Opini

Komik Lagi Ya Pak Jokowi

Oleh M Rizal Fadillah pada hari Jumat, 14 Feb 2020 - 19:11:46 WIB

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1581682306.jpg

Rizal Fadillah (Sumber foto : Ist)

Kita masih ingat, Oktober 2018 dalam acara Plenary Meeting IMF di Nusa Dua Bali, Presiden Jokowi mengangkat cerita komik yang difilmkan "Game of Thrones".  Kini, di Februari 2020, saat pidato di Australia, Jokowi lagi-lagi menyinggung komik Marvel yang juga diangkat ke layar lebar "Avengers: Endgame". Dua duanya tentu fiksi dan hanya "game" saja. Menyaksikan kejadian itu, ada empat hal yang menyesakkan dada.

Pertama, memutar ulang ucapan Presiden yang mengecam studi banding ke luar negeri. Dengan nada melecehkan buat apa studi banding ke luar negeri, semua ada dalam HP Android. Wajahnya serius. Eh kini Pak Jokowi studi banding ke Australia. Jokowi pun melihat kawasan Mount Ainslie Canberra yang sebenarnya ada di Android juga.

Kedua, Presiden dipermalukan oleh sambutan anggota Parlemen Australia Ketua Partai Hijau Adam Brandt, pendukung Organisasi Papua Merdeka (OPM). Jokowi menunduk di hadapan Brandt yang berjas mengenakan pin Bintang Kejora. Bereskan dulu urusan Papua. Martabat bangsa direndahkan.

Ketiga, Veronica Koman dan aktivis HAM berhasil menerobos untuk menyerahkan data tahanan dan korban Papua kepada Presiden Jokowi. Veronica Koman adalah buron Polda Jawa Timur soal provokasi di Asrama Mahasiswa Papua Surabaya yang berujung kerusuhan di Papua. 

Keempat, ya itulah pidato dengan membawa komik dan film fiksi Avengers. Pak Presiden film itu bercerita tentang heronya orang Amerika bukan Australia. Ada Captain America, Iron Man, Ant Man, Thor dan lainnya. Siapa pembuat teks pidato tersebut? Mungkin komikus.

Pemindahan ibukota yang dijadikan obyek studi banding tentu tak sebanding. Canberra sudah menjadi pilihan sebagai ibukota negara sejak tahun 1908 menengahi persaingan Sydney dan Melbourne. Canberra adalah kota ke 8 terbesar di Australia. Secara formal dibentuk tahun 1913 setelah Australian Capital Territory (ACT) berdiri. 

Jauh dengan Penajam yang harus dibangun dari nol. Daerah berlubang bekas tambang yang terkena banjir juga. Dipilih baru baru saja dan munculnya juga "ujug-ujug".  Yang diributkan awal adalah Palangkaraya Kalteng. Canberra dibangun dengan siap biaya. Sedang Penajam makin mempertajam hutang. Tanah juga dikuasai taipan yang mesti dibebaskan. 466 triliun mesti disiapkan untuk biaya pemindahan. 

Di tengah pertumbuhan ekonomi stagnan 5 % bahkan kini kurang, maka ambisi memindahkan ibukota bisa jadi bagai cerita komik. Ujung nantinya rakyat yang menanggung beban berat. Pak Jokowi sudah tidak jadi Presiden lagi bahkan mungkin sudah tiada. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. 

Perlu dikaji secara serius oleh para pemimpin negara, apakah pemindahan dan pembangunan ibukota baru itu prioritas dengan tingkat urgensi tinggi? Jika semua manut tanpa pertimbangan matang, maka Presiden dan para pemimpin negara itu memang bacaannya cuma komik. Kelas komik. Maaf ya Pak.

*) Pemerhati Politik

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #jokowi  
Advertisement

Bagikan Berita ini :

Aplikasi TeropongSenayan.com

Advertisement

JakOne Samsat

Advertisement