Berita

Mengurai Akar Papua: Mereka Mempersoalkan Keadilan Pembangunan

Oleh Ferdiansyah pada hari Kamis, 05 Sep 2019 - 16:35:54 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1567676154.jpg

Ketua Papua Centre di UKI, DR. Antie Soleman (dua dari kanan) dalam “Seminar Politik Papua” di Balai Sarwono, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019). (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) –Melihat kondisi Papua sama seperti memandangi rimbunnya hutan belantara yang menghiasi bumi paling Timur dari Indonesia itu. Ada beragam jenis kepentingan, masalah, namun itulah yang menjadi pesona keindahan dari tanah Kasuari.

Berbagai problematika tentang Papua tersebut mengemuka dalam “Seminar Politik Papua” di Balai Sarwono, Jakarta Selatan, Kamis (5/9/2019).

Dalam kesempatan ini, hadir pembicara yang kompeten dan punya kapabilitas mumpuni untuk membedah setiap segi Papua dalam kaitannya dengan Indonesia. 

DR. Antie Soleman selaku Ketua Papua Centre di UKI menjelaskan problematik dasar pembangunan nasional di Papua. 

“Terdapat perkembangan generasi baru Papua dan tiga dasawarsa terakhir,” kata Antie. 

Oleh karena itu, lanjutnya, terjadi kebangkitan visi baru kaum muda Papua sebagai akibat dari diaspora Papua di luar Papua yang menempuh pendidikan di berbagai daerah dan luar negeri. 

“Mereka kemudian mempersoalkan keadilan pembangunan, nasib masyarakat asli Papua dan sisi kesejahteraan di tanah Papua, yang pada dasarnya tanah yang subur dan indah,” kata dosen hubungan internasional UKI itu. 

Lebih lanjut, menurut Antie, Etno nasionalisme tersebut, membawa implikasi pada berbagai tuntutan HAM, kekerasan masa lalu dan capaian pembangunan. 

Dalam kesempatan yang sama, pengajar Fakultas Hukum UKI, Prof John Pieris yang pernah menjadi ketua Komite VI Dewan Perwakilan Daerah (DPD) bidang kebijakan politik dan perimbangan keuangan pusat-daerah, menegaskan bahwa masih ada banyak masalah dalam penerapan otonomi daerah di Papua. 

“Otonomi dan desentralisasi kewenangan pusat yang belum maksimal, berakibat pada munculnya konflik di Papua,” kata Prof John Pieris. 

Bila masalah tersebut belum dipahami dan mendapat solusi, menurutnya akan terus terjadi konflik pusat-daerah, khususnya di tanah Papua. 

Sementara itu, pakar pertahanan dan diplomasi, DR. Connie Rahakundini Bakrie menyinggung soal pentingnya pendekatan pertahanan dan keamanan.

“Berbagai tuntutan keamanan dan stabilitas Papua ini, memang punya dampak tinggi terhadap instabilitas politik dan keamanan dalam serta luar negeri,” kata Connie.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar pemerintah segera mencari dan menerapkan strategi pendekatan baru terhadap Papua. Menurutnya, harus ada pendekatan ‘outside the box’ yang lebih konkrit dan berani bersama negara-negara strategis yang belum tersentuh dalam sebuah kerjasama pertahanan, keamanan, intelejen dan juga kepemudaan. 

“Perlu langkah strategis mengefektifkan peran Indonesia utamanya TNI, Polri, BAIS dan BIN serta kementerian pertahanan dan kementrian luar negeri bagi terwujudnya diplomasi total terhadap Papua dalam kerangka Strategic Defence, Security And Intelligence Partnership Kawasan Indo-Pacific & Indonesia Afrika, khususnya peran 55 negara-negara Afrika di dalamnya,” papar Connie.

Membahas Papua juga tidak bisa dilepaskan dari pembangunan dan capaian kinerja pemerintah di sana. 

Dalam konteks tersebut, Ketua Dewan Pembina Santri Milenial Centre (SiMaC), Syauqi Ma"ruf Amin, berpendapat bahwa perlu ada kesinambungan dan kejelasan rancangan pembangunan di Papua. 

“Khususnya pada periode kedua di bawah Presiden Jokowi dan Ma"ruf Amin nanti. Harus ada peran yang lebih luas untuk masyarakat madani dan dunia usaha di Papua,” kata Syauqi.

Peneliti kawasan Afrika dari Universitas Indonesia, Christophe Dorigné-Thomson, Ph.D (cand.) pada kesempatan diskusi itu juga menjelaskan hubungan Indonesia dan Afrika dalam konteks jaringan dan kerja sama antara keduanya. 

Sebagai akademisi asal Eropa, Christophe melihat adanya indikasi praktik kolonisasi dan dekolonisasi yang belakangan ini cenderung masih diwarnai cara “kolonisasi” baru terhadap Negara-negara berkembang, khususnya dalam kasus Papua dan wilayah lain di Asia.

Diskusi ini digelar oleh Pusat Kajian Otonomi Daerah (Puska Otoda) Program Studi Ilmu Politik FISIPol Universitas Kristen Indonesia. (Alf)

tag: #papua  #tnipolri  

Bagikan Berita ini :