Oleh Team Redaksi teropongsenayan.com pada hari Jumat, 24 Jul 2026 - 18:55:26 WIB
Bagikan Berita ini :

Manusia dan Kekuasaan: Siapa Mengendalikan Siapa?

tscom_news_photo_1784894126.jpeg
(Sumber foto : )

Sepanjang sejarah peradaban, pertanyaan tentang relasi antara manusia dan kekuasaan tetap menjadi teka-teki filosofis sekaligus tantangan praktis yang tak pernah usai. Di satu sisi, kekuasaan adalah instrumen yang diciptakan manusia untuk mengatur kehidupan kolektif. Di sisi lain, sejarah sering memperlihatkan bagaimana kekuasaan menjelma menjadi entitas otonom yang justru mengendalikan penciptanya. Pertanyaan mendasarnya bukan lagi apakah manusia mampu mengendalikan kekuasaan, melainkan dalam kondisi apa manusia berhasil melakukannya, dan kapan kekuasaan akhirnya mengambil alih kendali.

Untuk menjawabnya, persoalan ini perlu dibedah dalam beberapa lapisan analisis, dari ranah psikologi individu, struktur negara, hingga tatanan global.

---

1. Rasionalitas Negara vs. Rasionalitas Kemanusiaan

Dalam teori hubungan internasional, terdapat dikotomi klasik antara Reason of State (raison d"état) dan moralitas universal. Seorang pemimpin negara, ketika mengambil keputusan, terikat oleh logika survival dan kepentingan nasional. Pertanyaan yang diajukan adalah: "Apa yang paling menguntungkan bagi keamanan dan kekuatan negara saya?" Sementara itu, suara hati nurani manusiawi bertanya: "Berapa banyak penderitaan yang akan ditimbulkan oleh keputusan ini?"

Kedua pertanyaan ini sering kali menghasilkan jawaban yang saling bertentangan. Dalam geopolitik, invasi atau perang sering dibingkai sebagai langkah "rasional" untuk mengamankan akses sumber daya atau jalur perdagangan. Namun, bagi warga sipil yang kehilangan tempat tinggal, rasionalitas negara tersebut terasa sebagai absurditas. Karena itu, tantangan terbesar kepemimpinan dunia adalah menjembatani jurang antara logika kekuasaan dan logika kemanusiaan—sebuah upaya yang membutuhkan lebih dari sekadar kecerdasan analitik.

2. Kecerdasan Tanpa Kebijaksanaan: Bahaya di Puncak Kekuasaan

Kecerdasan (intelligence) memungkinkan seorang pemimpin untuk memenangkan "permainan kekuasaan"—menghitung kekuatan militer, memprediksi pergerakan lawan, dan mengoptimalkan keuntungan taktis. Namun, kebijaksanaan (wisdom) adalah kapasitas yang berbeda; ia mengajarkan kapan permainan itu harus dihentikan.

Pemimpin yang cerdas dapat menghitung jumlah hulu ledak nuklir atau proyeksi pertumbuhan ekonomi pasca-konflik. Pemimpin yang bijaksana, di sisi lain, juga menghitung biaya sosial yang tak terlihat: anak-anak yang kehilangan orang tua, generasi yang hilang akibat trauma perang, serta rusaknya tatanan sosial yang mungkin membutuhkan dekade untuk dipulihkan. Sejarah mencatat bahwa kecerdasan tanpa kebijaksanaan sering kali membawa pada malapetaka, karena ia memisahkan tujuan strategis dari realitas kemanusiaan yang menjadi korban.

3. Keterbatasan Individu dan Perlunya Sistem

Berharap bahwa semua pemimpin dunia akan selalu bijaksana adalah ilusi yang berbahaya. Realisme politik mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya didorong oleh hasrat untuk bertahan dan berkuasa (konsep Homo Homini Lupus). Oleh karena itu, dunia modern membangun institusi sebagai "rem" terhadap kekuasaan absolut: Piagam PBB, hukum humaniter internasional, Mahkamah Internasional, mekanisme diplomasi multilateral, serta peran masyarakat sipil dan media.

Namun, institusi ini memiliki kelemahan struktural. Efektivitasnya sangat bergantung pada kemauan negara-negara besar untuk menghormatinya. Ketika hukum internasional diterapkan secara selektif—ketat untuk negara kecil namun longgar bagi negara adidaya—kredibilitas tatanan dunia tergerus. Kita kembali pada dilema klasik: Quis custodiet ipsos custodes? (Siapa yang mengawasi para pengawas?). Sistem hanya bisa mengendalikan kekuasaan jika para pemain utamanya tunduk pada aturan yang sama.

