Profil

Ketua Umum OK-OCE Iim Rusyamsi

Keberhasilan OK-OCE Bergantung Empat Unsur

Oleh Pamudji dan Jihan Nadia pada hari Rabu, 19 Des 2018 - 09:32:26 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

28a7d6eb8c-9923-4b04-a353-4e9845f7bfc2_169.jpg.jpg

Ketua Umum OK-OCE, Iim Rusyamsi (Sumber foto : ist)

Sejak digulirkan dua tahun lalu, program OK-OCE terus menyedot perhatian publik, terutama warga DKI Jakarta yang ingin naik kelas, dari 'orang upahan' menjadi pengusaha. Terlepas, bahwa segmentasi bidang usaha yang dipilih adalah usaha mikro dan kecil, namun mereka telah berihtiar untuk meraih kemandirian ekonomi. Kemandirian itu pula yang menjadi alasan mereka bergabung dengan OK-OCE.

Menjadi anggota OK-OCE adalah langkah cepat membangun jalan yang bakal dilewati para pengusaha baru. Namun, terkait hal itu, harus pula dipahami bahwa gerakan yang dirintis oleh Calon Wakil Presiden Sandiaga Salahuddin Uno ini tidak menyiapkan pengusaha 'jadi-jadian'. Sebaliknya , OK-OCE justru menciptakan pengusaha matang, yang lahir dari sederet pelatihan dan pendampingan.

Guna menilisik lebih dalam tentang konsep dan cara kerja OK-OCE, wartawan TeropongSenayan, Pamudji dan Jihan Nadia berkesempatan berbincang dengan Ketua Umum OK-OCE, Iim Rusyamsi, di Gedung Balai Kota, Jakarta, belum lama ini. Berikut petikannya :

Sebenarnya OK-OCE orientasinya murni menyiapkan pengusaha atau memberi “fasilitas”?

Saya sebagai pengurus baru tentu masih mempelajari apa sih amanat dari para pendiri. Secara visi kami adalah wadah untuk menampung dan mengapresiasikan kreatifitas dan upaya rakyat dalam memajukan bangsa, membangun negri dengan badan seperti kami. Kami mempunyai misi, ingin melahirkan pengusaha baru, ingin membina dan membimbing, serta ingin mendampingi pengusaha yang jadi anggota kami di pusat-pusat kewirausahaan di setiap kecamatan.

One Kecamatan One Center Entrepreneurship (OK-OCE) sudah terwujud  dan kita punya perjanjian kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta. Perjanjian ini untuk pengembangan  kewirausahaan terpadu di DKI Jakarta.

Unsur-unsur apa saja yang dibutuhkan dalam menggerakkan OK-OCE?

OK-OCE bisa terbangun jika kita membangunnya dengan empat unsur. Yang pertama, masyarakat karena masyarakat ini adalah pemanfaatnya. Kedua pemain, nah kami ini adalah wadah penggerak. Yang ketiga ada pemerintah, dimana pemerintah mempunyai visi dan misi membuka banyak lapangan kerja baru, wirausaha baru di wilayahnya. Yang keempat adalah pihak swasta. Nah swasta itu luas, media pun juga termasuk karena membantu dalam mensosialisasilan  program kewirausahaan ini.

Sampai saat ini sudah di angka berapa jumlah peserta OK-OCE?

Alhamdulillah di DKI Jakarta bisa berjalan, dari target 200 ribu (lima tahun) sekarang sudah lebih dari 40 ribu yang ikut pendaftaran dan sudah dilatih. Target kami 200 ribu itu lima tahun, jika dibagi per  tahun 40 ribu, dan itu sudah tercapai.

Bagaimana bentuk dukungan dari Pemprov DKI Jakarta?

Alhamdulillah dengan kerja sama Pemprov DKI, supportingnya cukup bagus. Misalnya fasilitas yempat pelatihan ada di setiap kecamatan, konsumsi pun mereka ada anggarannya untuk para pelatih dan nara sumber.

Ada dukungan dana atau anggaran dari Pemprov DKI ?

OK-OCE  itu pihak eksternal, jadi kami hanya membantu mendampingi. Kalau soal anggaran yang punya SKPD  terkait. Jadi tidak ada dukungan anggaran dari Pemprov, tidak ada. Jadi hanya melalui SKPD. Ya nantinya ke depan kita pun mengajak perusahaan- perusahaan yang ingin bekerja sama dengan kami. OK-OCE bergerak dari tahun 2016, dimana sudah terdaftar 40.000 calon pengusaha dan 17.000 pemegang izin usaha.

Sudah berapa banyak peserta yang mengantongi izin?

Kalau izin usaha mikro dan kecil datanya 17.500 per November. Di dalamnya ada UMK, SKU (Surat Keterangan Usaha), SPPIRT (izin edar untuk pangan),  ada SIUP Mikro Kecil dan izin usaha Industri kecil. Nah total semuanya 17.500.

Berapa lama proses perizinannya? 

Cepat sih, karena dipermudah oleh adanya Pergub dan memang kan ini izinnya untuk binaan. Binaan ini termonitor dari proses pendampingan.

Setelah mendapatkan izin, apa proses selanjutnya?

P5, atau pemasaran. Ada sebagian mereka yang sudah proses di pemasaran. Nah pemasarannya dibantu oleh Pemprov DKI, serta sudah kami latih bagaimana memasarkan secara langsung.

Setelah keuangan, apakah peserta OK-OCE juga mendapat pendampingan?

Ada, yakni pelaporan keuangan. UMKM sendiri kan banyak yang tidak disiplin dengan catatan keuangannya. Mereka kami latih supaya bisa membuat laporan keuangan yang sangat sederhana. Dari sini, mereka sudah disiplin, memisahkan mana uang masuk mana uang keluar. Mereka kami latih juga, bagaimana menentukan harga pokok penjualan. Dimana di dalamnya ada  komponen bahan baku, uang operasional, yang seringkali  mereka menyepelekan tentang uang operasional. 

Soal permodalan, sumber dananya darimana?

Permodalan ,  Alhamdulillah kami berkerja sama dengan Pemprov DKI, malalui Bank DKI. Pak Gubernur meminta Bank DKI untuk membantu program OK-OCE. Karena ini usaha pemula, pinjamannya maksimal Rp10 juta, dan bisa dicicil, antara tiga sampai 18 bulan.

Namun, tidak semua mengambil Rp 10 juta.  Ada yang mengambil cuma Rp 3 juta atau Rp 5 juta.

Jenis usaha apa yang paling tinggi peminatnya?

Paling besar adalah pangan, seperti kuliner, lalu fashion dan kria (kerajinan tangan) . Sebanyak 42 persen merupakan usaha kuliner, 18% fashion dan sekitar 15% kria, dan selebihnya  bisnis-bisnis masyarakat yang lainnya. (plt)

tag: #  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement