
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Manuver Gubernur DKI jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok mendekat ke partai politik dianggap sebuah kegamangan antara maju lewat jalur independen atau partai politik dalam pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang.
Hal itu diungkapkan Direktur Eksekutif Media Survei Nasional (Median), Rico Marbun usai melakukan surveiterkait sikap publik Jakarta terhadap langkah orang nomor satu di DKI Jakarta itu untuk maju sebagai calon gubernur, baik lewat jalur independen atau partai politik.
Menurutnya, walaupun Teman Ahok sudah mengklaim berhasil mengumpulkan satu juta KTP sebagai persyaratan maju di jalur independen dalam pilkada DKI, namun Ahok masih terlihat gamang antara memilih jalur independen atau partai politik. Padahal berdasarkan hasil survei sebagian besar pendukungnya menginginkan Ahok maju lewat jalur independen.
”Dari seluruh pendukung Ahok, terdapat 71,2% yang menginginkannya tetap maju dari jalur independen. Sementara hanya 23,1 persen yang menginginkan Ahok maju lewat jalur partai politik, dan sisanya sebanyak 5,70 persen menjawab tidak tahu,” katanya, di Jakarta, Jumat (24/6).
Dari hasil survei itu, setidaknya ada pesan penting yang disampaikan para pendukungnya kepada Ahok. Mereka meminta Ahok untuk terus konsisten maju lewat jalur independen, seperti yang dia gembar-gemborkan sebelumnya.
“Ketika berniat maju lewat jalur independen dengan membentuk relawan, sebetulnya Ahok telah menciptakan fenomena baru, untuk mengimbangi partai politik dalam pemilihan kepala daerah. Sebaiknya, Ahok tidak mengecewakan harapan sebagian besar pendukungnya,” katanya.
Menurut Rico, jangan sampai manuver berbalik badan Ahok mencari dukungan ke partai politik untuk maju dalam pilkada DKI Jakarta 2017, menjadi bumerang baginya. Mengingat ada kecenderungan perubahan dukungan dari para pendukungnya jika Ahok ternyata maju lewat jalur partai politik.
“Kami menanyakan kepada para responden yang mengaku mendukung Ahok, apakah Anda akan mempertimbangan mencabut dukungan, bila Ahok ternyata maju lewat jalur partai? Ternyata ditemuakan ada 30,4 persen pendukung Ahok yang akan mempertimbangkan mencabut dukungan, sedangkan sebesar 24,8 persen tetap mendukung, dan 44,8 persen masih pikir-pikir,” ungkapnya.
Berdasarkan survei, dosen Universitas Paramadina ini menambahkan bahwa Median juga menemukan beberapa alasan para pendukung Ahok yang menginginkannya terus maju lewat jalur independen.
“Kami menananyakan kepada responden warga Jakarta yang juga pendukung Ahok, apakah alasan anda terus menginginkan Ahok maju lewat jalur independen? Jawaban mereka pun beragam, antara lain 30,6 persen beralasan karena Ahok telah berjanji maju lewat jalur independen, 16,8 persen beralasan agar Ahok tidak bergantung kepada partai, 9,6 persen mengatakan karena Ahok telah mengumpulkan KTP warga DKI jakarta," jelasnya.
"Selain itu, 8,2 persen menginginkan Ahok tidak perlu bernegosiasi dengan partai, kemudian ada 9,8 persen yang beralasan agar Ahok nanti bebas dalam pemimpin, sedangkan 8,4 persen tidak menginginkan adanya mahar politik, dan 16,5 persen tidak menjawab,” tambahnya.
Survei ini diselenggarakan pada jangka waktu 12-17 Juni 2016, menggunakan metode face to face interview terhadap 500 responden warga DKI Jakarta yang dipilih secara acak dengan teknik Multistage Random Sampling. Memperhatikan proporsional atas populasi Kota madya dan gender, dengan Margin of Error ± 4,5 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (iy)