Bamsoet: Golkar Harus Rangkul Semua Golongan

Oleh mandra pradipta pada hari Minggu, 04 Agu 2019 - 22:06:10 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1564931170.jpg

Bambang Soesatyo (Bamsoet) (Sumber foto : ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Calon Ketua Umum Partai Golkar Bambang Soesatyo (Bamsoet) menyatakan, setelah melihat perolehan suara yang tidak menggembirakan pada Pemilu 2019, Partai Golkar harus melakukan konsolidasi guna membangun kekuatan kembalai. Caranya, dengan merangkul semua golongan atau komunitas.

Selain untuk kepentingan masa depan partai, akumulasi semua sumber kekuatan nasional itu diperlukan untuk membentengi Pancasila, dan merawat serta memperkokoh persatuan-kesatuan bangsa.  

Di masa lalu, Sekber Golkar berhasil mengakumulasi kekuatan yang bersumber dari ratusan organisasi. Selanjutnya dikelompokan dalam tujuh Kelompok Induk Organisasi (KINO), antara lain Kosgoro, Soksi dan MKGR plus sejumlah organisasi kepemudaan dan keagamaan.

"Catatan singkat tentang peran strategis Golkar di masa lalu ini perlu dikedepankan lagi. Hal ini agar semua unsur di dalam keluarga besar Golkar paham betapa bangsa dan negara sangat membutuhkan partai ini," kata Bamsoet di Jakarta, Minggu (4/8/2019).

"Golkar adalah penjaga dan pengamal Pancasila serta UUD 1945. Golkar pun terbukti mampu menjalankan perannya sebagai perekat keberagaman bangsa. Golkar menjadi kekuatan politik yang tak terpisahkan dari eksistensi bangsa dan negara," tambahnya.

Maka, lanjut Bamsoet, karena panggilan sejarah pula, takdir itu harus diaktualisasikan lagi karena sudah menjadi kehendak zaman. Termasuk menyatukan kembali berbagai kekuatan yang lama terserak itu menjadi satu kekuatan penuh, termasuk para purnawirawan dan keluarga TNI/Polri plus Satkar Ulama, MDI dan Al Hidaiyah yang selama ini jalan sendiri-sendiri.

Untuk era terkini, ungkap Bamsoet, golongan dan kelompok dimaksud tentu saja ada di dalam generasi milenial.

Jika Golkar ingin melakukan pendekatan kepada mereka, tentu saja pola pendekatannya berbeda dengan pola yang dulu digunakan oleh para perancang Sekber Golkar.

"Tantangannya bisa disebut sama, yakni menjaga dan mengamankan Pancasila serta UUD 1945, tetapi cara mengkomunikasikan dan cara merangkul mereka tentu harus disesuaikan gaya kehidupan masa kini," ujarnya.

Selama tahun politik 2019, bisa terbaca dengan cukup jelas aspirasi generasi milenial yang menginginkan kekuatan nasional menjaga dan mengamankan Pancasila, UUD 1945 dan keutuhan NKRI.

"Dari aspirasi itulah lahir tagar Pancasila Harga Mati dan ‘NKRI Harga Mati. Namun, aspirasi itu lebih sering disampaikan generasi milenial kepada TNI dan Polri, bukan kepada partai Politik, termasuk Golkar," ungkapnya.

Dengan begitu, urai Bamsoet, ada peluang bagi semua kekuatan nasionalis seperti Golkar untuk melakukan pendekatan, serta mengeksplorasi kekuatan generasi milenial sebagai simpatisan karena alasan kesamaan aspirasi.

"Zaman terus berubah, sehingga muncul pula tuntutan untuk mengubah pola pendekatan kepada komunitas untuk menjadi simpatisan partai politik," imbuhnya.(plt)
    
    
    

tag: #bamsoet  #partai-golkar  

Bagikan Berita ini :