Oleh RIhad pada hari Sabtu, 21 Mar 2020 - 07:22:33 WIB
Bagikan Berita ini :

Pasar Panik dan Tarik Rp105,1 Triliun dari Indonesia

tscom_news_photo_1584750153.jpg
Mata uang dolar (Sumber foto : Ist)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Wabah korona di banyak negara telah menimbulkan kepanikan pasar keuangan. Para investor mencari tempat yang lebih aman untuk menempatkan uangnya. Saat ini mereka menilai dolar Amerika serikat sebagai mata uang yang paling stabil dan paling kuat. Dampaknya, mereka memborong dolar dan melejitkan mata uang Amerika serikat tersebut, sekaligus melemahkan mata uang negara lain termasuk Indonesia. Bank Indonesia menyatakan aliran modal asing (capital outflow) yang keluar dari Indonesia terus meningkat akibat tekanan ekonomi global. Dari Januari hingga Kamis (19/3) , arus modal keluar mencapai Rp105,1 triliun secara neto.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan pelaku pasar keuangan global dan pemilik modal, mengalihkan ke dolar sehingga melemahnya nilai tukar negara lain, termasuk korupsi. Perry, mengatakan hal itu lewat telekonferensi pers usai rapat terbatas dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Bogor, Jumat (21/3),

“Memang investor dan pelaku pasar global melepas semua aset-asetnya yang mereka miliki apakah saham, apakah obligasi, emas, dan mereka menjualnya dalam bentuk dolar AS, sehingga di seluruh dunia terjadi pengetatan dolar di pasar keuangan global. Dalam konteks itu memang Indonesia juga terkena. Kita tidak sendiri, seluruh negara mengalami hal sama," jelas Perry.

Perry mengatakan BI juga berupaya untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, baik melalui intervensi di pasar spot, intervensi Domestik NDF dan juga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas oleh investor asing.

Investor global memang menarik dananya dari seluruh negara, (dan) membelikan dolar AS, termasuk dari Indonesia. "Kami akan terus berada di pasar, menjaga pasar, dan memastikan fungsi mekanisme pasar melalui tiga intervensi yaitu spot, domestik NDF, dan melalui pembelian SBN dari pasar sekunder,” ujar Perry.

Bank Indonesia sudah mengucurkan dana sekitar Rp300 triliun sepanjang tahun ini dalam intervensi pasar guna menguatkan nilai tukar rupiah dari tekanan dolar AS, yang terjadi akibat pandemi global virus corona atau COVID-19.

Ia, mengatakan intervensi nilai tukar rupiah dilakukan di pasar spot, kemudian di pasar sekunder untuk membeli Surat Berharga Negara (SBN) yang dilepas investor asing, dan intervensi di pasar Domestik NDF

"Kami terus melakukan injeksi likuiditas baik rupiah dan valas, untuk injeksi likuiditas kami laporkan tahun ini sudah injeksi rupiah hampir Rp 300 triliun," kata Perry.

Injeksi likuiditas itu antara lain dengan pembelian SBN di pasar sekunder mencapai Rp163 triliun, yang telah dilepas investor asing. Kemudian, BI mengubah Giro Wajib Minimum (GWM) rupiah atau batas pencadangan kas bank mencapai Rp51 triliun sejak awal tahun.

Selain itu, BI juga melonggarkan lagi GWM rupiah dengan tambahan likuiditas mencapai Rp23 triliun dan GWM valas dengan nilai suntikan dana 3,2 miliar dolar AS.

BI juga mendorong agar dunia usaha termasuk para eksportir turut membantu menjaga nilai tukar rupiah, dengan tidak menahan dolar AS. Eksportir dapat melepas dolar AS ke pasar sehingga memberikan pasokan di pasar valuta asing.

tag: #dolar  #rupiah  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Lainnya
Bisnis

Jumlah Penumpang Turun, Garuda Keluhkan Mahalnya Biaya Tes PCR

Oleh Rihad
pada hari Tuesday, 02 Jun 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Surat keterangan bebas COVID-19 yang dibuktikan tes PCR kini merupakan syarat wajib bagi calon penumpang untuk bisa melakukan penerbangan. Masalah buat penumpang adalah ...
Bisnis

Rendah, Inflasi Mei Hanya 0,07%

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka inflasi  bulan Mei 2020 sebesar 0,07%. Angka ini lebih rendah dari inflasi bulan April 2020 yang sebesar ...