Berita

Beredar Video Ferdinand Berdebat Keras dengan Ketua KPU

Oleh Sahlan Ake pada hari Senin, 18 Feb 2019 - 21:02:42 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1550498562.jpg

Ferdinand Hutahaean (kanan) saat mendatangi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman di sela-sela debat putaran kedua, Minggu (17/2/2019) malam kemarin. (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Debat Pilpres putaran kedua yang berlangsung di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) malam, ternyata masih menyisakan sejumlah polemik.

Salah satunya, hari ini, warganet dj media sosial dihebohkan dengan beredarnya sebuah video perdebatan antara Juru bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Ferdinand Hutahaean dengan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arief Budiman. Perdebatan itu terjadi di sela-sela debat. 

Dalam video itu, Ferdinand tampak mendatangi kursi para komisioner KPU yang berada di bagian tengah arena debat. Politisi Demokrat itu memprotes manuver petahana Jokowi yang dinilainya offside karena menyerang personal sang rival Prabowo Subianto.

"Ya betul, saat itu saya mengajukan protes keras kepada KPU dan Bawaslu untuk menegur Jokowi secara terbuka dan mengingatkan bahwa Jokowi telah melanggar aturan dan tata tertib debat, yang tidak membolehkan dan menyerang pribadi," ucap juru bicara BPN Ferdinand Hutahaean, Senin (18/2/2019).

Menurut Ferdinand, Jokowi jelas telah menyerang pribadi Prabowo saat menyinggung kepemilikan lahan Capres nomor urut 02 itu.

"Maka sesuai tatib debat kan dilarang menyerang pribadi, maka kita melakukan protes dan kita minta pada saat itu KPU dan Bawaslu untuk menegur Jokowi pada saat itu juga. Karena ini telah menyimpang dan melanggar tatib, itu lah kenapa kami maju mengajukan protes kepada kPU yang terjadi seperti itu," terangnya.

Dia menuturkan, perbuatan protesnya sempat ditenangkan oleh Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan, yang berada di dekat lokasi.

Namun, Ferdinand menyebut KPU dan Bawaslu tak berani untuk menegur Jokowi secara langsung.

"KPU dan Bawaslu sepertinya tidak berani dan saya tetap keras. Akhirnya, Luhut yang duduk di kursi mencoba menenangkan saya, sembari berkata sudah Fer, sudah Fer. Luhut mencoba meredam marah saya ketika itu," ungkap Ferdinand.

Dia pun mengaku menghormati apa yang disampaikan Luhut. Namun, itu tak membuatnya tenang, dan bahkan BPN sempat ingin memboikot debat.

"Saya hormati Luhut, tapi posisi saya sedang memperjuangkan demokrasi. Maka saya tetap dengan sikap saya untuk protes, bahkan mengancam akan menghentikan debat dengan cara memboikot," jelas Ferdinand.

Namun, menurut dia, sikapnya itu langsung ditenangkan oleh Prabowo. Ketum Gerindra itu, menurut Ferdinand, meminta dirinya tenang tidak memboikot.

"Tapi Prabowo menyarankan kepada saya untuk tidak usah memboikot, biarlah rakyat yang menilai dan kita harus menjaga keberlangsungan demokrasi ini hingga selesai. Itulah kalimat Prabowo yang membuat saya harus mengikutinya," pungkasnya.

Sebelumnya, Jokowi mengungkap, Prabowo Subianto memiliki ratusan hektare lahan yang berada di Kalimantan dan Aceh Timur. Rinciannya, sebesar 220.000 hektare lahan di Kalimantan dan 120.000 hektare di Aceh Tengah.

"Pembagian yang tadi sudah disampaikan 2,6 juta hektare agar produktif. Kita tidak memberikan gede-gede. Saya tahu Pak Prabowo punya lahan luas di Kalimantan Timur sebesar 220.000 hektare, dan 120.000 hektare di Aceh Tengah. Ingat, pembagian-pembagian seperti ini tidak dilakukan di masa pemerintahan saya," kata Jokowi.

Sementara di pernyataan penutup, Prabowo menjawab serangan Jokowi itu. Dia mengakui memiliki lahan yang dituduhkan petahana.

"Tanah saya kuasai ratusan ribu hektare benar, itu HGU (hak guna usaha), milik negara," katanya dalam debat capres kedua di Hotel Sultan, Minggu (17/2).

Dia mempersilakan jika negara mau mengambilnya. "Itu benar, negara bisa ambil. Untuk negara saya rela daripada ke orang asing lebih baik saya kelola. Saya nasionalis dan patriot," katanya. (Alf)

tag: #partai-demokrat  #pilpres-2019  #jokowi  #kpu  #bawaslu  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement