Bisnis
Oleh Rihad pada hari Thursday, 03 Jun 2021 - 19:59:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Utang Garuda Bengkak Hingga Rp70 Triliun, Apa Yang Bisa Dilakukan Kementerian BUMN?

tscom_news_photo_1622723828.jpg
Ilustrasi pesawat Garuda Indonesia (Sumber foto : ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Masalah yang dihadapi Garuda Indonesia sungguh berat. Permasalahan Garuda Indonesia di masa lalu terkait masalah sewa yang melebihi biaya (cost) produksi yang wajar dan memang jenis pesawatnya terlalu banyak. Sebagai contoh Garuda memiliki pesawat jenis Boeing 737, Boeing 777, Airbus A330, sampai dengan Bombardier sehingga efisiensinya menjadi bermasalah.

Kemudian rute-rute yang dilayani oleh Garuda Indonesia sendiri merupakan rute-rute penerbangan yang tidak menguntungkan. Sebenarnya pada tahun 2019 untuk rute domestik meraih keuntungan namun untuk rute penerbangan luar negerinya merugi.

Setelah Covid-19 timbul permasalahan baru, utang yang awalnya berada di kisaran Rp20 triliun menjadi Rp70 triliun, ini membuat posisi Garuda saat ini secara neraca dalam posisi unsolved karena utang dan ekuitasnya sudah tidak memadai untuk mendukung neracanya.

Demikian diungkapkan Wakil Menteri II BUMN Kartika Wirjoatmodjo. "Untuk itu apabila kita akan melakukan restrukturisasi yang sifatnya fundamental, utang 4,9 miliar dolar AS atau setara Rp70 triliun ini harus menurun ke kisaran 1 sampai dengan 1,5 miliar dolar AS," kata Kartika dalam Rapat Kerja Komisi VI DPR RI di Jakarta, Kamis (3/2021).

Menurut dia, apabila Garuda Indonesia bisa melakukan restrukturisasi besar-besaran dan efisiensi maka Garuda bisa bertahan, namun usaha ini membutuhkan negosiasi dan proses hukum yang berat karena melibatkan berbagai pihak.

Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan masalah yang menimpa Garuda Indonesia mau tidak mau harus diselesaikan dengan upaya penyelamatan restrukturisasi melalui proses legal internasional dan moratorium dalam waktu dekat.

"Kita sudah menunjuk konsultan hukum maupun konsultan keuangan untuk memulai proses ini dan memang harus segera melakukan moratorium atau standstill dalam waktu dekat, karena tanpa moratorium cash Garuda akan habis dalam waktu yang sangat pendek sekali. Ini yang harus kami tangani segera," ujar Kartika.

Ia mengatakan Kementerian BUMN sekarang secara intensif sedang berbicara dengan pihak manajemen termasuk pemegang saham minoritas dan Kementerian Keuangan bagaimana proses restrukturisasi Garuda Indonesia ke depan harus mampu mengurangi utang ini.

Jadi yang sedang dirumuskan pola-polanya maupun proses legalnya karena masalah Garuda Indonesia ini melibatkan pemberi sewa atau lessor juga ada pemberi pinjaman dalam bentuk Global Sukuk Bond yang dimiliki oleh para pemegang sukuk dari Timur Tengah.

"Dengan demikian mau tidak mau kalau kita harus melakukan negosiasi ulang secara internasional harus melalui proses legal internasional, karena tidak bisa hanya di Indonesia mengingat justru mayoritas daripada utang Garuda kepada lessor dan pemegang obligasi sukuk internasional," ujar Wamen BUMN tersebut.

tag: #garuda-indonesia  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
TS.com Vacancy: Marketing
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

Kisah Sukses UMKM Asal Depok Lakukan Digitalisasi Bisnis Berkat Pendampingan Telkom

Oleh Bachtiar
pada hari Senin, 14 Jun 2021
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Berbagai cara dilakukan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk mempertahankan usahanya selama pandemi Covid-19 terjadi. Salah satu langkah yang diambil dan ...
Bisnis

Ketua APPSI: Sembako Dikenai PPN Tanda Pemerintah Bokek

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Rencana pemerintah mengenakan pajak pertambahan nilai (PPN) terhadap kebutuan bahan pokok (sembako) membuktikan negara sedang tidak punya uang alias bokek. Rencana ...