Tak Kunjung Cair, Pemprov NTB Tagih Janji Jokowi Soal Bantuan Rumah
Oleh M Anwar pada hari Minggu, 07 Okt 2018 - 09:42:13 WIB

Bagikan Berita ini :

92Sitti-Rohmi-Djalilah.jpg.jpg
Sumber foto : Istimewa
Sitti Rohmi Djalilah

MATARAM (TEROPONGSENAYAN)--Pemerintah pusat tak kunjung mencairkan dana bantuan perbaikan rumah korban gempa di Nusa Tenggara Barat (NTB), yang jumlahnya lebih dari 200 ribu unit. Pemrov NTB pun meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) segera mengucurkan anggaran yang dijanjikan sebelumnya.

Wakil Gubernur NTB Sitti Rohmi Djalilah berharap, bantuan yang sudah dijanjikan pemerintah pusat tidak berkurang.

"Intinya kita tidak boleh menunggu dalam posisi sekarang. Kita harus betul-betul percaya diri dengan kekuatan kita sendiri. Pemerintah pusat dengan komitmennya," kata Sitti saat dikonfirmasi, Rabu (3/10/2018).

Sitti berjanji, pihaknya akan terus mengawal janji pemerintah pusat yang akan memberikan bantuan perbaikan rumah bagi korban gempa. Karena verifikasi yang dilakukan provinsi dan kabupaten/kota sudah berjalan.

"Tugas kabupaten dan provinsi itu hampir rampung. Tinggal sekarang bagaimana proses pembangunan dan komitmen pemerintah pusat,’’ ujarnya.

Begitu juga soal janji pemerintah pusat melalui Kementerian Sosial (Kemensos) yang akan memberikan jaminan hidup (jadup) kepada korban gempa yang rumahnya rusak berat. Menurut Sitti, hal ini juga terus dikawal agar dapat segera direalisasikan.

"Jadup juga kita tagih. Karena sudah dijanjikan ke masyarakat. Tapi kembali lagi ke Kementerian Sosial,’’ imbuhnya.

Sitti mengajak semua pihak menciptakan situasi tenang dan kondusif di daerah.

"Insya Allah kalau optimis, bersatu, ada saja hal yang kita lakukan. Untuk survive dulu di musim hujan ini. Karena kalau kita lihat Aceh, Karo, Yogyakarta. Ndak ada yang selesai rehabilitasi dan rekonstruksi kurang dari satu tahun," katanya.

Ia mengatakan, untuk rehabilitasi dan rekonstruksi bencana tsunami Aceh butuh waktu sampai lima tahun. Begitu juga Karo, butuh waktu sampai tujuh tahun. Selanjutnya, bencana gempa Yogyakarta, butuh waktu sekitar tiga tahun.

"Seperti itulah bencana. Tapi apapun kita lakukan yang terbaik,’’ tutup dia.

Berdasarkan data Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) Penanganan Darurat Bencana Gempa NTB,  sampai 27 September lalu, jumlah rumah yang terverifikasi baru 44.177 unit. Yang siap bangun baru 22 ribu unit. Jumlah rumah yang rusak berat sebanyak 83.808 unit, rusak sedang 44 ribu unit, dan  rusak ringan 76 ribu. Sehingga total jumlah rumah warga yang rusak akibat gempa beruntun beberapa waktu lalu mencapai  204 ribu unit.

Dari jumlah itu, sebanyak 50 ribu unit yang sudah di-SK-kan bupati/walikota. Sementara yang sudah mendapatkan dana bantuan untuk rusak ringan baru 825 unit, rusak sedang nol dan rusak berat 6. 991 unit. Sedangkan jumlah rumah yang baru bisa dibangun lebih dari 7.000 unit.

Sebelumnya, Presiden Jokowi berjanji akan memberikan bantuan hingga Rp 50 juta untuk memperbaiki rumah warga yang rusak berat akibat gempa Lombok.(yn)

tag: #gempa-bumi  

Bagikan Berita ini :

Tanggapan Anda atas berita ini?
TSPOLING

Pembaca teropongsenayan.com yth.

Polemik Ratna Sarumpaet, dalam waktu sekejap, membuka mata-telinga dan mengejutkan banyak kalangan. Termasuk mata dan telinga para politisi.

Setelah polisi membuktikan kebohongan Ratna, dan yang bersangkutan juga mengaku berbohong, polemik pun semakin kencang. Di sisi lain, beberapa kalangan menengarai polemik kebohongan Ratna berimplikasi terhadap elektabilitas pasangan calon (paslon) peserta Pilpres 2019. Yakni Joko Widodo-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Menurut Anda, seperti apa dampak dari implikasi tersebut:

  • 1. Berpengaruh positif terhadap Joko Widodo-Maruf Amin
  • 2. Berpengaruh positif terhadap Prabowo Subianto-Sandiaga Uno
  • 3. Tidak berpengaruh terhadap masing-masing paslon
LIHAT HASIL POLING