Oleh Aries Kelana pada hari Jumat, 05 Jun 2020 - 21:20:01 WIB
Bagikan Berita ini :

Singapura Bakal Mengenakan Alat Pedeteksi COVID Ke Semua Warganya, Mengancam Privasi?

tscom_news_photo_1591366801.jpg
Suasana di Singapura di saat pandemi COVID (Sumber foto : istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Singapura berencana akan memberikan perangkat pedeteksi COVID-19 kepada semua warganya. Perangkat itu bisa dikenakan di tubuhnya dan bisa mengindentifikasi orang-orang yang berinteraksi dengan pembawa virus.

Namanya: Aplikasi TraceTogether. Ini diklaim sebagai salah satu upaya komprehensif di dunia.

Singapura akan segera meluncurkan perangkat, yang tidak bergantung pada smartphone. “Kemudian dapat mendistribusikannya ke semua orang di Singapura,” kata Vivian Balakrishnan, salah satu Menteri yang bertanggung jawab atas inisiatif negara Jumat ini (5/6/2020).

Namun demikian, pemerintah negeri jiran ini belum menentukan apakah semua warganya diwajibkan memakai perangkat tersebut atau tidak.

Dengan adanya perangkat tersebut, Singapura tidak memiliki rencana segera mengadopsi teknologi pelacakan kontak dari Apple dan Google (GOOGL.O) yang diluncurkan bulan lalu, yang memiliki beberapa batasan yang dirancang untuk melindungi privasi pengguna.

Singapura mengatakan data yang dikumpulkan melalui aplikasi sebelumnya dienkripsi dan disimpan secara lokal di ponsel pengguna, dan hanya akan ditransfer ke pihak berwenang jika individu tersebut dipastikan terinfeksi COVID-19.

Beberapa bisnis telah mengadopsi perangkat yang dapat dikenakan untuk pelacakan kontak di lokasi di mana penggunaan ponsel cerdas dibatasi, sementara pemerintah seperti Bahrain dan Hong Kong telah menggunakannya untuk memantau orang-orang di bawah karantina.

Pengujian perangkat kecil, yang dapat dikenakan di ujung lanyard atau dibawa dalam tas tangan, mengikuti pengambilan terbatas dari sistem berbasis smartphone sebelumnya dan telah semakin memicu kekhawatiran privasi tentang teknologi pelacakan kontak.

Michael Veale, seorang dosen dalam undang-undang tentang hak-hak digital dan peraturan di University College London yang telah terlibat dalam mengembangkan aplikasi pelacakan kontak, mengatakan perpindahan Singapura ke perangkat yang dapat dikenakan menghadirkan "masalah akuntabilitas dan privasi."

"Pengguna mungkin akan merasa sulit untuk meneliti apa yang sebenarnya dilakukan perangkat, atau informasi apa yang digunakan atau tautan server back-end," kata Veale.

tag: #singapura  #covid-19  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
DD X Teropong Senayan
advertisement
Lainnya
Berita

Bupati Kutai Timur Beserta Istri Jadi Tersangka Suap

Oleh Rihad
pada hari Jumat, 03 Jul 2020
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Kutai Timur Ismunandar dan istrinya, Ketua DPRD Kabupaten Kutai Timur Encek Unguria, sebagai tersangka dugaan ...
Berita

Bogor Izinkan Pesantren di 40 Kecamatan Mulai Belajar Lagi

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)- Pemerintah Kabupaten Bogor Jawa Barat kembali membolehkan Pondok Pesantren di 40 kecamatan melaksanakan kegiatan belajar mengajar (KBM). "Aktivitas sekolah dan ...