Opini
Oleh M Rizal Fadillah (Mantan Aktivis HMI) pada hari Minggu, 26 Mei 2019 - 14:03:02 WIB
Bagikan Berita ini :

Bloody Hands

tscom_news_photo_1558854182.jpg
Ilustrasi Media Australia (Sumber foto : Ist)

Media Australia "The Courier Mail" pernah menjadikan headline beritanya soal Presiden Jokowidengan judul "Bloody Hands" saat peristiwa yang menimpa WN Australia yang dieksekusi kasus narkoba yang dikenal denganBali Nine tahun 2015. Dalam media itu digambarkan Presiden berpakaian jas dasi tersenyum dengan tangan kanan terangkat dan tapak tangannya bersimbah darah. Tentu itu adalah reaksi Australia atas hukum tembak yang dilaksanakan Pemerintah terhadap warga negaranya. SedangkanHerald Sun memberi gambar sampul wajah Jokowi dengan tulisan "Portrait of the Killer".

Nah entah dari mana asal muasalnya kini tiba tiba beredar kembali di medsos kita media Australia dengan profil Presiden Jokowi "tangan berdarah" di tengah peristiwa tragedi penembakan dan tindakan brutal aparat kepolisian Indonesia dalam menangani aksi 21-22 Mei yang menewaskan dan melukai banyak peserta aksi damai tersebut. Menampilkan sosok sang Presiden yang mesti bertanggungjawab atas pembunuhan atau pembantaian di area gedung Bawaslu dan sekitarnya seperti Petamburan Tanah Abang. Tangan Presidenyang berdaran--Bloody Hands.

Ditambah dengan tewasnya hampir 700 pelaksana Pemilu di bulan sebelumnya, maka Pemilu saat ini telah menimbulkan "tragedi berdarah" yang luar biasa. Meski dirasakan aneh oleh rakyat bahwa Pemerintahan Jokowi menyikapi hal ini dengan "adem ayem" saja. Tak ada kebijakan krisis yang seharusnya diambil. Mungkin cocok dengan foto tertawa di media Australia tersebut.
Jatuhnya korban tanpa upaya pencegahan sehingga terkesan adanya pembiaran itu dalam hukum bisa masuk dalam kategori suatu kejahatan (crime by omission).

Presiden yang tidak menindak aparat yang melakukan perbuatan melawan hukum apalagi pelanggaran berat HAM tentu menjadi penanggungjawab atas kejahatan tersebut. Nampaknya pas jika kasus Pemilu saat ini beban tanggungjawab ada pada Presiden. Sebab Jokowi di samping sebagai kandidat juga de facto dan de jure adalah Presiden Republik Indonesia. Pengendali dan Kepala Pemerintahan. Darah yang mengalir baik akibat tindakan aparat maupun sikap pembiaran adalah "the bloody hands" sang Presiden. Tuntutan akan berlanjut untuk aspek pertanggungjawaban politik dan hukum.
Meskipun masih bisa tersenyum bahkan tertawa namun tangan Presiden memang telah berlumuran darah.
Bloody hands, Mr President !

Bandung, 26 Mei 2019 (*)

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #jokowi  #pemilu-2019  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Opini Lainnya
Opini

Ancaman Donald Tump Berlebihan

Oleh Heri Gunawan Anggota komisi XI DPR RI Dari Fraksi Partai Gerindra
pada hari Sabtu, 06 Jun 2020
Pemerintah memang harus berupaya dan terus bekerja keras meningkatkan penerimaan negara melalui pajak. Apakah melalui sumber-sumber yang sudah ada dan masuk dalam aturan perundangan kita, maupun ...
Opini

Kartu Pra Kerja, Peluang dan Tantangan dalam Era Revolusi Industri 4.0

Revolusi Industri 4.0 tidak hanya menciptakan peluang, namun juga tantangan bagi Indonesia.  Revolusi Industri 4.0 mendorong inovasi teknologi yang memberikan dampak perubahan terhadap kehidupan ...