Oleh Sahlan Ake pada hari Selasa, 16 Jun 2020 - 12:03:42 WIB
Bagikan Berita ini :

Fraksi Demokrat Minta Pemerintah Jalankan Kebijakan Pro Growth, Pro Poor, Pro Job di Tengah Ekonomi Masa Transisi

tscom_news_photo_1592283822.jpg
Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Ketua Fraksi Partai Demokrat Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) meminta pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat atau keep buying strategy ditengah situasi pandemi Covid-19.

Untuk itu, F-Demokrat berharap agar pemerintah mengambil langkah-langkah kebijakan yang pro pertumbuhan (pro growth), pro pengentasan kemiskinan (pro poor) dan pro penciptaan lapangan kerja (pro job).

Selian itu, dalam pandangan Fraksi Demokrat yang disampaikan dalam Rapat Paripurna DPR RI kemarin, Senin 15 Juni 2020, Ibas menyampaikan bahwa asumsi pertumbuhan ekonomi sebesar 4,5 – 5,5 persen terlalu optimistis. "Terutama saat Covid menyebabkan banyak pengangguran yang nota bene akan mengganggu konsumsi," kata Ibas dalam keterangan tertulisnya, Selasa (16/6/2020).

Anggota DPR RI dari Dapil Jawa Timur VII menyatakan bahwa target inflasi sebesar 2,0-4,0 persen dan asumsi nilai tukar pada kisaran Rp.14.900–Rp.15.300 per dolar cukup realistis dan harus tetap dijaga.

Selanjutnya, ia juga menyatakan bahwa tingkat tingkat suku bunga SBN 10 tahun pada kisaran 6,67–9,56 persen cukup realistis ditengah situasi ekonomi global yang melambat dan penuh dengan resiko.

Selain itu, Ibas menyoroti perlunya perbaikan tata kelola hulu migas demi memenuhi asumsi lifting yang sering kali tidak tercapai, tingginya target penerimaan dalam bentuk rasio penerimaan pajak tahun 2021, dan perlunya kajian anggaran K/L non-esensial.

Mas Ibas juga mengingatkan bahwa jika defisit anggaran menembus angka 6 persen PDB, dikhawatirkan akan menimbulkan krisis susulan dengan kondisi yang lebih berat dari krisis moneter 1998 dan krisis Subprime Mortgage di era SBY tahun 2008 lalu.

"Hal ini akan membebani rakyat, terutama mengingat proses pemulihan dari krisis 1998 memakan waktu lebih dari 5 tahun," tegasnya.

Lebih jauh lagi, beliau juga mengingatkan pemerintah bahwa reformasi ekonomi untuk keluar dari Middle Income Trap membutuhkan investasi yang tinggi.

"Kebijakan penanganan MIT membutuhkan investasi manusia yang insentif dan memakan biaya yang cukup besar demi merubah perekonomian Indonesia dari resource-based economy menjadi knowledge-based economy. Di tengah krisis Covid-19 ini, fokus kebijakan baiknya ada pada penyelamatan nyawa dan sektor perekonomian," ucap Wakil Ketua Banggar DPR.

tag: #fraksi-demokrat  #ibas  #susilo-bambang-yudhoyono-sby  #jokowi  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement