Butuh Pemimpin yang Ikhlas
Oleh Adi Prayitno (Dosen Politik dan Penikmat Masalah Sosial Kebangsaan) pada hari Senin, 11 Jun 2018 - 14:39:18 WIB

Bagikan Berita ini :

68adiprayitno.jpg
Sumber foto : ist
Adi Prayitno (Dosen Politik dan Penikmat Masalah Sosial Kebangsaan)


Narasi kehidupan berbangsa dan bernegara kita mulai tak kondusif. Berebut klaim sebagai pemimpin paling sukses kian menjadi trending topic. Seakan hanya dirinya yang paling sukses bekerja. Sementara pemimpin pendahulu hanyalah benalu pembangunan. Satu fenomena politik yang tak baik bagi kualitas kesehatan demokrasi kita ke depan. Negara ini dibangun atas keringat dan air mata semua pemimpin berbagai kalangan. Tak ada yang merasa lebih berhak atas pembangunan bangsa karena hanya menyalahi kodrat sejarah. Negara besar adalah negara yang menghormati pemimpin terdahulunya.

Jelang mudik lebaran, kita dipertontonkan perang klaim kesuksesan pemimpin tertentu. Setelah perang tagar yang kemudian beralih ke lagu, kini perang klaim sukses merembet ke spanduk menyambut mudik lebaran. Misalnya ada nada spanduk yang terbentang ‘Selamat anda menikmati jalan tol pemimpin nganu, yang #2019ingingantinganu lewat jalan lain saja. Salam dua periode. Ada pula tandingannya, yang ingin #2019gantipresidennganu klakson telolet 3 kali karena sudah terbukti gagal. Makin sempit saja nalar kebangsaan kita ini.

Politik kita memang dinamis nyaris tanpa jeda. Selalu berdenyut setiap detak tanpa henti. Tak peduli bulan puasa, tak peduli bulan mulia, tak peduli pula musim mudik. Semua momen dijadikan ruang berebut klaim paling sukses dan paling hebat demi kepentingan elekoral 2019. Arogansi, saling menghina, saling nyinyir makin telanjang dipertontonkan di depan khlayak tanpa malu. Seakan lupa bahwa bangsa ini besar karena punya tradisi menghormati pemimpin terdahulu.

Rakyat tak butuh slogan. Rakyat tak butuh tagar dan perang spanduk. Rakyat tak butuh klakson. Rakyat butuh jaminan hidup yang pasti, akses terhadap pekerjaan, stabilitas ekonomi, pendapatan meningkat, dan seterusnya. Lelah bangsa ini setiap saat selalu disuguhkan pertengkaran tak bermutu. Saatnya kita hijrah, move on, dan saling berangkulan sama-sama membangun bangsa. Jangan lagi ada kata saling menegasi dan berebut paling sukses. Bangsa ini telah dipimpin tokoh-tokoh besar dengan wawasan kebangsaan yang besar pula.

Soekarno misalnya telah susah payah membangun fondasi politik kebangsaan. Polarisasi politik yang terbelah mampu dikonsolidasikan. Saat itu, friksi dan antagonisme politik antar kelompok makin ekstrim. Nasionalis, Islam, dan PKI saling menegasi seakan hanya mereka yang paling pantas sebagai pewaris sah politik tanah air. Secara perlahan, Soekarno berhasil membangun batu bata politik yang kondusif sebagai fondasi menyongosng Indonesia masa depan.

Soeharto hadir sebagai pelanjut estafeta kepemimpinan politik. Berbeda dari Soekarno, Soeharto menggenjot sektor ekonomi dan infrastruktur yang masif sebagai bekal pembangunan negara. Tak ada yang ragu bahwa Soeharto adalah bapak pembangunan Indonesia sesungguhnya jauh sebelum hiruk pikuk politik seperti saat ini. Meski harus kita akui pula, di akhir masa berkuasanya Soeharto menjelma sebagai sosok diktator bengis, anti kritik, menjadikan Pancasila sebagai alat politik, yakni indoktrinasi secara paksa.

Sementara BJ Habibie menjadi presiden pertama pascareforamasi yang mendobrak otoritarianisme warisan Orde Baru Soeharto. Untuk pertama kalinya, Habibie memperbolehkan setiap orang bebas berkumpul, berserikat, dan berpendapat di depan umum setelah sekian lama terbelenggu. Prestasi paling moncer Habibie menyiapkan segala infrastruktur politik untuk menyongsong pemilu demokratis pertama pada 1999. Usia pemerintahan yang singkat tak menutup celah untuk menorehkan satu dasar politik kebangsaan yang mantab.

