Oleh Sahlan Ake pada hari Jumat, 02 Okt 2026 - 18:12:13 WIB
Bagikan Berita ini :

Konsolidasi Lintas Elemen PEMIRA, Muh Ageng Dendy Tegaskan Peran Strategis Pemuda Pecahkan Masalah Bangsa

tscom_news_photo_1790939533.jpg
Pemuda Mahasiswa Indonesia Raya (PEMIRA) menggelar konferensi pers di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Kamis (1/10/2026) malam.  (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Menjelang satu abad momentum bersejarah Sumpah Pemuda, berbagai elemen strategis yang tergabung dalam Pemuda Mahasiswa Indonesia Raya (PEMIRA) menggelar konferensi pers di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, pada Kamis (1/10/2026) malam.

Kegiatan ini menjadi langkah awal menuju agenda puncak konsolidasi kekuatan aktivis dan pemuda menuju Indonesia Emas 2045.

Sekretaris Jenderal Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) periode 2019-2025, Muh Ageng Dendy, yang turut memimpin konsolidasi tersebut menegaskan bahwa gerakan inklusif ini menjadi wadah bagi pemuda untuk bersiap menghadapi masa depan bangsa.

"Melalui gerakan ini, pemuda menegaskan kesiapannya dalam mendukung kepemimpinan nasional," ujar Dendy di TIM, Jakarta, Kamis malam.

Agenda puncak yang bertajuk "Konsolidasi Kekuatan Aktivis, Pemuda, Mahasiswa, Lintas Profesi, Agama, dan Golongan Menuju Indonesia Emas 2045" ini rencananya akan dilaksanakan secara masif pada 8 Oktober 2026 di Gedung Sumpah Pemuda, Jakarta.

Forum akbar tersebut memproyeksikan perjumpaan lintas elemen yang melibatkan mahasiswa, BEM, santri, pegiat lingkungan, atlet, pekerja kreatif, hingga perwakilan daerah.

Lebih lanjut, Dendy menjelaskan bahwa secara filosofis, PEMIRA memaknai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 sebagai lompatan kesadaran radikal di mana generasi terdahulu berani melampaui sekat identitas. Menjelang usia 100 tahun momentum tersebut, ia mengingatkan bahwa tantangan pemuda hari ini sangat berbeda.

"Dari yang mulanya merebut kemerdekaan menjadi perjuangan mengisi kemerdekaan, menegakkan kedaulatan multidimensi, mulai dari pangan, energi, teknologi, industri, dan data, serta membangun keadilan sosial," jelas Dendy.

Konsolidasi ini, menurut Dendy, tidak ditujukan untuk menyeragamkan pandangan organisasi, melainkan untuk melahirkan titik temu perjuangan (common ground) di atas kepentingan sektoral.

"Jika Sumpah Pemuda 1928 menyatukan kesadaran kita sebagai satu bangsa, maka konsolidasi menuju satu abad Sumpah Pemuda harus menyatukan cita-cita kita tentang Indonesia yang hendak dibangun," tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, PEMIRA juga menyoroti berbagai isu kebangsaan kontemporer yang mendesak, seperti polarisasi akibat politik identitas, kesenjangan ekonomi, disinformasi era digital, krisis lingkungan, hingga ketergantungan pada teknologi asing.

Pemuda dituntut bergerak dari penonton pasif menjadi pemecah masalah serta memperkuat literasi dan kolaborasi.

Selain Dendy, konferensi pers ini dihadiri oleh sederet tokoh perwakilan pemuda nasional. Mereka di antaranya adalah Bintang Wahyu Saputra (Ketum PB Serikat Mahasiswa Muslimin 2018-2026), I Wayan Darmawan (Ketum Kesatuan Mahasiswa Hindu Dharma Indonesia 2023-2025), Muhammad Natsir Sahid (Ketum DPP Forum Komunikasi Santri), Muzammil Ikhsan (Korpus BEM Seluruh Indonesia), dan Dani (Aktivis Lingkungan).

Hadir pula tokoh lainnya seperti Ravindra (Sekjen Himpunan Mahasiswa Budhis Indonesia 2021-2024), Zaki Nugraha (Sekjen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah 2021-2023), Imam (Ikatan Keluarga Mahasiswa Madura), Januar Eka (HMI Jabodeka Banten 2019-2021), Irvan Mujahidin Mingkeula (Gerakan Pemuda Islam), Rizky (Pemuda Muslimin Indonesia), serta Yaumal Akbar (Alumni Pelajar Islam 2021-2023). Kehadiran para tokoh lintas elemen ini semakin mempertegas soliditas barisan pemuda dalam mengawal arah masa depan Indonesia.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
DD BERBAGI
advertisement