Berita
Oleh Jihan Nadia pada hari Jumat, 20 Sep 2019 - 21:40:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Ketua DPR Pertimbangkan Tunda Pengesahan RUU KUHP

tscom_news_photo_1568987479.JPG
Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mempertimbangkan permintaan pemerintah untuk menunda pengesahan RUU KUHP di Sidang Paripurna yang telah dijadwalkan pada Selasa (24/9) mendatang.

Penundaan dilakukan selain mendengarkan permintaan pemerintah juga sebagai bukti bahwa DPR mendengar dan memperhatikan kehendak masyarakat yang menghendaki RUU KUHP ditunda pengesahannya.

"Semua fraksi di DPR RI saya yakin akan mempunyai sikap yang sama jika sudah berbicara kepentingan rakyat. Saya sendiri sudah berbicara dengan beberapa pimpinan fraksi di DPR untuk membahas penundaan itu pada Senin (23/9) mendatang dalam rapat Badan Musyawarah atau Bamus. Seperti diketahui pengambilan keputusan tingkat I sudah dilakukan kemarin di DPR bersama-sama pemerintah yang diwakili Menteri Hukum dan HAM. Tinggal ketok palu di paripurna untuk pengesahan yang rencananya akan digelar pada Selasa 24 September," ujar Bamsoet saat membukaDiskusi Publik "Merawat Golkar sebagai Rumah Besar Kebangsaan", di Jakarta, Jumat (20/9/19).

Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini menuturkan, jika pada rapat Bamus tanggal 23 September mendatang para pimpinan fraksi setuju menunda, maka selanjutnya akan dilanjutkan dengan pembahasan kembali pasal-pasal yang dianggap masyarakat masih kontroversial.

"Sebagai pimpinan DPR Kemarin kamu sudah menerima masukan dari perwakilan adik-adik mahasiswa yang berdemo di depan DPR terkait penyempurnaan RUU KUHP. Masih ada beberapa pasal yang dinilai kontroversial. Ini akan kita bahas lagi dan hasilnya akan disosialisasikan ke masyarakat," kata Bamsoet.

Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila ini menuturkan, beberapa pasal yang dianggap kontroversial antara lainpasal yang mengatur soal kumpul kebo, kebebasan pers, dan penghinaan terhadap kepala negara.

"Memang tidak mudah kita berjuang untuk memiliki buku induk atau Kitab Undang-undang Hukum Pidana sendiri menggantikan KUHP kolonial peninggalan Belanda. Saya bisa merasakan tekanannya yang luar biasa. Dalam pembahasan RUU KUHP ini terus terang DPR RI juga mendapat tekanan yang kuat terkait masalah LGBT. Setidaknya ada 14 perwakilan negara-negara Eropa termasuk negara besar tetangga kita. Saya tidak perlu sebutkan namanya, tidak ingin adanya pelarangan LGBT dalam KUHP kita. Mereka menginginkan LGBT tumbuh subur di Indonesia. Sikap DPR tegas, kita penentang terdepan untuk LGBT berkembang di Indonesia," tegas Bamsoet.

Namun, legislator Dapil VII Jawa Tengah yang meliputi Kabupaten Purbalingga, Banjarnegara dan Kebumen inibelum dapat memastikan sebelum rapat Bamus Senin mendatang, apakah pengesahan RUU KUHP akan dilaksanakan pada DPR periode saat ini atau selanjutnya.Sebab, hal itu akan dibahas kembali dalam rapat konsultasi pimpinan DPR dengan pihak pemerintah atau presiden.

"DPR akan berusaha sejalan dengan keinginan Pemerintah dan Masyarakat untuk menunda pengesahan RUU KUHP. Bagaimana kelanjutan pengesahan RUU ini kita akan lihat kembali, karena kita akan bawa ini ke Rapat Bamus DPR hari Senin depan untuk kita minta masukan dari pimpinan fraksi melalui rapat Bamus," pungkas Bamsoet. (Alf)

tag: #dpr  #bamsoet  #revisi-kuhp  #jokowi  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Berita Lainnya
Berita

Pilkada 2020, Golkar Akan Hadirkan Calon Kepala Daerah Yang Dicintai Masyarakat

Oleh Sahlan Ake
pada hari Jumat, 05 Jun 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Partai Golkar menargetkan 60 persen kemenangan dalam Pemilihan Kepala Daerah 2020 ini. Ketua DPP Partai Golkar Bobby Adhityo Rizaldi mengatakan, untuk mencapai tujuan ...
Berita

IPW Sebut Kekerasan Polisi di AS Bisa Terjadi di Indonesia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Indonesian Police Watch (IPW) memandang kerusuhan yang terjadi di Amerika Serikat sebagai respons kekerasan polisi terhadap kulit hitam bisa terjadi di Indonesia. Benang ...