Review Buku Karya Ayu Arman: Raja Ampat (Mitos, Legenda dan Kepahlawanan)

Oleh Elang Galuh pada hari Sabtu, 31 Agu 2019 - 21:45:13 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1567262713.jpg

Ilustrasi buku "Raja Ampat: (Mitos, Legenda dan Kepahlawanan)" karya Elang Galuh. (Sumber foto : Ist)

Seperti saya, mungkin banyak anak-anak di luar sana yang semasa kecilnya selalu diceritakan dongeng penghantar tidur. Dongeng itu bisa darimana saja asalnya, mungkin yang bercerita melakukan pengarangan, atau justru memiliki sumber yang jelas. Seperti misalnya cerita mengenai Lutung Kasarung, Sangkuriang atau Timun Mas. Cerita-cerita tersebut tersebar dari mulut ke mulut, menjadi cerita rakyat yang kemudian diadaptasi oleh sebagian orang menjadi sebuah dongeng untuk menemani anak-anak tertidur.

Mengapa anak-anak butuh cerita dongeng? Di dalam sebuah dongeng, tersimpan pesan kebaikan moral. Seperti saya dahulu yang seringkali diceritakan mengenai si kancil anak nakal. Setelah dewasa, nilai larangan mencuri atau mengambil apa-apa yang tidak menjadi hak saya seperti pesan cerita tersebut, terpatri di dalam batin. Selain itu, dongeng yang diceritakan akan membangun konstruksi imajinasi dan perkembangan pemikiran si anak. Hal ini tentu akan meningkatkan kemampuan si anak ketika dewasa, terutama pada aspek kognitif anak.

Tetapi di era modern seperti sekarang, kultur literasi termasuk di dalamnya melakukan kegiatan membacakan cerita kepada anak sungguhlah perbuatan yang langka. Orangtua seolah sibuk menjalani peran tunggalnya tanpa memikirkan kejamakan pertumbuhan anak. Peran tunggal itu memaksa orangtua bersikap kaku terhadap tumbuh kembang anak. Sekadar memberi makan, mencukupi kebutuhan gizi, memenuhi keinginan si anak dengan berbagai perangkat modern seperti gadget, lantas para orangtua masa kini mengharapkan anak dapat memiliki pola pikir yang konstruktif. Padahal dengan begitu, semakin mendegradasi kemampuan berpikir anak karena menjalani keseharian yang normatif. 

Terutama gadget. Saya agaknya menyesali betapa banyak orangtua yang sudah mengenalkan kemajuan zaman kepada sang anak sedari dini. Dengan cara mendekatkan berbagai tekhnologi modern kepada si anak, membiarkan anak mengakses jendela globalisasi melalui perangkat tersebut dan tanpa tuntunan orangtua, si anak mulai menelusup ke berbagai ragam pengetahuan. Maka selain akan ada kemungkinan pemikiran si anak terdegradasi, bisa jadi pula, pemikiran si anak tumbuh dewasa lebih cepat sebelum waktunya. Apakah itu baik?

Tidak sama sekali. Kecepatan tumbuh kembang pola pikir anak akan berakibat negatif bila tidak diikuti pedoman serta norma yang ditetapkan oleh lingkungan sosialnya. Mirisnya, potensi risiko pelanggaran norma ini akan mengalami kecenderungan yang dominan jika si anak dibiarkan begitu bebas memasuki jendela-jendela globalisasi tanpa ia tahu darimana tapaknya mulai berjalan. Itulah mengapa akhir-akhir ini, generasi muda bangsa Indonesia seolah mengalami kemunduran terutama dalam penerapan norma kesusilaan. 

Seringkali kita lihat, bagaimana seorang murid sekolah melawan gurunya atau tindak kriminal yang sudah di luar batas nalar dilakukan oleh mereka, anak-anak. Sebab itu terjadi? Karena sekali lagi, mereka tidak mengenal tapak kehidupan sedari dini. Media cerita rakyat yang dibalut dengan dongeng ini bisa membantu bagaimana mengarahkan pola pikir dan menghadapi kehidupan di zaman modern bagi anak-anak saat menjelang kehidupan remaja hingga dewasa.
Ulasan Buku.

