Berita

Lebih dari 2 Ribu Warga Tangani Tumpahan Minyak di Laut Karawang

Oleh Ferdiansyah pada hari Jumat, 20 Sep 2019 - 15:59:00 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

tscom_news_photo_1568968562.jpg

Ilustrasi (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --PT Pertamina Hulu Energi (PHE), anak usaha dari PT Pertamina (Persero) masih melakukan penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak di Karawang, Jawa Barat. Kebocoran gas dan tumpahan minyak tersebut berasal dari Sumur YYA-1 Blok Offshore North West Java (ONWJ) yang berlokasi di Lepas Laut Jawa Barat, Karawang.

Hingga saat ini, penanganan masih dilakukan untuk tiga aspek, yaitu pengendalian sumur, penanganan di laut, dan penanganan di darat. Koordinasi dengan pihak-pihak terkait pun terus dilakukan sehingga proses penanganan dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan.

Direktur Utama PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Meidawati mengatakan, upaya penanganan tumpahan minyak melibatkan sejumlah pihak. Masyarakat juga dilibatkan dalam upaya tersebut.

Dia menjelaskan upaya penanganan meliputi penanganan jangka pendek jangka menengah, dan jangka panjang. "Ini salah satu program yang kami lakukan. Ini awal rangkaian berkelanjutan baik jangka menengah dan jangka ke depan," kata dia, di Jakarta, Jumat (20/9/2019).

Untuk penanganan jangka pendek, lanjut Meidawati, pihaknya melibatkan masyarakat. Tercatat lebih dari 2.000 orang dari unsur masyarakat yang terlibat untuk membersihkan tumpahan minyak di darat.

"Jangka pendek melibatkan masyarakat. Pembersihan di darat lebih 2.000 orang. Tidak hanya yang terdampak dan kita juga membangun posko," jelas dia.

Direktur Hulu PT Pertamina (Persero), Dharmawan H. Samsu menegaskan, pihaknya berkomitmen untuk menjalankan upaya penanggulangan tumpahan minyak. Koordinasi dengan berbagai pihak terus dijalankan.

"Secepatnya dilakukan penanggulangan dan tanpa lelah. Karena kami yakin upaya ini dapat menunjukkan masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan Pertamina ada BUMN terus akan berada di Indonesia. Misi kami the power house dan menjaga keberlangsungan suplai energi," tandasnya.

Penanganan Dinilai Baik

Pengamat Energi dari Energy Watch Indonesia (EWI), Ferdinand Hutahaean menilai, penanganan kebocoran gas dan tumpahan minyak dari anjungan yang dioperasikan PT. Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) terus intensif dilakukan.

PHE ONJW memprioritaskan penanganan insiden Sumur YYA yang berlokasi di Lepas Laut Jawa Barat, Karawang. Hingga saat ini, penanganan masih dilakukan untuk tiga aspek, yaitu pengendalian sumur, penanganan di laut dan penanganan di darat.

Vice President Relations Pertamina Hulu Energi Ifki Sukarya menjelaskan, pihaknya terus berkordinasi dengan pihak-pihak terkait sehingga proses penanganan saat ini dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang ditentukan. 

"Penanganan yang sudah berjalan dua bulan ini saya nilai sudah baik dan telah sesuai dengan standar industri migas di berbagai belahan dunia,” kata Ferdinand saat dihubungi Jumat (20/9). 

Dia mengungkapkan, perkembangan penanganan tumpahan minyak oleh Pertamina patut diacungi jempol, terutama dalam hal kecepatan dan kesigapan BUMN tersebut, termasuk memberikan ganti rugi sosial terhadap masyarakat yang terdampak. 

Menurutnya, sejak peristiwa terjadi 12 Juli, Pertamina telah melakukan tindakan cepat dengan mengirimkan kapal, oil boom dan lainnya yang diperlukan untuk menangani tumpahan minyak. 

"Kita mengapresiasi Pertamina yang sampai saat ini mampu menangani tumpahan minyak dengan baik dan sesuai prosedur,” ujar Ferdinand. 

Sementara itu, Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro menilai, Pertamina melakukan penanganan insiden tumpahan minyak di Karawang dengan sangat baik. Upaya yang sudah berjalan dua bulan tersebut sudah sesuai dengan standar industri migas di berbagai belahan dunia. Sudah tepat, sesuai dengan SOP global,” kata Komaidi kepada media di Jakarta. 

Dalam konteks ini Komaidi menegaskan, memang seharusnya Pertamina melakukan penanganan berlapis seperti saat ini. Dalam hal ini, Pertamina tidak hanya berusaha menutup sumur YYA-1 yang menjadi pusat kebocoran, namun juga membuat barikade agar tumpahan minyak tidak meluas, yang antara lain dilakukan melalui barikade oil boom. Selain itu, juga berusaha membersihkan ceceran minyak yang terbawa ombak hingga ke pantai. Termasuk di antaranya, melalui upaya pemberdayaan yang dilakukan kepada nelayan. 

Ini kan musibah yang memang tidak terencana. Jadi yang dilakukan Pertamina sudah pro aktif, baik aspek teknis maupun aspek demografis dengan menata masyarakat itu sendiri,” lanjutnya. 

Di sisi lain, Komaidi justru tidak sependapat jika saat ini dilakukan investigasi. Karena pada umumnya, yang harus dilakukan adalah menyelesaikan persoalan darurat terlebih dahulu, yaitu menutup kebocoran. Kalaupun terdapat konsekuensi lain, imbuhnya, bisa dilakukan setelah proses-proses yang mendesak selesai dilakukan. 

Sementara itu Direktur Eksekutif Indonesian Club, Gigih Guntoro mengemukakan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di kilang offshore yang direspon cepat oleh Pertamina. 

Menurutnya, Pertamina mampu mengkonsolidasi tim internal dan melibatkan nelayan untuk bergerak cepat bahu membahu mengevakuasi minyak tersebut. 

Gigih menuturkan, peristiwa tumpahan blok ONWJ merupakan kejadian teknis di anjungan offshore yang direspon cepat oleh Pertamina (sebelumnya kilang). 

Pertamina juga memberikan kompensasi terhadap masyarakat terdampak dengan cepat. Disamping itu juga Pertamina melakukan recovery titik kebocoran. Langkah-langkah ini merupakan satu bentuk tanggungjawab corporate secara umum,” kata Gigih. (Alf)

tag: #pt-pertamina  

Bagikan Berita ini :