Bisnis
Oleh Rihad pada hari Monday, 06 Apr 2020 - 21:00:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Krisis Lebih Parah dari 2008, Inilah Asumsi Pahit Ekonomi Indonesia dari Sri Mulyani

tscom_news_photo_1586180682.jpg
Sri Mulyani (Sumber foto : setkab)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Penyebaran virus Corona semakin luas dan akan berdampak langsung kepada perekonomian. Penyebaran virus corona atau Covid-19 di Indonesia diperkirakan bakal mencapai puncaknya pada akhir Mei 2020. Jumlah pasien yang terpapar wabah corona diprediksi mencapai 95.000 orang di masa puncak tersebut.

Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam paparannya di rapat dengan Komisi XI DPR, Senin 6 April 2020. Dia menjelaskan itu merupakan proyeksi Badan Intelijen Negara yang dikembangkan bersama Institut Teknologi Bandung dan Universitas Indonesia. Angka yang serupa pernah disampaikan Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo."Diperkirakan akan terjadi puncak akhir Mei dengan jumlah terpapar ada 95.000 orang," tutur Sri Mulyani dalam rapat tersebut. Menurutnya, saat ini Covid-19 tersebar di 207 negara dengan kasus baru per hari mencapai 100.000 orang.

Untuk mengantisipasi itu, Sri Mulyani mengatakan, pemerintah perlu mengambil sejumlah langkah. Wabah virus corona diprediksi menggerogoti pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dalam skenario yang terburuk, ekonom Indonesia bisa hanya tumbuh 2,3% saja dari prediksi awal tahun ini sekitar 5%.

Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi ini akan terjadi di banyak negara, tidak hanya Indonesia. Indonesia yang awalnya memprediksi ekonomi bisa tumbuh 5% kini hanya di kisaran 2% saja gara-gara wabah corona.

Diperkirakan, Konsumsi Rumah Tangga: 3,2%, Investasi: 1,3%, Konsumsi Pemerintah 6.8%, Ekspor: -11,7%, Impor: -13,5%. Sedangkan pertumbuhan Ekonomi 2020 hanya 2,3%

"Skenario kita 2,3% ini dampak dari pertumbuhan ekonomi yang terjadi di kuartal II dan II dan mulai membaik di kuartal IV. Terlihat di sini dari sisi agregat demand konsumsi turun signifikan," kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4/2020).

"Investasi negatif dan ekspor negatif growth akan tetap kontraksi bahkan makin dalam. Impor juga. Sehingga kami perkiraan baseline kita di 2,3%," tambahnya.

Sri Mulyani menyatakan dampak penyebaran virus corona terhadap ekonomi akan lebih kompleks dibandingkan dengan krisis yang terjadi pada 1997-1998 dan 2008-2009.

"Kami sampaikan virus corona jauh lebih kompleks dari 1997-1998, karena saat itu kami tahu penyebab dan bisa menahan. Kalau yang virus corona belum tahu penahannya apa," ucap Sri Mulyani melalui video conference, Senin (6/4).

Ia menuturkan dampak ekonomi virus corona juga lebih kompleks dari krisis ekonomi 2007-2008 lalu. Sebab, saat itu hanya sektor keuangan yang terkena dampak dari krisis ekonomi yang terjadi.

"Saya sampaikan virus corona jauh lebih kompleks dari 2008-2009 karena mengancam manusia, mematahkan seluruh fondasi ekonomi di seluruh negara dan gejolak di pasar modal yang tidak ada jangkar," papar Sri Mulyani.

Sejauh ini, kata Sri Mulyani, belum ada pihak mana pun yang bisa memastikan kapan tepatnya penyebaran virus corona akan berakhir, baik di Indonesia maupun secara global. Semua, hanya bisa memprediksi. "Tidak ada yang tahu kapan virus corona berhenti," imbuhnya.

Pemerintah telah mengimbau masyarakat untuk melakukan aktivitas dari rumah, seperti bekerja, sekolah, dan ibadah. Hal ini demi mengurangi risiko penularan virus corona.

Akibatnya, aktivitas ekonomi terganggu karena mayoritas masyarakat kini berada di rumah. Berbagai pusat perbelanjaan pun memutuskan untuk menutup sementara operasionalnya, sehingga pendapatan manajemen dan berbagai tenant pun otomatis menurun.

Wabah Corona Masih Panjang

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Doni Monardo mengatakan, berdasarkan data dari Badan Intelijen Negara (BIN), penyebaran virus corona atau Covid-19 di Tanah Air akan mengalami puncaknya pada Juli 2020.Data tersebut disampaikan Doni, dalam rapat kerja dengan Komisi IX melalui konferensi video, Kamis (2/4/2020). Berdasarkan data BIN, pada Juli 2020 penyebaran Covid-19 di Tanah Air akan mencapai 106.287 kasus. "Puncaknya pada akhir Juni dan akhir Juli," kata Doni.

Kemudian, dalam data tersebut dituliskan, kasus Covid-19 akan mengalami peningkatan dari akhir Maret sebanyak 1.577 kasus, akhir April sebanyak 27.307 kasus, 95.451 kasus di akhir Mei, dan 105.765 kasus di akhir Juni.

Menurut Doni, terdapat 50 kabupaten atau kota prioritas yang memiliki risiko tinggi terkait peningkatan penyebaran virus corona dan 49 persen wilayah itu berada di Pulau Jawa. Ia mengingatkan, kajian BIN bisa tak terjadi apabila langkah-langkah pencegahan terus dilakukan secara disiplin oleh masyarakat.

tag: #pertumbuhan-ekonomi-indonesia  #corona  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Bisnis Lainnya
Bisnis

BRI Berkolaborasi dengan Telkom untuk Tingkatkan Layanan Satelit

Oleh Rihad
pada hari Kamis, 30 Jul 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) melakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terkait kolaborasi layanan ...
Bisnis

Pemerintah Ingin Sulsel Jadi Lokomotif Ternak Sapi-Kerbau Nasional

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) -- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo mendorong Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel) menjadi lokomotif dalam produksi sapi dan kerbau dalam negeri. Pasalnya, ...