Pengamat Politik Sebut Koalisi Adil Makmur Potensi Kandas

Oleh Fitriani pada hari Minggu, 09 Jun 2019 - 09:40:02 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1560048002.jpeg

(Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Pengamat Politik Universitas Telkom Dedi Kurnia Syah mencermati adanya kemungkinan koalisi Adil Makmur kandas, hal tersebut menurutnya mengemuka seiring dengan manuver komunikasi politik yang dilakukan oleh Partai Demokrat (PD). 

Terlebih dengan adanya pertemuan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) ke kediaman ketua umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Dengan konsep politik presidensil, memungkinkan Parpol menarik diri dari koalisi, dan menentukan ulang hendak berada di kubu oposisi atau pemerintah, itu normatif dan sah saja. Tetapi, politik dengan konsep apapun, seharusnya etika itu tetap mengemuka," ujar Dedi, Kepada TeropongSenayan, saat berbincang melalui sambungan telfon, pada Minggu (09/6/2019).

Membaca pergerakan Demokrat, Doktor Diplomasi Politik dan Kajian Media menilai, partai besutan SBY tersebut sedang berupaya menyeberang ke kubu petahana, hal ini ia sebut sebagai bentuk penyelematan kepentingan partai.

"Demokrat sadar jika perolehan suara tidak menguntungkan, sehingga jalan oportunisnya adalah dengan mendekat ke pemerintah, paling tidak AHY sudah terlanjur memutus karir militer, tidak ada pilihan lain kecuali membangun karir politik, dan menjadi oposisi bukan pilihan bagus baginya," katanya.

Dedi memgingatkan, bahwa SBY sejak awal tidak benar-benar berada di kubu Prabowo Subianto, keputusannya mendukung Prabowo hanya karena tidak diterima oleh Megawati sebagai pengambil keputusan di kubu Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

"Kita masih ingat SBY pernah sampaikan, bahwa hubungannya dalam kondisi sulit dengan ketua umum PDIP, itulah mengapa ia tidak melabuhkan dukungan ke koalisi petahana, artinya ia berada di kubu Prabowo karena memang tertolak di petahana sejak awal, dan sekarang mulai terbangun generasi baru, AHY," bebernya.

Hemat Dedi, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Demokrasi dan Partai Politik (PSDPP), Demokrat lebih diuntungkan ketika bergabung dengan pemerintah, itu juga yang membuat Demokrat terkesan bertahan di koalisi Adil Makmur semata hanya menunggu kepastian siapa yang akan memenangi persidangan di Mahkamah Konstitusi.

"Demokrat rasa-rasanya tidak punya darah oposisi, sementara ini AHY lakukan pendekatan tanpa harus keluar koalisi, karena masih menunggu hasil persidangan di MK. Begitu pemenang diketahui, sangat mungkin saat itulah keputusan keluar koalisi atau tidak akan diambil," pungkasnya. (Bara)

tag: #pilpres-2019  #pemilu-2019  #prabowo-subianto  

Bagikan Berita ini :