Profil

Dadang Rusdiana, Pengagum Soekarno dan Wiranto

Oleh Syamsul Bachtiar pada hari Rabu, 08 Mar 2017 - 14:38:02 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

68dadang.jpg

Dadang Rusdiana (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Dunia politik bagi sebagian orang mungkin adalah sesuatu yang sangat njlimet dan tak memberikan kepastian.

Namun lain halnya bagi seorang Dadang Rusdiana, pria kelahiran Bandung Jawa Barat 13 Februari 1967 silam menganggap dunia politik sebagai sarana perjuangan hidupnya dan sarana memperjuangkan nasib orang banyak.

Dalam wawancara santai dengan TeropongSenayan, Dadang menguraikan kiprah politiknya dari usia muda hingga saat ini. Berbagai organisasi kemasyarakatan dan parpol pun pernah ia lakoni.

Berikut kiprah politik Dadang Rusdiana yang kini menjadi politisi Hanura.

"Saya terjun di dunia politik sejak usia 20 tahun, diawali ketika menjadi Ketua Sub Rayon Angkatan Muda Siliwangi (AMS) pada Tahun 1987, dan dua tahun kemudian menjadi Bakomcam Golkar Kecamatan Arjasari," ungkap Dadang pada TeropongSenayan di Jakarta, Rabu (08/03/2017).

Selanjutnya, terang dia, pada tahun 1992 saya sudah masuk di kepengurusan DPD KNPI Kabupaten Bandung. Dan pada Tahun 2001 menjadi Ketua DPD KNPI Kabupaten Bandung.

Pada Tahun 1999 saya menjadi anggota DPRD Kab Bandung, selama 2 periode sampai Tahun 2009, tambahnya.

2010 menjadi calon wakil Bupati Bandung diusung PKS dan PBB. Walaupun hanya diusung oleh 2 partai kecil (7 kursi), masuk ke putaran ke 2. Di putaran ke 2 kita kalah setelah melalui proses persidangan di MK.

Tahun 2013 saya ditawari masuk Hanura oleh Pak Berliana Kartakusumah. Dan pada Tahun 2014 terpilih menjadi anggota DPR RI.

Ada beberapa alasan mengapa dirinya terjun kedunia politik dunia yang bagi sebagian orang tak begitu menarik.

Pertama, memang sejak kecil saya diasuh dalam lingkungan para aktivis. Ayah saya (alm) ketika kuliah di Unpad adalah aktivis GMNI. Kakek saya dari ibu adalah seorang aktivis Golkar. Sejak kecil (kelas 5 SD) saya sudah diberi bacaan biografi Soekarno. Jadi cita-cita menjadi seorang politisi itu sejak kecil, terinspirasi oleh keberanian seorang Soekarno dalam memerdekakan bangsa ini.

Kedua, sejak senang bergaul di lingkungan sekolah maupun masyarakat saya punya keyakinan bahwa dengan memiliki kekuasaan maka seseorang bisa berbuat banyak buat bangsa dan negara. Kalau masyarakat biasa berinfaq itu hanya dengan uang sekedarnya. Tapi ketika menjadi pejabat penting maka apa yang diputuskan akan berdampak luas bagi seluruh masyarakat. Dan itulah kesempurnaan pengabdian sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT.

Sejak kuliah ( walaupun saya bukan jurusan pendidikan ), saya sudah diminta untuk membantu mengajar di SMP PGRI Arjasari, sekolah untuk orang-orang desa yang memang jauh ke kota.

Kebanyakan mereka yg tidak mampu. 11 tahun menjadi guru honor (1987 - 1998) mengkonstruksi sebuah keyakinan pada diri saya bahwa kerja besar yang harus dilakukan oleh para pejuang itu adalah memanusiakan manusia, yaitu membuat manusia ini berahlak mulia dan cerdas. Sehingga tentunya pendidikan adalah bagian penting dari sebuah bangsa.

Pengalaman sebagai guru honor, yang kemudian dilanjutkan dengan menjadi dosen pada Tahun 2008 di Universitas Nurtanio Bandung itulah yang membuat pendidikan yang berkualitas dan terjangkau menjadi cita-cita politik yang harus konsisten saya perjuangkan.

Makanya setiap kunjungan ke daerah saya paling senang bertemu dengan para guru honor, mendengar segala keluh kesahnya, kemudian memberikan motivasi untuk tetap berjuang dalam mencerdaskan anak didiknya.

Dalam rapat kerja dengan Mendikbud maupun Kemenristekdikti saya paling bahagia kalau menyuarakan nasib para guru dan dosen. Walaupun tentunya saya memahami keterbatasan anggaran yg dimiliki negara tidak bisa langsung membuat para guru mendapat gaji dan honor yg memadai. Tetapi secara bertahap kita terus berupaya memperbaiki nasib para guru dan dosen.

Saat ditanya apakah keluarga mendukung pilihan hidupnya yang memilih dunia politik sebagai jalan hidupnya.

Ya keluarga semua mendukung. Jadi anak dan istri memahami sekali segala resiko dalam dunia politik. Kadang kita berada pada lingkaran kekuasaan, kadang bisa jatuh terpuruk. Waktu deng keluarga sangat terbatas.seluruh konsekwensi ini difahami dengan baik oleh keluarga, dan semuanya tdk pernah mengeluh.

Demikian juga sokongan dari ibu saya dengan do'a. Demikian juga dukungan ayah ketika masih hidup (beliau meninggal Th 2013) sangat luar biasa.

Pesan yang saya ingat: "Dalam berpolitik tidak boleh setengah-setengah. Harus berani dan tidak boleh menyerah.

Saat ini, terang dia, dirinya dikarunia dua orang putra putri yang kesemuanya sudah menginjak usia dewasa.

Hanya dua orang :
Puteri pertama : Mega Mahardika, sekarang sedang menyelesaikan S2 Prodi Hukum UNPAS

Anak Kedua : Gilang Haekal Hikmatyar, sekarang masih kuliah di Jurusan Penyiaran Islam, UNINUS.

Ada beberapa kebiasaan, ungkap dia, yang sering ia dan keluarga lakukan tatkala waktu liburan.

kebiasaan saya sehari-hari kalau tidak ngantor : silaturrahim ke kerabat, kolega dan masyarakat.

Kalau benar-benar santai di Rumah saya biasa membaca buku. Atau berburu buku-buku baru ke Gramedia

Seminggu sekali saya seharian menghabiskan waktu untuk main Tenis Meja.

Makanan favorit saya adalah Terong balado. Jadi nafsu makan saya akan berlipat-lipat kalau istri siapin terong balado, lalab dan sambal.

Minuman favorit adalah kopi hitam (tapi yang asli), biasa saya rutin membei kopi Aroma dari Jalan Banceuy Bandung. Biasanya Kopi hitam sangat nikmat sambil makan ubi Cilembu.

Kalau weekend saya biasa jalan dengan Keluarga sambil makan bersama (biasanya bawa semua keponakan) dan kemudian ke toko buku, berakhir dengan acara nonton film bersama. 2 bulan sekali biasa wisata ke Bali atau destinasi wisata lainnya bersama anak, istri dan semua keponakan.

Diungkapkannya, ada beberapa orang yang membuat hidupnya berkesan sepanjang massa.

Kesetiaan istri dalam suka dan duka, serta doa ibu dan ayah yang selalu menyertai kita. Itu yang selalu membuat hidup saya tenang.

Saat ditanya siapa tokoh nasional maupun internasional yang ia kagumi, Dadang mengatakan Nabi Muhammad SAW, Soekarno dan Wirantolah sosok yang sangat ia kagumi.

Tokoh yg saya kagumi di Nasional Soekarno dan Wiranto.

Kalau sosok yang saya kagumi dunia dan akhirat adalah Sosok Nabi Muhammad SAw. Saya berpolitik selalu saya sandarkan pada Sirah Nabawiyah sebagai implementasi Quran dan Sunnah.

Saya selalu ajarkan pada keluarga bahwa Bacaan awal dan akhir setiap hari adalah Al Quran.

Soekarno itu memiliki kharisma dalam mempersatukan bangsa ini. Dia seorang strategi, seorang solidarity maker, seorang yg lebih mementingkan kepentingan bangsa dan negara. Beliau tidak pernah berfikir tentang dirinya.

Demikian juga sosok Wiranto yang selalu berbicara dan bertindak demi bangsa dan negara. Setiap memberikan arahan Pak Wiranto ini selalu menekankan semangat pengabdian pada bangsa dan negara. Beliau tidak pernah berbicara tentang kepentingaan partai atau golongan. Itulah kenapa saya kagum.  (icl)

tag: #partai-hanura  

Bagikan Berita ini :