Begitupun dengan Gus Dur yang rela sebagai ‘martir’ demi demokrasi yang sehat. Gus Dur yang nyentrik telah mengajari kita banyak hal tentang pentingnya berdemokrasi. Gus Dur tak pernah marah meski hampir saban hari fotonya dilecehkan aktivis mahasiswa. Satu-satunya kemarahan Gus Gus ketika ia hendak dilengserkan secara paksa (impeachment) di tengah jalan. Di atas segalanya, kita telah sepakat menobatkan Gus Dur sebagai bapak pluralisme Indonesia yang tanpa tanding.

Megawati Soekarno Putri sebagai pelanjut masa jabatan Gus Dur juga menyuguhkan aura kepemimpinan politik yang sama. Demokrasi kian kondusif. Parpol dan ormas tumbuh mekar. Satu hal yang layak diapresiasi ialah terselenggaranya pemilihan presiden secara langsung oleh rakyat, tak lagi oleh MPR. Tentu saja prestasi ini merupakan ‘buah tangan’ dingin Megawati yang mesti disyukuri. SBY pun begitu, banyak prestasi yang sudah dicapai. Salah satunya pertumbuhan ekonomi yang stabil serta memulai sejumlah pembangunan infrastruktur yang baru. Misalnya, di zaman SBY, jmbatan Suramadu mulai diresmikan yang telah begitu lama dibangun Megawati.

Jokowi yang genap 4 tahun berkuasa juga telah banyak bekerja terutama pembangunan infrastruktur di luar Jawa berskala masif. Bandara, jalan tol, pelabuhan, dan rel kereta api sebagai upaya distribusi ekonomi secara merata sekaligus memangkas disparitas pembangunan yang jomplang. Semua pemimpin sudah bekerja untuk kebaikan negara dan bangsa. Patut diapresiasi meski skala capaian prestasinya berbeda-berbeda. Tak perlu saling menegasi.
Saat ini kita perlu suasana batin kepemimpinan yang sungguh ikhlas bekerja untuk rakyat. Kinerja yang tak harus mendapat pengakuan dari siapapun. Karena kinerja semacam itu merupakan bagian tanggung jawab seorang peguasa. Tak perlu dieksploitasi berlebihan, tak perlu hingar bingar media, tak perlu pula merasa paling sukses. Banyak hal yang bisa dikapitalisasi sebagai insentif elektoral 2019 mendatang.

Bangsa ini akan melulu gaduh jika para pemimpin dan par supporter saling meniadakan peran pembangunan satu sama yang lain. Masing-masing pemimpin punya ukuran kesuksesan dan loyalis yang setiap saat siap membela. Jika ingin mengakahiri kegaduhan, maka hentikan hujatan dan saling menegasi peran antar pemimpin bangsa. Kita perlu pemimpin yang bekerja ikhlas tanpa pamrih untuk rakyat Indonesia yang besar.

Khalifah Umar Bin Khattab merupakan contoh nyata pemimpin sukses yang tak pernah kenal pamrih. Di tengah pekat malam Umar kerap memanggul gandum menyusuri lorong gulita menyambangi rakyatnya yang kelaparan. Tak ada satupun sahabat yang sadar jika Umar sedang bekerja di malam hari. Di saat semua sahabat terlelap tidur, Umar terus bergerilya bekerja untuk rakyatnya yang miskin. Tak perlu publikasi apapun. Apalagi pengumuman melalui berbadai media. Di momen bulan puasa ini mari kita belajar banyak dari Khalifah Umar. Pemimpin yang tak kenal pamrih dan tak butuh pengakuan dari siapapun.

TeropongKita adalah media warga. Setiap opini/berita di TeropongKita menjadi tanggung jawab Penulis

tag: #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca TeropongSenayan Yth

Dua pasangan calon (paslon) Pilpres 2019 telah mendaftar ke Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI di Jakarta, Jumat (10/8/2018). Kedua paslon itu adalah Joko Widodo (Jokowi)-Maruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Jokowi-Maruf didukung oleh sembilan partai. Yakni PDIP, Partai Golkar, Nasdem, Hanura, PPP, PKB, PSI,Perindo, dan PKPI. Sedangkan Prabowo-Sandiaga didukung oleh empat partai. Yakni Partai Gerindra, PAN, PKS, dan Demokrat.

Dua cawapres, yakni Maruf Amin dan Sandiaga Uno disebut-sebut turut menentukan kemenangan sang capres pada 2019 nanti. Tentu, baik Maruf maupun Sandiaga memiliki kelebihan masing-masing, yang akan diekplorasi habis-habisan guna menarik simpati pemilih.

Nah, jika pilpres dilaksanakan hari ini, siapa yang akan Anda pilih:

  • 1.Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2.Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
LIHAT HASIL POLING