Lobi TSBerita TSZoom TSRagam TSKita TSNongkrong TSJakarta TSMitra TSGrafis TSTV
Pahlawan Lafrin Pane, Seorang Konsolidator HMI Sejati
Oleh Oleh : Hariqo Wibawa Satria ‎(Penulis Buku : Lafran Pane; Jejak Hayat dan Pemikirannya)‎ - ( Jumat, 10 Nov 2017 - 06:51:49 WIB ) di Rubrik TSNongkrong

Bagikan Berita ini :

31ca7bea39-cbdf-4e83-948c-197fdf02991d.jpg
Hariqo Wibawa Satria
Sumber foto : Dok Istimewa

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Bertepatan dengan hari Pahlawan yang jatuh pada hari ini, Jumat (10/11/2017) pemerintah memberikan gelar pahlawan kepada sejumlah tokoh yang dianggap berjasa bagi bangsa dan negara. Salah satu tokoh tersebut adalah Lafran Pane.

Publik tentu belum banyak tahu siapa sosok Lafrin Pane tersebut. Beliau adalah seorang tokoh pergerakan Islam, HMI dan dibesarkan dari keluarga sastrawan, yang berjuang menyuarakan kemerdekaan melalui goresan pena selama masa merebut kemerdekaan.

Lahir pada 5 Februari 1922, di Kampung Pangurabaan, Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, ayahnya yang bernama Sutan Pangurabaan Pane adalah seorang jurnalis, sastrawan, kepala sekolah di HIS, pendiri Muhammadiyah di Sipirok, sangat komplit. Sutan Pangurabaan adalah pendiri dan pemimpin Surat Kabar Sipirok-Pardomuan (terbit 1927), berbahasa Angkola.

Dua kakak kandung Lafran Pane adalah tokoh sastra terkenal negeri ini yaitu Sanusi Pane dan Armijn Pane. Bila dibandingkan dengan kedua orang kakaknya, Lafran justru kurang produktif menulis. Dia adalah seorang konsolidator. Sewaktu berkuliah, Lafran sempat mengambil studi tata negara.

Semasa hidupnya, Lafran memiliki gaya hidup yang sederhana. Bahkan soal kesederhanaannya itu, sampai melegenda. Didikan keluarga dan pernah tinggal di Yogya membentuk pribadinya yang sederhana tersebut. Bahkan sampai dia meninggal dunia, Lafran tidak memiliki rumah sendiri. Semua saudara-saaudaranya yang tinggal di Bintaro, kampung halaman di Sipirok juga terlihat gaya hidupnya yang sederhana. Padahal jika Lafran mau, bisa saja dia menjadi lebih kaya raya. Namun Lafran sama sekali tidak tergiur dengan tawaran yang datang silih berganti tersebut.

Kecintaanya pada negara membuat Lafran sangat mendedikasikan hidupnya itu untuk membela tanah air. Bahkan hal itu dilakukannya semasa kuliah. Dia membentuk Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dengan tuujuan untuk mempertahankan Negara Republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia. Selain itu, HMI didirikan dengan tujuan untuk menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam. Jadi kepentingan nasional diatas kepentingan lainnya.

Di tahun 45, 50-an, dua tujuan tersebut punya dampak sangat besar, dan saya kira sampai sekarang sangat relevan. Pada Kamis, 13 Agustus 1970, Lafran Pane diundang ke Pengangsaan Timur 56 Jakarta dalam acara pertemuan pemrakarsa proklamasi Indonesia.

Saat itu, HMI berhasil menjadi organisasi independen yang tidak terpengaruh berbagai kepentingan kelompok terutama yang menginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Selain itu, HMI juga terbebas dari kepentingan kelompok yang menginginkan Indonesia menjadi negara sosialis, serta kelompok menginginkan Indonesia menjadi negara komunis.