Seperti layaknya cerita rakyat yang memenuhi unsur penyebutan sebagai dongeng. Buku terbaru karya Ayu Arman dengan judul Raja Ampat: Mitos, Legenda dan Kepahlawanan sangat kaya akan pesan moral di dalamnya. Selain itu, Ayu Arman sendiri bercerita, setiap kisah yang tersaji di dalam buku tersebut ia gali dari dasar tanah terdalam, diangkat ke permukaan, berbentuk hanya sepotong-sepotong. Tetapi spirit atau jiwa dari cerita yang dipertahankan secara turun temurun di Raja Ampat, Papua ini tak lekang oleh waktu. Ayu Arman pun merajut bahan sepotong itu menjadi utuh kembali tanpa menanggalkan pesan atau amanat cerita yang hendak disampaikan.  

Misalnya dalam cerita pertama yang berjudul, Tujuh Telur Kali Raja. Di cerita ini, Ayu Arman menyibak kisah mengenai sepasang suami istri di Kampung Wawiyai yang bernama Aliyab dan Bukidemi. Di Kampung Wawiyai, suami istri itu tinggal di bantaran Kali Raja, begitu orang Raja Ampat terbiasa menyebutnya. Suatu hari mereka bermaksud mencari ikan, tetapi malah menemukan tujuh telur sebesar kepalan tangan orang dewasa. Mereka tidak tahu telur apa itu, dan membawanya pulang. 

Di rumah, sang istri Bukidemi, ingin merebus telur yang ditemukannya. Tetapi dilarang oleh Aliyab, suaminya. Aliyab ingin tahu, telur apa ini sebenarnya, karena sebelumnya ia tidak pernah melihat telur seperti itu. Akhirnya mereka rawat telur itu, menunggu untuk menetas. Keesokan harinya, suami istri itu kaget karena telur menetaskan enam bayi manusia, lima laki-laki dan satu perempuan. Sementara satu telur lagi tidak menetas. Waktu terus berlalu, alih-alih menetas, satu telur itu malah membatu. 

Dan telur yang membatu itu diletakkan di Gua Tebing Kali Raja tak jauh tempatnya dari asal telur ditemukan. Dalam kutipan perkataan Aliyab kepada Bukidemi ia berucap, “Telur ini bukan sembarang telur. Ini telur suci yang diturunkan dewa dari langit. Telur yang membatu itu sebaiknya kita kembalikan ke tempat asalnya agar suatu saat anak-anak kita mengetahui asal keberadaannya.” 

Pada kenyataannya, di Gua Tebing Kali Raja memang terdapat sebongkah batu yang bulatann menyerupai bentuk telur secara sempurna. Cerita inilah yang berkembang di masyarakat mengenai asal usul batu telur Kali Raja. Kak Ayu mendapatkan bongkahan cerita tersebut dan ia rajut kembali secara seksama. Batu telur itu pun dipercaya menjadi penjaga setia Kali Raja hingga kini. 

Sedangkan keenam telur lain yang menetas menjadi anak itu dipelihara dengan baik oleh Aliyab dan Bukidemi, hingga mereka dewasa. Singkat cerita, satu anak perempuan yang bernama Pintakee pergi dari pulau tempat Aliyab dan Bukidemi hidup. Pun dengan satu anak laki-laki lain yang bernama Kalimuri. Ia tidak tahan selalu disudutkan oleh kakak-kakaknya akibat masalah yang menyebabkan Pintakee pergi. 

Selepas kepergian Pintakee serta Kalimuri, ketiga anak laki-laki lainnya juga memutuskan untuk pergi dari sisi Aliyab dan Bukidemi. Satu anak yang bernama Huntusan pergi ke Pulau Salawati, satu orang yang bernama Dohar kemudian ikut pula pergi dengan berlayar ke Batanta, dan anak yang bernama Malaban pergi ke Misool. Sementara, anak yang dianggap tertua oleh Aliyab dan Bukidemi, War, tetap berada di sisi mereka, di Pulau Waigeo. Dari sinilah legenda mengenai empat kerajaan di empat kepulauan berasal, hingga kemudian wilayah itu terkenal dengan sebutan Raja Ampat hingga sekarang.

