Bisnis
Oleh Rihad pada hari Wednesday, 06 Mei 2020 - 20:59:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Wow, Akibat PSBB, Belanja Masyarakat Berkurang Rp. 5.000 Triliun

tscom_news_photo_1588771794.jpg
Supermarket (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) Bukan rahasia lagi, andalan pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat. Masalahnya, kebiasaan belanja mendadak merosot karena adanya pembatasan sosial berskala besar. Menjelang Idul Fitri biasanya masyarakat berbondong-bondong membeli baju dan berbagai keperluan lain. Kali ini kebiasaan itu tidak ada dan laju ekonomi seakan mandek. Buktinya, konsumsi masyarakat selama kuartal I 2020 hanya tumbuh 2,84 persen (yoy). Angka ini merosot jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,02 persen (yoy).

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, konsumsi tersebut akan semakin merosot di kuartal kedua tahun ini. Apalagi pemberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kini diperluas ke wilayah lainnya, tak hanya di Jabodetabek.

"Kuartal II kita harus antisipasi lagi jatuhnya, karena kan PSBB-nya sudah meluas, yang kemarin itu masih di Jabodetabek itu langsung turun 2,84 persen, itu jauh dari perkiraan awal," ujar Sri Mulyani saat rapat kerja virtual dengan Komisi XI DPR RI, Rabu (6/5).

Konsumsi rumah tangga memiliki andil 58,14 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) selama kuartal I 2020. Sri Mulyani melanjutkan, nilai dari konsumsi rumah tangga mencapai Rp 9.000 triliun dan 55 persennya berada di Pulau Jawa. Lebih dari Rp 5.000 triliun konsumsi rumah tangga yang hilang.

"Orang kalau di rumah cuma makan saja, tidak keluar transport. Kalau tahun lalu kan konsumsi itu Rp 9.000 triliun lebih, Pulau Jawa 55 persen, lebih dari Rp 5.000 triliun," jelasnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Nathan Kacaribu, mengatakan dalam kondisi pembatasan aktivitas, masyarakat mengurangi konsumsi barang-barang kebutuhan non pokok. "Sinyal pelemahan konsumsi ini juga terlihat pada menurunnya indeks keyakinan konsumen dan penjualan eceran pada Maret 2020 sebesar -5,4 persen (yoy)," ujar Febrio dalam keterangannya, Selasa (5/5).

Febrio menuturkan, merosotnya kinerja konsumsi masyarakat yang tajam di kuartal pertama 2020 juga memperkuat urgensi percepatan penyaluran bantuan sosial (bansos) di kuartal II 2020.

Sementara di sisi produksi, program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) untuk UMKM menjadi sangat kritikal dan perlu dilaksanakan secepatnya.

"Dengan bantalan pada kedua sisi ini, pemerintah berharap membantu meringankan tekanan terhadap rumah tangga dan pelaku usaha, terutama Ultra Mikro dan UMKM," jelasnya.

tag: #pertumbuhan-ekonomi-indonesia  #psbb  #sri-mulyani  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DOMPET DHUAFA KURBAN 2026
advertisement
IDUL ADHA 2026 M LOKOT N
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Hari Buruh dan Ujian Kepemimpinan Nasional: Saatnya Akselerasi Reformasi Ketenagakerjaan

Oleh Sahlan Ake
pada hari Jumat, 01 Mei 2026
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Momentum peringatan Hari Buruh Internasional pada hari ini 1 Mei 2026 mesti dimaknai lebih dari sekadar seremoni tahunan atau ruang artikulasi tuntutan rutin pekerja. ...
Bisnis

Bamsoet : Pelatihan Berkualitas Kunci Daya Saing Pekerja Migran Indonesia

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)— Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 dan Ketua Dewan Pengawas Perkumpulan Lembaga Pelatihan Bahasa Jepang Indonesia (PELBAJINDO), Bambang Soesatyo, menuturkan ...