Oleh Ferdiansyah pada hari Jumat, 11 Okt 2019 - 13:33:57 WIB
Bagikan Berita ini :

Tanggapi Penusukan Wiranto, Luhut Minta Isu Radikalisme Tak Dibesar-Besarkan

tscom_news_photo_1570775637.jpg
Luhut (kanan) (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa isu soal radikalisme tidak perlu dibesar-besarkan.

"Radikalisme itu bisa ada di setiap negara, tidak ada negara yang bisa kebal dengan paham ini," kata Luhut di Jakarta, mengomentari adanya penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang.

Luhut mencontohkan paham radikalisme di negara-negara lain tindakannya lebih mengerikan serta berdampak besar bagi negara. Sedangkan upaya penusukan kepada Menko Polhukam Wiranto hanya aksi kecil yang menurutnya memang menunjukkan paham itu masih ada.

"Satu insiden kemarin tidak akan berdampak besar, saya percaya aparat mampu meredam itu," ujar Luhut.

Diinformasikan dari Mabes Polri, salah satu pelaku penusukan terhadap Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto yang bernama Syahril Alamsyah alias Abu Rara diduga terpapar paham radikal.

"Terduga pelaku saat ini sudah diamankan di Polres Pandeglang dan masih diperiksa oleh Polres Pandeglang, Polda Banten dan dibantu Densus 88. Diduga pelaku terpapar radikal ISIS," tutur Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Pol Dedi Prasetyo.

Afiliasi pelaku dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) di Indonesia masih didalami. Dari hasil keterangan sementara, motif pelaku yang terpapar paham radikal akan menyerang pejabat publik yang melakukan penegakan hukum terhadap kelompok itu.

Syahril Alamsyah berasal dari Medan dan durasi berada di Banten masih didalami oleh kepolisian. Bahkan, pelaku telah mempersiapkan senjata tajam saat berada di acara yang digelar di Universitas Mathlaul Anwar itu.

Dedi Prasetyo membantah penusukan menunjukkan terjadi kecolongan dalam pengamanan Wiranto karena interaksi masyarakat dengan pejabat publik saat di daerah merupakan kegiatan yang wajar.

"Bersalaman, disapa, itu hal yang biasa. Barikade untuk untuk pengawalan tetap melekat. Ada pamkat dekat beliau, pamwal juga ada. Standar operasional prosedur pengawalan dan pengamanan pejabat publik melekat," tutur Dedi Prasetyo.

Polisi telah menangkap dua pelaku penusuk Wiranto, selain Syahril Alamsyah, juga seorang perempuan bernama Fitri Andriana asal Brebes. (Alf)

tag: #luhut-binsar-pandjaitan  #wiranto  #polri  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Hari Santri Nasional, Faisol Riza: Harus Manfaatkan Peluang Omnibus Law

Oleh Bachtiar
pada hari Kamis, 22 Okt 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Ketua Komisi VI DPR RI Faisol Riza, berharap agar para santri dapat memanfaatkan peluang dengan adanya Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja.  Hal tersebut ...
Berita

Rakernas SP BPJAMSOSTEK 2020: Sinergi Karyawan dan Manajemen adalah Kunci

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Dewan Pimpinan Pusat Serikat Pekerja (DPP SP) BPJS Ketenagakerjaan melaksanakan kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) SP BPJS Ketenagakerjaan pada Kamis-Jumat, ...