Oleh Bachtiar pada hari Senin, 18 Jan 2021 - 10:40:43 WIB
Bagikan Berita ini :

PISPI Sebut Swasembada Pangan Bukan Hal Mustahil

tscom_news_photo_1610941243.jpg
Kamhar Lakumani Politikus Partai Demokrat (Sumber foto : Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Sekjen Badan Pengurus Pusat Perhimpunan Sarjana Pertanian Indonesia (BPP PISPI) Kamhar Lakumani menilai, terwujudnya swasembada sektor pangan agar Indonesia terbebas dari kran impor bukan sesuatu hal yang mustahil.

Hal tersebut disampaikan Kamhar menanggapi kegeraman Presiden Jokowi soal komoditas pangan yang hingga saat ini masih impor hingga jutaan ton seperti kedelai, jagung, gula, dan bawang putih yang saat ini masih impor sampai jutaan ton.

"Kalau pertanyaannya apakah bisa berswasembada, jawabannya pasti bisa. Tapi ini butuh pendalaman lebih lanjut," kata Kamhar, Senin, (18/1/2021).

Terwujudnya swasembada, lanjut Kamhar, harus dapat dihitung dengan berbagai aspek sudut pandang. Menurut Kamhar, sektor pangan tak bisa hanya dilihat dari kacamata ekonomi.

"Mesti juga dipandang dari aspek politik, sosial, budaya dan sebagainya, mengingat pangan adalah sektor ibu, sektor dasar yang pemenuhannya tak bisa ditawar-tawar, apalagi digantikan. Sehebat dan sesukses apa pun kita atau suatu sektor, tanpa pangan atau makan, its nothing," tandas Kamhar.

Kamhar mengingatkan, untuk komoditas gula, Indonesia pernah menjadi negara penghasil terbesar di dunia saat masa kolonial. Namun makin kesini, lanjut Kamhar, produktifitas semakin menurun, sementara kebutuhan akan gula semakin meningkat.

"Konsumsi gula untuk industri makanan dan minuman terus meningkat.Ironisnya tingginya sisi permintaan ini tak mampu diimbangi kesiapan dan penyesuaian di sisi penawaran, utamanya peremajaan dan peningkatan kapasitas dan daya dukung teknologi," tutur Kamhar.

Kamhar juga menerangkan, di masa kolonial rendemen gula masih di atas 10% sementara beberapa dasawarsa terakhir kurang dari 10%.

"Tentunya ini hanya satu hal. Untuk kembali mengulang sejarah, menikmati manisnya kejayaan sebagai negara penghasil gula terbesar di dunia, membutuhkan pendekatan dan penanganan yang komprehensif, terintegratif dan presisi, mengingat industri ini juga padat modal," ungkap Kamhar.

Tidak hanya gula, Kamhar memandang, untuk kedelai sangat membutuhkan rekayasa teknologi dan genetik dalam pengembanganya.

Hal ini, tegas Kamhar, diperlukan mengingat kedelai adalah tanaman yang berasal dari daerah sub-tropis, tentunya jika dibudidayakan di daerah tropis menjadi berbeda.

"Lebih tepatnya berkurang produksinya. Ini kendala sekaligus tantangan alamiahnya," tandas Kamhar.

tag: #pangan  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Banner Ramadhan Ir. Ali Wongso Sinaga
advertisement
Banner Ramadhan H. Singgih Januratmoko, S.K.H., M.M.
advertisement
Dompet Dhuafa: Sedekah Yatim
advertisement
Banner Ramadhan Mohamad Hekal, MBA
advertisement
Banner Ramadhan Sartono Hutomo, SE, MM
advertisement
Dompet Dhuafa: Parsel Ramadan
advertisement
Dompet Dhuafa: Zakat Fitrah
advertisement
Domper Dhuafa: Sedekah Quran
advertisement
Lainnya
Berita

Tak Sesuai Dengan Beberapa UU, TB Hasanuddin Desak Pemerintah Cabut PP 57/2021 Tentang SNP

Oleh Sahlan Ake
pada hari Jumat, 16 Apr 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Anggota Komisi I DPR RI Mayjen TNI (purn) TB Hasanuddin mengecam terbitnya Pemerintah (PP) No 57 Tahun 2021 Tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP). Dalam PP ini ...
Berita

Larangan Mudik, Doni Monardo: Jangan Ada Yang Keberatan Agar Tidak Menyesal

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sekaligus Ketua Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19 Letjen TNI Dr. (H.C.) Doni Monardo tak hentinya mengingatkan kembali ...