4. Spiral Eskalasi: Jebakan Thucydides dan Dilema Keamanan

Bahaya terbesar dalam politik global bukan selalu niat jahat, melainkan kesalahan persepsi. Sejarah menunjukkan bahwa perang besar sering terjadi bukan karena semua pihak menginginkannya, melainkan karena:

· Salah baca terhadap niat strategis lawan,
· Informasi intelijen yang cacat,
· Tekanan nasionalisme domestik,
· Atau keyakinan keliru bahwa konflik akan berlangsung singkat.

Fenomena ini dikenal sebagai Dilema Keamanan (Security Dilemma): tindakan defensif suatu negara (misalnya memperkuat pertahanan) dapat dibaca sebagai tindakan ofensif oleh negara lain. Ketika ketakutan bertemu dengan kekuatan militer yang masif, dunia dapat memasuki spiral eskalasi yang sulit dihentikan—seperti yang digambarkan dalam Thucydides Trap, di mana ketegangan antara kekuatan yang sedang bangkit dan kekuatan yang mapan sering berujung pada perang.

5. Era Nuklir: Kebijaksanaan sebagai Kebutuhan Eksistensial

Pada masa lalu, perang menghancurkan kota atau kerajaan. Di era nuklir, perang antara kekuatan besar berpotensi menghancurkan peradaban manusia secara keseluruhan. Di sinilah letak paradoks abad ke-21: semakin besar kemampuan manusia untuk menghancurkan, semakin tinggi tuntutan agar pemimpin mampu menahan diri. Kepemimpinan global saat ini tidak lagi cukup hanya mengandalkan kekuatan militer, ekonomi, atau teknologi; ia juga membutuhkan empati, kepatuhan pada hukum, dan landasan moral yang kuat.

Perkembangan teknologi, terutama Kecerdasan Buatan (AI), menambah kompleksitas. AI mampu memproses informasi dan mengambil keputusan taktis dalam kecepatan supercepat, namun ia tidak memiliki kesadaran moral. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah manusia sendiri sudah cukup bijaksana untuk menentukan bagaimana teknologi sebesar itu digunakan? Ini adalah ujian eksistensial bagi generasi kita.

---

Harapan di Tengah Kekacauan: Kapasitas Manusia untuk Belajar

Meskipun narasi sejarah manusia didominasi oleh peperangan dan penindasan, terdapat bukti empiris tentang kapasitas manusia untuk belajar dari kesalahan. Setelah Perang Dunia II, manusia membangun arsitektur global seperti PBB dan Deklarasi Hak Asasi Manusia. Setelah menyaksikan dampak mengerikan nuklir, lahirlah mekanisme pengendalian senjata dan non-proliferasi. Setelah Perang Dingin, terjadi ekspansi kerja sama ekonomi yang mengubah musuh bebuyutan menjadi mitra dagang.

Artinya, perubahan memang mungkin terjadi. Namun, persoalan krusialnya adalah: apakah perubahan itu terjadi sebelum atau sesudah bencana besar?

Karena itu, definisi "kepemimpinan besar" perlu diredefinisi. Pemimpin besar bukanlah mereka yang hanya mampu memenangkan perang atau memperluas pengaruh. Pemimpin besar adalah mereka yang memiliki kekuatan untuk berperang, namun memilih perdamaian karena memahami bahwa kemenangan tanpa kemanusiaan adalah kekosongan.

Kesimpulan: Ujian Peradaban

Pada akhirnya, ukuran tertinggi sebuah peradaban bukanlah seberapa banyak senjata yang dimilikinya, seberapa luas wilayah yang dikuasainya, atau seberapa canggih teknologinya. Ukuran tertinggi peradaban adalah seberapa mampu manusia menggunakan kekuasaannya tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Dunia saat ini berada di persimpangan jalan. Abad ke-21 bisa menjadi abad pertarungan kekuasaan yang berujung pada kehancuran, atau abad ketika manusia belajar mengelola kekuasaan secara kolektif demi menyelamatkan masa depan spesiesnya. Pilihan ada di tangan kita—dan pilihan itu ditentukan bukan oleh teknologi, bukan oleh senjata, tetapi oleh kualitas kebijaksanaan kolektif kita.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement
Lainnya
Opini

Menyuruh Rakyatnya Sendiri Pindah Negara, Narasi Buruk Seorang Presiden

Oleh Didi Irawadi Syamsuddin, S.H.,LL. M
pada hari Jumat, 24 Jul 2026
Seorang Presiden dipilih bukan untuk menyuruh rakyatnya pergi, melainkan untuk memastikan rakyatnya tetap punya alasan mencintai dan bertahan di negerinya sendiri. Ketika rakyat mengeluhkan harga ...
Opini

Dari Bayi dalam Pelukan Messi ke Pewaris Camp Nou Ketika Sejarah Barcelona Menulis Estafet Dua Generasi

Ada foto yang tampak biasa, tetapi kemudian berubah menjadi bagian dari sejarah. Dalam foto yang kembali ramai dibicarakan hampir dua dekade kemudian, Lionel Messi yang masih sangat muda terlihat ...