
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Anggota Komis X DPR RI Fraksi Partai Demokrat, Bramantyo Suwondo, memastikan mendukung apapun yang menjadi keputusan pemerintah dalam menjaga kondisi perekonomian Indonesia di tengah perang antara Iran dengan Israel-Amerika Serikat (AS). Bram begitu ia disapa turut mendukung bilamana pemerintah melakukan penghematan penggunaan BBM di kalangan pemerintah hingga di sektor pendidikan.
Hal itu disampaikan Bram menanggapi usulan pembelajaran jarak jauh (PJJ) sektor pendidikan guna langkah penghematan BBM yang bakal dilakukan awal April 2026. Meskipun pada akhirnya, pemerintah tak jadi atau membatalkan pemberlakuan kebijakan pembelajaran daring tersebut.
“Situasi konflik AS dan Iran memang tidak bisa dianggap enteng akan tetapi tidak perlu panik dengan situasi yang ada, dengan berbagai langkah persiapan dan kebijakan yang tepat dampak negatif kepada ekonomi hasil dari konflik dapat diminimalisir oleh karena itu kami mendukung segala langkah yang diambil pemerintah dalam hal untuk menjaga kondisi perekonomian Indonesia,” tegas Bram kepada Kedai Pena, Kamis, 26 Maret 2026.
Bram mengingatkan, sekalipun berada dalam keadaan darurat, kualitas dari proses belajar mengajar anak-anak di sekolah hingga perkuliahan tidak boleh dikurangi. Bram menyebut, dengan pengalaman yang cukup banyak dari kondisi covid-19 kemarin,
akan banyak kebijakan yang bisa dilakukan untuk memastikan kualitas belajar mengajar.
“Saya yakin banyak kebijakan yang bisa kita lakukan untuk memastikan kualitas belajar mengajar tetap baik walau dilakukan pembelajaran jarak jauh,” imbuh Bram.
Lebih lanjut, Bram mendorong, adanya kolaborasi yang erat antara pihak orang tua, murid dan sekolah untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas di sekolah maupun di rumah. Termasuk apakah nantinya bakal menerapkan PJJ seminggu sekali seperti work from home (WFH) untuk ASN.
“Untuk perihal ini perlu adanya kajian lebih mendalam, bahwa penghematan BBM dengan cara pembelajaran jarak jauh dapat efektif mencapai tujuan penghematan energi tanpa terlalu banyak mengkompromikan kualitas pembelajaran peserta didik,” pungkas Bram.