Oleh Rihad pada hari Monday, 23 Mar 2020 - 08:00:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Mengapa Korban Virus Corona di Rusia Hanya Sedikit?

tscom_news_photo_1584919130.jpg
Rusia (Sumber foto : Pixabay)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Ketika COVID-19 memakan banyak korban di seluruh dunia, Rusia tidak terlihat heboh. Di seluruh dunia, Corona telah menewaskan lebih dari 13.000 orang. Tapi sejauh ini di Rusia baru ada 307 kasus infeksi coronavirus yang dilaporkan dan hanya satu kematian per 22 Maret 2020. Apa yang dilakukan Rusia untuk menghadang virus yang datang dari China ini?

Seperti dilaporkan oleh Russia Beyond, Rusia telah membatasi lalu lintas udara dengan Eropa dan Asia secara drastis. Sementara, warga Rusia yang kembali ke Tanah Air setelah berlibur langsung diisolasi di rumah selama 14 hari.

Pada Kamis (12/3), Perdana Menteri Rusia Mikhail Mishustin mengatakan, “ancaman penyebaran corona di Rusia bisa diminimalisasi,” karena pemerintah mengambil langkah-langkah pencegahan tepat pada waktunya.

Teropong Juga:

Bagaimana Cara Korsel Menurunkan Jumlah Korban Tanpa Lockdown

Rusia adalah salah satu negara pertama yang membatasi penerbangan reguler ke Tiongkok. Pada Februari lalu, pemerintah mulai mengevakuasi warga Rusia dari Wuhan dan kota-kota lain di Negeri Tirai Bambu dengan penerbangan khusus.

Kini, jumlah penerbangan ke Tiongkok, Korea Selatan, dan Iran telah menurun drastis. Aeroflot kini hanya melayani penerbangan harian ke Beijing, Shanghai, dan Seoul, serta penerbangan mingguan ke Teheran. Maskapai lain pun untuk sementara waktu menghentikan penerbangan ke negara-negara tersebut. Sejak 13 Maret, Rusia membatasi penerbangan ke Jerman, Italia, Spanyol, dan Prancis, kecuali ke sejumlah kota besar di negara-negara itu, seperti Roma, Berlin, München, Frankfurt, Paris, Madrid, dan Barcelona. Penerbangan ke kota-kota ini hanya dilayani melalui Terminal F Bandara Sheremetyevo, Moskow.

Tak hanya pesawat, Kereta Api Rusia (RZhD) juga menangguhkan perjalanan ke Nice (Prancis), Beijing (Tiongkok), Ulan Bator (Mongolia), dan Tumangang (Korea Utara). Namun, kereta ke Berlin dan Paris masih beroperasi seperti biasa.

Industri pariwisata Rusia juga menghadapi krisis. Sejak 13 Maret, Rusia telah berhenti mengeluarkan visa turis kepada warga Italia. Sebelumnya, Rusia telah menghentikan penerbitan visa turis kepada warga Tiongkok dan Iran.

Pada saat yang sama, turis-turis asing yang hendak mengunjungi Rusia pun akhirnya membatalkan rencana mereka. Menurut Asosiasi Operator Tur Rusia, kerugian akibat pembatalan tour dari Maret hingga Mei mencapai lebih dari 500 juta rubel (sekitar Rp102,5 miliar). Wisatawan-wisatawan asing bahkan telah menghentikan pemesanan tur ke Rusia untuk musim panas mendatang.

Akibat wabah COVID-19, sejumlah acara tahunan, seperti Forum Ekonomi Internasional Sankt Peterburg (SPIEF) yang seharusnya digelar pada Juni mendatang, dibatalkan. Sementara, Moskow bahkan melarang semua acara yang melibatkan lebih dari 5.000 orang.

Pemerintah memang belum memerintahkan untuk lockdown seluruh negeri. Baik sekolah, universitas, maupun taman kanak-kanak tetap dibuka dan berfungsi seperti biasa. Hingga kini, hanya kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler, seperti perjalanan ke museum dan pameran, yang dibatalkan. Meski begitu, semua siswa harus mengukur suhu tubuh mereka setiap hari. Siapa pun yang sakit harus segera pulang.

Wabah corona juga berdampak pada sektor bisnis. Banyak perusahaan telah membatalkan perjalanan bisnis ke luar negeri dan melakukan sejumlah langkah tambahan untuk mensterilisasi kantor mereka. Beberapa perusahaan bahkan mengizinkan karyawan mereka untuk bekerja dari rumah. Yang jelas, orang-orang terus diingatkan untuk mencuci tangan sesering mungkin, tidak menyentuh wajah, terutama mata, dan menghindari transportasi umum selama jam-jam sibuk.

Warga Rusia yang pulang dari Tiongkok, Italia, Prancis, dan negara-negara lain yang terkena COVID-19 harus melaporkan diri dan berada di rumah selama 14 hari. Mereka akan mendapatkan surat resmi dari dokter yang diantarkan langsung ke rumah melalui kurir.

Karyawan mana pun membutuhkan surat ini untuk membuktikan kepada atasan mereka bahwa mereka tak bisa masuk kantor. Jika demam atau batuk, orang itu perlu segera memanggil ambulans. Kalau hasil tes menunjukkan bahwa ia terinfeksi corona, orang itu akan segera dikirim ke rumah sakit penyakit menular.

Ada yang Ragu

Meski mengaku sukses menangani Corona, ada yang skeptis dengan data yang disodorkan Pemerintah. Reuters(19/3/2020) melaporkan bahwa terjadi peningkatan tajam dalam kasus pneumonia di ibukota Rusia, Moskow, yang merupakan salah satu gejala virus Corona.

Muncul kekhawatiran tentang keakuratan data virus corona resmi yang masih jauh lebih rendah daripada banyak negara Eropa.

Beberapa dokter mempertanyakan seberapa jauh data resmi mencerminkan kenyataan. Kasus-kasus pneumonia di Moskow, pusat transportasi terbesar Rusia dan sebuah kota dengan populasi sekitar 13 juta, telah semakin meningkatkan keraguan. "Saya merasa mereka (pihak berwenang) berbohong kepada kami," kata Anastasia Vasilyeva, kepala serikat buruh Aliansi Dokter Rusia. Namun pemerintah mengatakan statistiknya akurat, dan Presiden Vladimir Putin mengeluh bahwa Rusia menjadi sasaran berita palsu untuk menebar kepanikan.

tag: #corona  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Zoom

Kematian Pasien COVID-19 di Jatim Tinggi Sekali, Apa Masalahnya?

Oleh Rihad
pada hari Sabtu, 11 Jul 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Persentase kematian pasien positif di Jawa Timur ternyata lebih tinggi dibanding rata-rata dunia. "Persentase kematian pasien COVID-19 yang meninggal dunia di luar ...
Zoom

Wawancara dengan Rocky Gerung: Isu Reshuffle Sampai Kartu Prakerja

TEROPONGSENAYAN --Kepemimpinan Presiden Joko Widodo di periode kedua tak semulus dengan kepemimpinannya di periode pertama. Belum genap setahun menjabat, beragam masalah muncul di tahun ...