Pengamat: Opini Kecurangan Liar, Karena KPU Umumkan Hasil Pilpres Tengah Malam

Oleh Ferdiansyah pada hari Jumat, 24 Mei 2019 - 16:39:56 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1558690796.jpg

Ketua KPU Arief Budiman (tengah) saat memimpin rapat pleno KPU di gedung KPU, Jl Imam Bonjol, Jakarta Pusat, Selasa (21/5/2019) dini hari. (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Sejumlah kalangan mempertanyakan langkah KPU yang mengumumkan hasil rekapitulasi Pilpres 2019, pada Selasa (21/5/2019) tengah malam. 

Hal ini merupakan yang pertama kali sepanjang sejarah Pemilu di Tanah Air, dimana pemenang Pilpres dan Pileg diumumkan saat mayoritas rakyat Indonesia sedang tertidur pulas. 

KPU mengumumkan Jumlah perolehan suara Jokowi-Ma"ruf sebanyak 85.607.362 atau 55,50 persen suara, sedangkan perolehan suara Prabowo-Sandi sebanyak 68.650.239 atau 44,50 persen suara. Selisih suara kedua pasangan 16.957.123 atau 11 persen suara.

Namun hingga tanggal 24 Mei 2019, pukul 09.30 Wib dini hari, website situng KPU baru menyelesaikan rekapitulasi di 770.715 TPS yaitu sekitar 94,75% TPS dari jumlah keseluruhan 813.350 TPS se-Indonesia.

Sontak, hal ini menimbulkan kejanggalan dan persepsi berbeda di masyarakat. Di satu sisi KPU telah mengumumkan hasil final Pilpres 2019, namun disisi lain website resmi KPU masih melakukan rekapitulasi dan belum selesai.

Menanggapi hal ini, pengamat politik dari universitas Islam Syekh Yusuf (UNIS) Tangerang, Adib Miftahul mengatakan, bahwa ketidaksingkronan Situng dan Rekap Manual didalam institusi KPU menyebabkan opini publik menjadi liar, apalagi dalam kondisi suasana politik yang makin memanas seperti saat ini.

Hal ini juga dinilai telah memperkeruh suasana, seolah-olah ada sesuatu yang terjadi dalam tubuh KPU. Sehingga membuat ribuan massa bereaksi dengan melakukan unjuk rasa di Bawaslu pada 21 dan 22 Mei kemarin.

"Pengumuman KPU itu tidak singkron dengan proses website situng KPU. Walaupun KPU telah menjelaskan bahwa hasil yang menjadi patokan adalah rekapitulasi manual, namun perbedaan mekanisme yang dibiarkan terus ini, telah membentuk opini publik menjadi liar," ujar dosen FISIP itu.

Dengan kondisi opini liar tersebut, masyarakat menduga ada kecurangan yang salah-satunya terjadi pada situng KPU, sehingga membuat sekelompok masyarakat merasa tidak puas.

Hal ini kemudian menjadi stigma tersendiri di publik, apalagi keputusan Bawaslu telah meminta agar KPU melakukan perbaikan pada sistem situng KPU.

"Ini bagi masyarakat khususnya pendukung paslon 02 menjadi penguat dugaan adanya kecurangan. Saya kira KPU perlu mengambil langkah tepat sebagai penyejuk, ditengah situasi politik yang kian memanas ini" pungkas Adib.

Adib mengatakan, bahwa opini liar ini menjadi semakin kuat dengan belum dituntaskannya persoalan DPT yang diduga bermasalah, sementara pemilu sudah selesai.

"Saya kira KPU harus koreksi diri, banyak hal yang belum dituntaskan secara final, namun dijalankan terus, salah satunya tentang dugaan adanya DPT bermasalah, penyebab meninggalnya ratusan pengurus KPPS, ditambah lagi dengan pengumuman hasil akhir pada dini hari dikala proses situng belum selesai. Ini yang memperkuat opini liar dimasyarakat," tutur Adib.

Selanjutnya, Adib menyarankan, agar KPU dapat mengelar konfrensi pers secara terbuka, untuk menjelaskan poin-poin yang selama ini masih menjadi PR.

"Saya sarankan agar KPU memberikan keterangan publik secara terbuka dan seluas-luasnya tentang poin-poin yang sampai saat ini masih menjadi PR mereka. Keterbukaan informasi publik dari KPU ini perlu untuk meluruskan opini yang terbentuk saat ini" tutup Adib. (Alf)

tag: #kpu  #pilpres-2019  

Bagikan Berita ini :