Cerita mengenai Tujuh Telur Kali Raja ini adalah pembuka. Tapak awal merajut benang kisah dari satu penggalan ke penggalan lainnya. Selain ‘Tujuh Telur Kali Raja’, saya secara pribadi menyukai cerita yang berjudul ‘Min Genyim, Si Burung Penolong’. Cerita ini sarat dengan pesan moral. Sangat cocok diceritakan kepada anak-anak agar mereka senantiasa mengingat tanah kelahiran serta awal kali nafas memberikannya kehidupan. Karena pada penutup ceritanya, kesimpulan yang kita dapat adalah, “Sejauh apapun kita melangkah mencari penghidupan dari tempat berawal, jangan pernah lupakan tanah yang menjadi tempat kita berasal.” 

Selain kedua cerita tersebut, masih ada delapan belas cerita lain dalam 182 halaman yang dituliskan. Seluruh cerita bersumber dari penuturan masyarakat di tiga titik lokasi wilayah Kabupaten Raja Ampat, Papua. Ayu Arman sempat mengungkapkan, dari tiga titik itu jika dikumpulkan bisa menjadi dua puluh cerita. Jika Indonesia mau dan mulai memprasastikan cerita dari mulut ke mulut mengenai legenda lokal serta kearifan tanah setempat, akan ada ribuan cerita yang terkumpul. Dari ribuan cerita itu, anak-anak Indonesia agaknya akan terfokus pada nusa bangsanya ketimbang harus menjejali diri dengan cerita fiksi ala Jepang atau Amerika.    

Di dalam buku ini, Kak Ayu menarasikannya dengan sangat baik, ia menggunakan tutur bahasa yang mudah dicerna dan penempatan setiap tanda baca menjadikan si pembaca mampu mendengungkan intonasi yang tepat pada tempatnya. Keunggulan lain dalam karya Ayu Arman ini, ia sanggup mendeskripsikan kondisi alam Papua, khususnya di wilayah Raja Ampat dengan sangat mendetail. Namun, tampilan detail yang diuarkannya tidak berbelit, ia sangat efektif menggunakan kalimat. Sekali lagi, fantasi serta imajinasi anak-anak pasti akan langsung terstimulus dengan tulisan seperti ini. 

Tak kalah menarik dari isi cerita, buku ini juga dilengkapi ilustrasi bergambar yang kaya akan warna. Jika anak-anak telah beranjak dari usia dini dan mulai bisa mengeja tulisan, mereka akan gemar membolak-balikkan buku ini karena gambar tampilan ilustrasi yang menyempurnakan bacaan. Saya rasa, buku ini akan menjadi salah satu surga imajinasi bagi anak-anak Indonesia, tidak hanya bagi anak-anak Papua, untuk mengenal betapa beragamnya tanah tempat mereka hidup dengan kisah heroisme, kepedulian terhadap sesama, norma sosial, bahkan etika kepada lingkungan sekitar. 

Jika kita, bangsa Indonesia perduli akan masa depan anak yang hendak meresapkan nilai kebangsaan dalam meniti alam modernisasi. Buku semacam dongeng dari alas kearifan lokal seperti yang Ayu Arman tuliskan sangat penting dimiliki. Keberadaan buku juga penting untuk mengenalkan anak akan budaya literasi. Sehingga seberapapun dunia modern mencoba menyingkirikan keberadaban Indonesia melalui generasi mudanya, mereka akan tetap kokoh berprinsip bahwa saya cinta Indonesia, saya cinta tanah air ini, seperti saya mencintai alas bumi tempat saya berpijak. Pada akhirnya, saya sangat merekomendasikan buku ini. (*)

tag: #papua  

Bagikan Berita ini :