Oleh Ariful Hakim pada hari Senin, 22 Mar 2021 - 10:40:30 WIB
Bagikan Berita ini :

Penulis Mesir Terkenal Nawal El Saadawi Meninggal Dunia

tscom_news_photo_1616384430.jpg
Nawal El Saadawi (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Dunia literasi kehilangan sosok penting. Penulis Mesir tingkat dunia, Nawal El Saadawi, meninggal dunia di usia 89 tahun. Hal itu dikabarkan oleh putrinya, Mona Helmy, Minggu (21/3/21) seperti dilansir Al Jazeera.com. Semasa hidupnya, penulis produktif Mesir ini adalah seorang feminis terkemuka yang merevolusi diskusi tentang gender dalam masyarakat yang sangat konservatif.

Lahir di desa Kafir Tahla pada 1931, El Saadawi menjadi terkenal pada tahun 1972 dengan bukunya yang melanggar tabu,Womenand Sex, tetapi ia menjadi terkenal dengan novelnya yang diterjemahkan secara luasWomen at Point Zeropada 1975.

Dengan lebih dari 55 buku atas namanya, dia dipenjara sebentar oleh mendiang Presiden Anwar Sadat dan juga dikutuk oleh al-Azhar, otoritas Muslim Sunni tertinggi di Mesir.

“Saya menulis dalam bahasa Arab.Semua buku saya dalam bahasa Arab dan kemudian diterjemahkan.Peran saya adalah mengubah orang-orang saya,” kata El Saadawi, yang menghadapi banyak ancaman pembunuhan sepanjang hidupnya.

Tentang masalahnya dengan pemerintah, El Saadawi pernah berkata: “Sadat memasukkan saya ke dalam penjara bersama dengan beberapa pria lainnya. Di bawah [Presiden lama Hosni] Mubarak, saya telah masuk daftar abu-abu," katanya menegaskan.

"Meskipun tidak ada perintah resmi yang melarang saya, saya tidak dapat tampil di media nasional--ini adalah aturan tidak tertulis. Tidak ada kesempatan bagi orang-orang seperti saya untuk didengarkan oleh orang-orang,”katanya.

El Saadawi memiliki ciri feminisme yang blak-blakan. Dia menulis tentang topik kontroversial termasuk poligami dan sunat pada wanita - di antaranya - yang membuatnya mendapatkan banyak kritik sebagai pengagum di wilayah tersebut.

Dia pernah berkata: "Ketika Anda mengkritik budaya Anda sendiri, ada orang-orang dalam budaya Anda yang menentang Anda, yang berkata: "Jangan tunjukkan kain kotor kami di luar." Saya tidak percaya pada teori ini. Saya berbicara satu bahasa, baik di dalam negeri atau di luar. Saya harus jujur ​​pada diri saya sendiri. "

Pada 1993, El Saadawi pindah ke Carolina Utara di Amerika Serikat untuk Universitas Duke di mana dia menjadi penulis di departemen bahasa Asia dan Afrika selama tiga tahun.

Dia kembali ke Mesir dan pada 2005 dan mencalonkan diri sebagai presiden. Namun, dia kemudian membatalkan pencalonannya setelah menuduh pasukan keamanan tidak mengizinkannya mengadakan demonstrasi.

Pada 2011, dia mengambil bagian dalam pemberontakan massal melawan korupsi yang memberantas Mubarak. Buku-bukunya yang memecah jalan dan kritis yang diterbitkan dalam lusinan bahasa juga ditujukan pada feminis Barat, termasuk temannya Gloria Steinem, dan kebijakan yang dianut oleh para kepala negara seperti invasi mantan Presiden AS George W Bush ke Irak dan Afghanistan.

“Kami tidak memiliki feminis lagi. Feminisme bagi saya adalah untuk melawan patriarki dan kelas dan untuk melawan dominasi laki-laki dan dominasi kelas. Kami tidak memisahkan antara penindasan kelas dan penindasan patriarkal," katanya.

Pada 2005, El Saadawi dianugerahi Inana International Prize di Belgia, setahun setelah ia menerima hadiah Utara-Selatan dari Council of Europe. Pada 2020,

MajalahTimemenobatkannya dalam daftar 100 Wanita Tahun Ini.

“Saya bisa menggambarkan hidup saya sebagai kehidupan yang dikhususkan untuk menulis,” ujar El Saadawi, yang meninggalkan seorang putri dan seorang putra.

tag: #meninggal  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Dompet Dhuafa: Sedekah Yatim
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Ragam

Survei Menyebutkan Anak Usia Dini Sudah Aktif di Medsos, Apa Dampaknya?

Oleh Rihad
pada hari Jumat, 16 Apr 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Hasil riset menunjukkan bahwa 87 persen anak-anak di Indonesia sudah dikenalkan media sosial sebelum menginjak usia 13 tahun. Bahkan sebanyak 92 persen anak-anak dari ...
Ragam

Disindir Ade Armando, Ini Jawaban Menohok Atta Halilintar

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)--Momen bulan madu Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah sempat disorot oleh pakar komunikasi Ade Armando. Menurutnya, video kemewahan yang diunggah pasangan muda ...