Opini

Kembali Prabowo Buka Kartu: Ternyata Erwin Aksa Biang Keroknya

Oleh Hasan Rio Sumantri, Pemerhati Politik dan Kebijakan Publik pada hari Sabtu, 23 Mar 2019 - 19:30:50 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1553344310.jpg

Erwin Aksa dan Sandiaga Uno (Sumber foto : Istimewa)

Deklarasi 1000 pengusaha berbalik badan mendukung pasangan calon 02 Prabowo-Sandi tergabung dalam Aliansi Pengusaha Nasional (21/03/2019). Banyak diulas baik berita dan opini terkait gebrakan ini yang menurut Rocky Gerung ulah Erwin Aksa bikin geger satu republik. Namun satu yang tertinggal isunya yaitu buka kartunya Prabowo, sejak tahun 2014 di saku celananya hanya ada Erwin Aksa dan Sandiaga Salahuddin Uno.

Kenapa Erwin Aksa masuk dalam radar Prabowo sejak 2014? Karena intuisi politiknya kuat bahwa Indonesia ke depan memang harus yang muda-muda tampil, mapan dan berkualitas memimpin Indonesia. Dalam tataran praktis tentu Erwin Aksa masuk dalam skala prioritas Prabowo. Mengapa? Karena ia lebih dulu berpartai dari Sandi dan sudah memiliki basis massa yang solid sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), selain tentu saja pertimbangan praktis Jawa dan Non Jawa.

Konfigurasi Elit Ala Erwin AKsa

Kegagalan Prabowo membujuk keduanya tidak seratus persen gagal. Karena pada 2104 hanya kalah tipis dan masih menyimpan banyak misteri kekalahan itu. Prabowo mewarisi darah pejuang tetap tegar tak ada kamus hidupnya bersedih akibat dua orang yang menjadi pilihannya membelot di Batu Tulis Bogor. Di sinilah Erwin Aksa berperan memainkan kartunya sendiri dan ini belum banyak diulas. Jika almarhum Benyamin Sueb Biang Kerok yang membuat kita tertawa. Erwin Aksa Biang Kerok yang membuat kita bahagia.

Pemicunya adalah pengkhianatan Batu Tulis, peta politik nasional berubah dan momentumnya pada Pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Konfigurasi Elit Parpol terbelah pada pemilihan siapa bakal calon gubernur yang mendampingi Sandiaga S Uno yang belakangan berpartai dan gesit turun ke bawah. Karena bujukan Prabowo tak kenal lelah pada Sandi lewat Mien Uno berhasil, Sandi akhirnya masuk dalam satu partai. Namun dala aras praktis terjadi negosiasi alot siapa bakal calon yang mendampingi. Partai partai koalisi masing-masing punya jago.

Di sinilah Erwin Aksa memainan kartunya, ia rubah konfigurasi elit. Ia masuk tergopoh-gopoh menawarkan sosok Anies Baswedan, tentu Erwin tak sendiri ada tokoh tokoh senior yang mendampingi menyakinkan Prabowo. Serangan fajar berhasil menyakinkan Prabowo yang memang sudah mengenal dekat secara pribadi sosok Anies Baswedan.

Anies pun dalam wawancara dengan Mata Najwa buka-bukaan ihwal penolakan elit partai politik koalisi atas pencalonannya tapi kepemimpinan Prabowo yang kuat, everybody happy. Lama publik bertanya siapa yang menyodorkan Anies ke Prabowo? Dugaan kuat adalah ulah Erwin dan Sandi. Prabowo taktis menerima usulan kilat itu karena secara pribadi sudah mengenal sosok Anies. Namun secara pribadi kedekatan Anies dan Erwin Aksa lebih dekat Erwin. Karena 2014 Anies ada di kubu lain. Dan Prabowo mengakui sejak 2014 sudah meminta Erwin Aksa.

Setelah Anies dan Sandi lolos pemenang dalam Pilgub DKI. Tugas Pilpres dimainkan Erwin sembunyi-sembunyi. Karena permasalahan selanjutnya adalah bagaimana menggolkan tujuan paket pendamping Prabowo? Sandi kerap menyatakan mentor politiknya adalah Prabowo. Namun teman diskusi politiknya yang paling kencang adalah Bung Erwin Aksa.

Erwin Aksa tipikal jago berhitung dan biasa utak-atik gathuk dalam politik. Sedangkan Sandi hanya pandai menghitung lepas atau tidak lepas sebuah saham. Namun Erwin sepertinya kurang cakap komunikasi maka ia mewakafkan kawan karibnya itu di pentas politik, Sandiaga S Uno. Karena boleh jadi andai blunder demi blunder petahana tidak terjadi, Erwin tetap nyaman main dua kaki oops main di belakang layar maksudnya.

Sandi  harus diakui pembelajar yang cepat dalam politik  dan ia piawai dalam men-deliver sebuah gagasan selain tentu good looking adalah magnet dan intuisi yang dilihat Erwin. Keputusan Sandi keluar dari posisi Wakil Gubernur dan partai Gerindra tentu hasil konsultasi semua orang-orang terdekatnya salah satunya Bung Erwin Aksa.

Dari buka-bukaan Prabowo Subianto ingin meminang Erwin Aksa sejak 2104 dan rangkaian dinamika politik yang dinamis baik di Pilgub DKI 2017 dan di Pilpres 2019 dengan tampilnya sosok fenomenal Anies Baswedan dan Sandiaga S Uno last but not least adalah ulah Erwin Aksa biang keroknya. Karena Erwin bermain dengan momentum, ia sudah berhitung matang sebagai pengusaha politisi.

Keliru jika Rocky Gerung bilang ia bikin geger republik dua hari sejak surat pengunduran dirinya non aktif di partai Golkar. Dan memilih menyatakan sikapnya pada pasangan calon 02, yaitu Prabowo Sandi. Karena sebenarnya ia dan Sandi sepertinya sedang “merancang Rengasdengklok jilid dua”. Keduanya Erwin dan Sandi Berhasil menyakinkan Prabowo untuk “menculik” Anies.

Jika Rengadengklok pertama berhasil menculik Soekarno-Hatta untuk menyatakan kemerdekaanya. Maka Erwin Aksa  politisi last minute yang pandai berhitung sedang bergerilya memainkan momentum. Dalam hitungan hari ia bisa menggalang 1000 pengusaha menyatakan sikap adalah kerja politik brilian siap mengantarkan kemenangan Indonesia. Prabowo pun tersenyum lepas malam itu. Dejavu Debat Pilpres pertama terjadi. Prabowo joget Sandi memijat. Prabowo terlihat bahagia pada deklarasi yang menghadirkan keduanya, Erwin dan Sandi.

Disclaimer : Kanal opini adalah media warga. Setiap opini di kanal ini menjadi tanggung jawab penulis. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai aturan pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini dan Redaksi akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang.

tag: #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :

Kemendagri RI
advertisement
JakOne Mobile

Advertisement