Kehadirian HMI dengan independensinya telah dapat meminimalisir polarisasi antara kelompok nasionalis, sosialis, komunis dan islam di kalangan mahasiswa pascaproklamasi 1945. HMI menjadi wadah baru bagi mahasiswa untuk dapat memupuk rasa kebangsaan sekaligus mempelajari agama Islam. Lafran Pane telah menunjukkan bahwa antara Keislaman dan Keindonesiaan tidaklah bertentangan, akan tetapi merupakan dua hal yang dapat bergandengan tangan untuk mengangkat harkat dan derajat seluruh rakyat Indonesia.

Meski demikian, HMI pernah dekat dengan tentara. Bahkan Panglima Besar Jenderal Sudirman bahkan pernah menyebut "HMI itu Harapan Masyarakat Indonesia” pada HUT Pertama HMI, 5 Februari 1948 di Yogya. Achmad Tirtosudiro, Dahlan Ranuwihardjo itu tentara tapi sepanjang hidupnya mengurusi perkaderan HMI.

HMI itu jiwanya sama dengan tentara; NKRI harga mati, rela mati demi mengusir penjajah, anti komunis, mudah tersinggung jika harga diri bangsa diusik. Hanya basisnya HMI di kampus, karena itu perjuangannya lewat berbagai kegiatan ilmiah, bakti sosial, demonstrasi di lapangan, dan lain-lain

Sepanjang 1947 – 1960, HMI menjadi rumah besar bagi seluruh mahasiswa beragama Islam. Tidak ada pembedaaan sama sekali apakah itu golongan NU, Muhammadiyah, atau yang lainnya. Semua bisa masuk HMI. Saat itu syarat masuk HMI hanya dua yaitu mahasiswa dan Islam.

HMI yang didirikan denngan maksud untuk mengkader mahasiswa muslim. Tahun 60-an diperkirakan lebih dari 1/3 dari total seluruh mahasiswa Indonesia adalah anggota HMI. Pada 70-an, 80-an, 90-an hinga sekarang mereka mewarnai berbagai lini kehidupan. Terlalu banyak nama-nama jika disebutkan. Alumnus HMI pasti nasionalis religius. Di HMI keislaman-keindonesian adalah sebuah kesatuan.

Dengan jaringan yang luas semua organisasi mahasiswa islam pasti ada alumnus HMI atau kader HMI-nya. Misalnya di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII, berdiri 17 April 1960) yang kelahirannya dimotori anak-anak muda Nahdlatul Ulama. Ketua Umum pertama PMII justru mantan Pengurus HMI, yaitu Mahbub Junaidi, Mahbub Junaidi bahkan menjadi Ketua Umum PMII selama tiga periode berturut-turut (1960–1961, 1961-1963, 1963-1967). Jutaan anak-anak NU dan Muhammadiyah yang dikader di HMI. Menariknya HMI itu sendiri bukan NU dan bukan Muhammadiyah. HMI itu independen.

Berdirinya HMI juga mendorong pendidikan agama Islam, berdirinya masjid dan hadirnya kajian-kajian keislaman di kampus-kampus. HMI mengubah citra Islam yang “jadul, kolot, tertinggal”. Karena basis utamanya kampus tidak terhitung jumlah alumnus HMI yang pernah menjadi rektor, dekan, dosen dan lain-lain. Dan karena HMI adalah organisasi luar kampus yang selalu terlibat berbagai isu kemasyarakatan, maka hampir semua partai politik, organisasi kemasyarakatan pernah dipimpin alumnus HMI.

Beji, Depok
9 November 2017


Editor : Redaktur | teropongsenayan.com
tag: #  

Bagikan Berita ini :



Tanggapan Anda atas berita ini?

BeritaLainnya

92obrolan pagi-1.jpg
96IMG-20171115-WA0001.jpg
37f3abd89b-38dd-4578-a020-e1c8821cf5e3.jpg
46IMG-20171113-WA0000.jpg
57605fb8b0-6907-472a-a80b-313cf4fa9ce7.jpg
61obrolan pagi-1.jpg