Oleh Rihad pada hari Selasa, 19 Jan 2021 - 05:39:21 WIB
Bagikan Berita ini :

Pakar Andalas: Mutasi Virus Bisa Terjadi di Indonesia Jika Penyebaran Meluas

tscom_news_photo_1611009561.jpg
Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang Provinsi Sumatera Barat Defriman Djafri (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia Cabang Provinsi Sumatera Barat Defriman Djafri mengatakan kemungkinan mutasi virus corona SARS-CoV-2 sangat besar ketika makin banyak kasus positif Covid-19 muncul.

Defriman menuturkan mutasi jenis strain baru dari virus Corona, SARS-CoV-2, penyebab COVID-19 menjadi ancaman nyata di mana telah dilaporkan di 18 negara, dan lima negara di antaranya terdapat di Asia yang mencakup Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan dan Yordania.

"Mutasi virus dengan varian baru ini berkaitan dengan jumlah kasus. Makin banyak peningkatan jumlah kasus, kemungkinan terjadi mutasi sangat besar peluangnya," kata Defriman, Senin (18/1).

Defriman yang juga Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Andalas menuturkan faktor perilaku inang (host) dari virus tersebut memengaruhi mutasi dari virus. Inang dalam hal ini adalah manusia. Jika penularan banyak terjadi, maka sangat mungkin terjadi adanya varian baru ke depan. Namun, jika penularan rendah maka kemungkinan terjadi mutasi sangat kecil.

" Jadi memang perilaku manusia itu sendiri, dan tidak tertutup kemungkinan juga hewan (yang selama ini dilaporkan adalah kelelawar). Jadi ibarat tempat numpang hidup, jika penularan tinggi, tentu virus berpindah-pindah atau menular di tempat inang yang baru. Dengan genetik yang berbeda-beda, ini juga akan menghasilkan varian-varian baru," ujarnya.

Umum Terjadi

Menurut ahli mikorbiologi dan patologi Daniel Rhoads, mutasi virus corona ini memang hal yang mengkhawatirkan namun umum terjadi.

"Virus bermutasi secara konstan. Hal ini terutama berlaku untuk virus yang mengandung RNA sebagai materi genetiknya, seperti virus corona dan virus influenza," ucapnya.

Semua virus terdiri dari satu bundel materi genetik (baik DNA atau RNA) yang dilapisi oleh lapisan pelindung protein. Proses penggandaan diri yang dilakukan virus sesekali bisa terjadi kesalahan. Hal inilah yang menyebabkan mutasi.

Sejauh ini, para ahli mengatakan tidak ada bukti yang jelas bahwa varian virus baru ini lebih mematikan, menyebabkan penyakit yang lebih parah, atau akan membuat vaksin COVID-19 tidak efektif.

Namun, ada kemungkinan hal itu bisa berubah seiring waktu karena mutasi adalah perubahan kecil dalam susunan genetik virus yang terakumulasi dari waktu ke waktu.

tag: #covid-19  
Bagikan Berita ini :
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Soroti KLB Demokrat Sumut, Djoko Suyanto: Moeldoko Berikan Contoh yang Kurang Baik

Oleh Bachtiar
pada hari Selasa, 09 Mar 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Eks Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Indonesia (Menko Polhukam) Djoko Suyanto, mengaku prihatin dengan apa yang menimpa partai Demokrat pimpinan Agus ...
Berita

Pihak Polisi Beberkan Bukti - Bukti ke Sidang Praperadilan Habib Rizieq

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Sidang gugatan praperadilan yang dilayangkan oleh eks pentolan FPI, Habib Rizieq Shihab kembali digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Rencananya, sidang akan ...