Oleh Ferdiansyah pada hari Kamis, 28 Nov 2019 - 18:11:50 WIB
Bagikan Berita ini :

Berkata Kasar ke Agnes Mo, Begini Alasan Emmy Hafild

tscom_news_photo_1574939510.jpg
Emmy Hafild (Sumber foto : istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Postingan aktivitis perempuan Emmy Hafild pada fanepage akun Facebook tentang Agnes Mo mendapat tanggapan pro-kontra netizen. Namun Emmy Hafild yang juga mantan Direktur Walhi itu, mengaku memiliki alasan yang kuat atas postingan kata-kata kasar kepada Agnes Mo.

"Saya tidak akan mengijinkan seorang celebriti yang punya follower jutaan, meracuni kita semua dengan pernyataan bahwa dia berbeda karena darah keturunan dan agamanya. Itu adalah rasisme." Demikian alasan Emmy Hafild yang ditulis dalam fanepage akun Facebook tertanggal 27 November 2019.

Sebelumnya, pada postingan tertanggal 26 November 2019, Emmy Hafild menulis dengan judul "Pergi ke neraka Agnes Mo! Anda Tidak Layak!" Pada alinea terakhir, dia menulis : "Jika Anda merasa bahwa Anda bukan milik Indonesia, maka Anda menyangkal sejarah yang Anda bawa. Anda tidak layak untuk menjadi orang Indonesia, pergi ke neraka!"

Postingan inilah yang memicu pro-kontra. Tak hanya di laman Facebook, tulisan Emmy Hafild yang juga tersebar di sejumlah grup WhatsApp juga mendapat tanggapan pro-kontra. Untuk mengetahui lebih lengkap alasannya, berikut ini tulisan lengkap Emmy Hafild.

Kenapa Saya Bereaksi Keras Terhadap Agnes Monica?

Ya, saya tetap panggil dia Agnes Monica, karena itulah nama yang saya tahu sebagai salah satu penyanyi dari Trio penyanyi kanak-kanak kemudian menjadi penyanyi remaja dan kemudian terkenal di dunia seperti sekarang. Banyak orang yang bertanya, kenapa saya menggunakan kata-kata kasar? Malah ada yang mengatakan dilaman publik itu tidak pantas kata-kata kasar digunakan.

Saya ingin menyatakan bahwa saya tidak menyesal menuliskan itu di laman ini. Ini laman pribadi saya dan saya sangat marah pada celebriti yang merasa berbeda dari orang Indonesia lain karena darahnya dan agamanya berbeda dan dia Indonesia karena cuma numpang lahir di sini. Ini seseorang yang mempunyai follower jutaan dan itu disampaikan pada saat kita sedang berjuang keras meyakinkan kalangan mayoritas yang dia sebutkan itu, bahwa kita semua Indonesia, apapun darah keturunan dan agama kita.

Saya ini perempuan Indonesia, Muslim, aktivis, yang berpeluh dan berkeringat, canvassing, jalan dari rumah ke rumah, di berbagai tempat di Jakarta, agar seorang Gubernur keturunan Tionghoa dipilih kembali karena dia memang bagus. Jangan lihat keturunannya, dia lebih Indonesia dari orang Indonesia umumnya. Saya menghadapi langsung penghinaan orang, disoraki di pasar, diusir dari perumahan, dan dimaki-maki di social media, dalam upaya Gubernur itu terpilih kembali.

Saya ikut menyebarluaskan hasil penelitian Hera Sudoyo dan Eijkmans Institute yang membuktikan bahwa tidak ada yang namanya darah atau genetik Indonesia. Kita ini campur aduk, ada Afrika, ada Arab, ada India, ada Melanesia, ada Asia Timur, Eropa, semua ada di dalam genetik orang Indonesia. Ben Anderson almarhum juga mengatakan, bangsa itu adalah sebuah imajinasi, dari orang-orang yang hidup bersama di dalam kumpulan dan mempunyai cita-cita bersama. Itulah Indonesia.

Saya bersama berbagai kelompok lain sedang berusaha mempersatukan lagi masyarakat kita yang terpecah belah akibat Pilkada DKI dan pilpres. Bersama Lingkar Perempuan Nusantara, saya ikut mendirikan berbagai kelompok pengajian akar rumput untuk membawa misi Islam Rahmatan lil Alamin.

Saya mendorong dan membantu anak-anak muda pengangguran, drop out sekolah, untuk mempunyai keahlian dan pendapatan. Mereka ini adalah yang rentan dimasuki kelompok radikal, dan di kecamatan saya kelompok radikal ini banyak...

Saya marah sekali pada seorang celebriti yang saya ikuti perkembangannya, dari kecil sampai dewasa , dan mengagumi keuletannya, yang mengatakan (begini kira-kira terjemahan bebas bhs Indonesianya): “ saya ini kan cuma numpang lahir di Indonesia, darah saya nggak ada Indonesia-Indonesianya, campur aduk, ada Jerman, Jepang, China, dan agama saya Kristen di masyarakat yang mayoritas Islam, saya merasa berbeda, merasa rentan ( vulnerability...), walaupun “mereka” menerima saya, dsb dsb. Dikatakan dalam bahasa Inggeris dengan aksen Amerika yang sangat kental.

Persepsi saya pertama, dia itu gegar budaya.. dia ingin menyatakan, bahwa dia lebih nyaman sebagai orang Amerika... daripada jadi orang Indonesia, walaupun menurut dia mereka (orang Indonesia) menerima dia, gitu nggak sih? Tetapi setelah mendalami lagi, saya marah.., dia (I ) memisahkan diri dari orang Indonesia (they), karena darahnya dan agamanya. Terus terang saya naik darah.

Teman-teman yang mengkritik saya, mengatakan, Agnes Monica punya hak untuk menyatakan perasaannya, bagaimana rapuhnya dia sebagai orang berbeda, sebagai minoritas. Saya langsung membandingkan dengan banyak teman saya, bule, Arab, India, Chinese, yang juga sama seperti Agnes, tapi justru mengatakan sebaliknya: saya berbeda fisik tapi saya Indonesia. Shanti Shamdasani, misalnya, wajahnya India berbahasa India, beragama Hindu, sekolah di Gandhi School, lebih lancar berbahasa Inggeris daripada berbahasa Indonesia. tapi dia merasa orang Indonesia luar dalam. Ahok, berbahasa Hokkien di keluarganya, tapi tetap Indonesia. Nadiem Makarim, asli Arab, dan besar bersekolah di luar negeri, tetap merasa Indonesia. Ibunya, Atika Makarim, asli Arab, tapi orang Indonesia. Menantu ipar saya, Arab asli, medok Indonesia.

Agnes Monica lahir dan bersekolah di Indonesia (Pelita Harapan?) baru ke Amerika untuk mengejar karir, dan merasa berbeda dengan mereka yang orang Indonesia. Itu perbedaannya dengan banyak orang Indonesia lain yang berlatar belakang sama. Dia mengambil jarak dengan Indonesia dengan memakai kata-kata I and they, dalam wawancara itu. Kalimat-kalimat itu, ibarat nila setitik merusak susu sebelanga. Apapun yang diucapkannya sebelum dan sesudahnya menjadi hilang makna.

Saya marah, karena ini sangat menganggu upaya-upaya kita untuk mempersatukan kembali dan menyamakan persepsi kita sebagai bangsa Indonesia setelah tercabik-cabik peristiwa politik. Menurut Ben Anderson, kita perlu membangun kembali imajinasi bersama yang namanya Indonesia.
Ini adalah kerja berat, setelah masuknya pemikiran-pemikiran lain yang merusak imajinasi bersama yang kita bangun pada saat kita melawan kolonialisme.

Saya tidak akan mengijinkan seorang celebriti yang punya follower jutaan, meracuni kita semua dengan pernyataan bahwa dia berbeda karena darah keturunan dan agamanya. Itu adalah rasisme. Maka pukulan yang sangat keras harus diberikan kepada Agnes Monica: go to hell! You are not worth it as Indonesian.

Emmy Hafild
Jakarta 27 November 2019.

(ris)

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Lainnya
Berita

Pasar Inpres Pasar Minggu Terbakar 392 Kios Hangus

Oleh Rihad
pada hari Selasa, 13 Apr 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Pasar Inpres Pasar Minggu terbakar. Api baru bisa dipadamkan pada Selasa (13/4) dini hari sekitar pukul 00:58 WIB. Kepala Sektor IX Pasar Minggu Sudin Gulkarmat Jaksel Moch ...
Berita

Jawa Tengah Siapkan Skenario Arus Mudik Nekad yang Bisa Capai 4,6 Juta Orang

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo menyatakan keputusan pelarangan mudik dari pemerintah pusat sudah tepat. Sebab, dari pengalaman sebelumnya selalu terjadi lonjakan ...