Zoom

Fakta dan Data Kerusakan Ekonomi Cina Akibat Virus Corona

Oleh Rihad pada hari Thursday, 19 Mar 2020 - 12:00:00 WIB

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1584589783.jpg

Suasana mendung di China (Sumber foto : Pixabay)

JÀKARTA (TEROPONGSENAYAN) -Cina dikenal sebagai negara motor ekonomi dunia selama beberapa dekade terakhir. Tetapi akibat wabah virus Corona, Cina harus menghadapi situasi baru, pertumbuhan ekonomi  merosot tajam. Meski Cina sudah mengumumkan berhasil mengatasi wabah Corona, tapi sangat sulit mengembalikan masa keemasannya dalam waktu singkat. 

Karena besarnya skala ekonomi Cina maka kemerosotan pertumbuhan mereka akan mempengaruhi negara lain termasuk Indonesia. 

Dampak negatif wabah virus Corona tidak diperkirakan sebelumnya. Biro Statistik Nasional Cina melaporkan produksi sektor industri turun 13,5 persen pada Januari dan Februari (year to year). penurunan ini lebih tajam daripada yang diperkirakan oleh para ahli dan angka terlemah sejak Januari 1990, menurut Reuters. Penjualan ritel  juga anjlok 20,5 persen dari tahun sebelumnya.

"Ini adalah tingkat kontraksi yang belum pernah terjadi sebelumnya jauh melebihi dampak dari krisis keuangan global," tulis Derek Holt, kepala ekonomi pasar modal di Bank of Nova Scotia. 

Bahkan ketika pabrik meningkatkan produksi lagi, sekarang ada pertanyaan tentang apakah masyarakat masih punya daya beli yang cukup atau tidak.

Produksi industri, penjualan ritel, dan investasi mencatatkan penurunan dua digit rekor selama dua bulan pertama tahun ini, dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019.

Kemungkinan seluruh ekonomi Tiongkok mungkin menyusut pada kuartal pertama tahun ini. Ini akan menjadi kontraksi pertama sejak 1976, ketika Cina dilanda gempa bumi Tangshan yang dahsyat serta keributan dari kematian Mao, yang Revolusi Kebudayaannya membuat perekonomian berantakan selama satu dekade.

Dampak Lockdown 

Ketika virus itu mulai menyebar dari Wuhan pada Januari, Cina bergerak agresif untuk melakukan lockdown di  negara itu, memaksakan tindakan keras dan menyakitkan pada pergerakan orang dan barang. Akibatnya perekonomian terhenti.

Tapi menghentikan ekonomi terbukti lebih mudah daripada memulai kembali. Kini dunia khawatir  ekonomi Cina masih tersendat untuk sementara waktu. Bisa jadi berbulan-bulan untuk pulih kembali.

Menurut statistik resmi, sebagian besar pabrik di Cina telah dibuka kembali, setelah ditutup sejak liburan tahun baru di bulan Januari. Tetapi mereka beroperasi pada 60 persen dari kapasitas mereka. Masalah berikutnya, pabrik kekurangan pekerja. Daya beli masyarakat juga belum pulih.

Puluhan juta migran yang bekerja di pabrik masih terjebak di karantina atau di kota asalnya. Kabar baiknya, Senin lalu sudah ada empat bus yang membawa pekerja telah diizinkan meninggalkan provinsi Hubei, tempat wabah pertama kali muncul.

Konsumen Cina perlu waktu untuk mulai berbelanja lagi. Di Shanghai, jumlah pembeli masih jauh di bawah normal, dari restoran murah dan toko-toko murah hingga toko-toko mewah Nanjing Road, jalan perbelanjaan paling terkenal di Cina.

"Masalah pasokan dapat diperbaiki, ini membuat orang kembali" untuk bekerja dari pedesaan, kata Ker Gibbs, presiden Kamar Dagang Amerika di Shanghai. "Masalah permintaan jauh  lebih sulit."

Pengaruh Negatif  Bagi Negara Lain 

Dampak ekonomi dari coronavirus melebar dengan cepat ke luar Cina, dengan konsekuensi besar bagi ekonomi global pada paruh pertama tahun 2020.  Demikian laporan Oxford Economics menyebutkan. 

Pabrik-pabrik Cina mengandalkan minyak dan komoditas lain dari negara-negara seperti Angola, Sierra Leone, dan Chili. Pembangunan gedung baru, jalan dan jalur kereta api di Cina  tergantung pada baja yang sering dibuat dari bijih besi yang ditambang di Brasil atau Australia.

"Guncangan permintaan mungkin menyebar ke Asia Timur dan kemudian ke Eropa dan AS. Dunia mungkin menghadapi bencana," kata Cao Heping, seorang ekonom Universitas Peking.

Pasar saham Australia, yang menjual bijih besi dalam jumlah besar ke Cina, telah menjadi salah satu korban beberapa hari terakhir. Pembuat mobil Jerman sangat bergantung pada pasar Cina dan telah melihat penjualan mulai  layu. Produsen energi Timur Tengah menghadapi masalah, karena Cina telah menolak pengiriman gas alam cair dan mengurangi konsumsi minyak.

Cina sendiri masih yakin bisa mengatasi masalah. Pada konferensi pers pada hari Senin (16)3/2020) di Beijing, pejabat pemerintah  menyatakan ekonomi Cina tidak seburuk yang diperkirakan pengamat. "Dampak epidemi ini bersifat jangka pendek, eksternal dan dapat dikendalikan," kata Mao Shengyong, salah satu direktur di Biro Statistik Nasional.

Mr Mao mengatakan bahwa terlalu dini untuk memperkirakan apakah ekonomi Cina telah menyusut pada kuartal pertama. Menurit dia, ekonomi biasanya memang melambat pada Januari dan Februari setelah Tahun Baru Cina.

Data yang dikeluarkan pemerintah mencatat  adanya gangguan ekonomi. Penjualan ritel anjlok 20,5 persen dari tahun lalu karena banyak toko tetap tutup jauh di luar liburan akhir tahun baru Imlek. .

Produksi industri turun 13,5 persen bulan lalu dibandingkan dengan Februari tahun lalu. Banyak pabrik yang tidak dibuka kembali sampai akhir Februari.

Diharapkan ekonomi bangkit kembali dengan cepat ketika provinsi mengalirkan uang ke proyek infrastruktur musim semi ini untuk memulai kembali pertumbuhan ekonomi.

Epidemi sekarang tampaknya mendorong pemerintah untuk menyesuaikan tujuan ekonominya. Pemimpin utama Cina, Xi Jinping, telah menyerukan penghapusan kemiskinan ekstrem pada akhir tahun ini, serta menggandakan output ekonomi antara 2010 dan 2020.

Para ekonom tidak yakin berapa banyak pertumbuhan yang dibutuhkan Cina untuk mencapai target tahun ini - perkiraan biasanya berada di antara 5 dan 6 persen.

Pada hari Senin (16/3/2020), Fitch Solutions merevisi turun perkiraan pertumbuhan ekonomi Cina tahun ini menjadi 5,2 persen. Sebagai motor ekonomi dunia, penurunan pertumbuhan akan berdampak kepada ekonomi negara lain, termasuk Indonesia. 

tag: #corona  
Advertisement

Bagikan Berita ini :

Aplikasi TeropongSenayan.com

Advertisement

JakOne Samsat

Advertisement