisi - kumpulan puisi yang ditulisnya - menjadi sumber inspirasi mahasiswa yang bersikap kritis kepada keadaan di sekitarnya. Rendra tidak menolak kapitalisme, tapi menolak dieksploitasi untuk mendongkrak oplah media massa. Maka dengan tegas Rendra memasang tarif setiap diwawancara - kecuali tentu saja wartawannya dianggap sudah in group dengannya.

Sikap itu bertolak belakang dengan Umbu yang dalam percintaan cenderung platonis dan menghindari kerumunan. Eko Tunas menyebutnya sebagai "bohemian sejati" karena menisbikan ruang dan waktu. Kendati julukan Presiden Malioboro melekat kepadanya namun Umbu sebangsa "burung liar" yang tidak bisa dijinakkan oleh Sangkar Emas. Maka, meskipun menyandang sebutan Presiden Malioboro dia tidak peduli dengan itu. Kalau mau pergi ya pergi saja. Tidak vested interest dengan apa pun yang melekat padanya.

Umbu - berdasarkan searching bacaan yang baru saja saya lakukan - termasuk sosok yang sulit ditemui. Dia sering menolak dipanggungkan - misal menjadi narasumber acara sastra. Kebanyakan pertemuan yang diunggah fotonya oleh berbagai kalangan dengan sosok yang namanya sudah saya kenal sejak SMP ini bersifat informal. Padahal Umbu sangat dihormati oleh manusia-manusia panggung seperti Emha Ainun Nadjib yang telah menganggapnya sebagai guru. Tapi dia tetap bergelap-gelap dalam terang di sepanjang hidupnya.

Umbu memang mengenakan topi, jaket dan syal - tampilan khas penyair. Tapi dalam sekejap menghilang. Penyair-penyair muda, bahkan para akademisi sastra dari berbagai negara yang ingin bertemu dengannya tidak mudah. Beberapa di antaranya setia setiap hari Sabtu menyambangi kantor Bali Pos - karena biasanya Umbu yang memegang desk Sastra datang di hari Sabtu - dan itu pun belum tentu ada. Tidak satu pun yang tahu alamat rumah Umbu. Paling tidak berdasarkan searcingan saya baru saja.

Di era gadget sekarang dia tetap mengambil jalan sunyi. Misal rindu dengan seseorang - misal dengan Sutardji Calzoum Bachri - manusia unik lainnya yang ditahbiskan sebagai Presiden Penyair - dia cukup mengatakan dengan orang terdekatnya yang memegang gadget. Orang terdekat ini yang menghubungi Tardji yang kemudian gadgetnya diserahkan ke Umbu agar kedua sosok ini saling bicara. Benar kata Eko Tunas, Umbu memang nomaden sejati yang masih hidup hingga 6 April ini.

Tidak ada yang lebih unggul antara Rendra dan Umbu - karena ini bukan perlombaan di antara tokoh yang memiliki kontribusi besar bagi estetika yang membebaskan. Yang jelas keduanya menempatkan estetika sebagai gerakan untuk menemukan fitrah kita sebagai manusia yang semanusia-manusianya. Keduanya akan tetap dikenang oleh yang masih hidup sebagai sosok yang luar biasa. Selamat jalan Umbu Landu Paranggi. Rendra telah menunggumu. Dan saya yakin itu

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: I Nyoman Parta
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Adies Kadir
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ahmad Najib Qodratullah
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Banner Idul Fitri 1442H: Ali Wongso Sinaga
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Opini

Puasa, Langkah Awal Memulihkan Perekonomian

Oleh Ichsanuddin Noorsy
pada hari Minggu, 09 Mei 2021
Bulan Ramadhan memberikan pembelajaran bahwa kehidupan harus ditekuni dengan kejujuran, kebersahajaan dan kepatutan (tidak serakah), nir persepsi, serta nafsu yang harus dikendalikan. Harus jujur ...
Opini

Menuju Perubahan Bangsa Secara Demokratis

Banyak hal yang harus dikerjakan bila ingin membangun demokrasi yang sehat khususnya dalam kaitan dengan Pilpres langsung dan Pemilu. Karena umum sudah tahu bahwa Pilpres/ Pemilu diduga diatur oleh ...