Opini
Oleh Antonius Benny Susetyo (Staf Khusus Dewan Pengarah BPIP) pada hari Tuesday, 18 Agu 2020 - 09:55:00 WIB
Bagikan Berita ini :

Makna Kemerdekaan dalam Upaya Mewujudkan Kedaulatan Pangan

tscom_news_photo_1597714921.jpeg
Romo Benny Susetyo (Sumber foto : Istimewa)

Euforia atau semangat peringatan kemerdekaan bangsa Indonesia ke 75 tahun masih tetap dirasakan oleh segenap masyarakat indonesia walaupun di tengah situasi pandemi tahun ini. 75 tahun kita merdeka sebagai bangsa menghadapi persoalan paling mendasar bagaimana bangsa bisa keluar dari tantangan global yakni krisis ekonomi akibat pandemi korona.

Peringatan 75 tahun kemerdekan menjadi refleksi bangsa ini mewujudkan cita proklamasi, yakni kedaulatan segala bidang khususnya bagaimana mengolah pangan dan sumber ekonomi yang kita miliki. Pada dasarnya, kedaulatan pangan lebih berfokus pada hak negara yang bisa secara mandiri menentukan kebijakan dan menjamin terpenuhinya pangan bagi seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Hal ini tentunya disesuaikan dengan kondisi bangsa yang sedang dialami, termasuk pada masa pandemi korona seperti sekarang ini. Dengan kata lain, kedaulatan pangan merupakan salah satu bentuk dari kemerdekaan bangsa demi terwujudnya kesejahteraan bangsa.

Sudah 75 tahun kita merdeka, namun kita belum juga paham memaknai artinya berdikari alias berdiri di atas kaki sendiri. Sampai saat ini kita tidak menyadari bahwa kebergantungan tersebut yang membuat bangsa kita tidak juga mampu mensejahterakan rakyatnya. Orientasi pembangunan yang selalu dibiayai dengan utang dan tingginya kebergantungan hanya akan membatasi keberpihakan pemerintah terhadap rakyatnya. Karena kekuasaan ada pada si empunya uang, pelan tapi pasti, kedaulatan negara dibikin runtuh oleh titah si empunya uang.

Mengapa kita sulit berpikir jujur bahwa bangsa ini memiliki potensi luar biasa. Kita sejatinya bisa hidup mandiri tanpa melulu tergantung pada kekuatan asing. Kita bisa mengembangkan sumber daya alam yang kita miliki sehingga sungguh-sungguh bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi rakyat semesta. Indonesia masih mempunyai sumber daya alam yang bisa digunakan menjalankan pembangunannya, yang sejauh ini belum optimal dipergunakan untuk kepentingan rakyat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, visi kepala daerah yang memiliki kemampuan untuk mengkapitalisasikan produk lokal dan potensi daerah amat dibutuhkan untuk menciptakan kemandirian ekonomi lokal.

Negeri kita punya sumber daya alam di seluruh kepulauan Nusantara. Negeri kita juga punya sumber daya energi alternatif yang melimpah. Negeri ini membutuhkan pemimpin yang berani keluar dari lingkaran setan kebergantungan asing dan kembali mengukuhkan kemandirian. Pemimpin itu mampu menggerakkan potensi rakyat untuk mengembangkan potensi yang dimiliki bangsa ini. Pemimpin yang cerdas dan kritis, yang mampu berpikir dan berbuat melepaskan kebergantungan untuk menjadi mandiri.

Keberanian keluar lingkarangan kepedulian terhadap kepentingan sempit dan politik bagi hasil adalah kunci adanya harapan bangsa ini mampu menjadi bangsa besar dan memiliki peradaban. Kunci satu jika pemimpin mempunyai visi dan misi yang jelas dalam menata keadaban publik dan keluar kepentingan politik bagi hasil.
Adanya potensi bahkan dengan hal sederhana dapat kita lakukan untuk mengantisipasi krisis ketahanan pangan ini. Terpenting kini kesadaran tersebut perlu dibangun kembali dengan pendasaran kesadaran baru.

Bangsa Indonesia memiliki modal sosial, budaya sangat kuat untuk menggerakkan kesadaran bersama. Hal sederhana seperti mengolah tanah kosong dan pekarangan untuk ditanami sayuran, ubi, cabai, tomat, bisa dijadikan salah satu cara untuk mengantisiapasi krisis ketahanan pangan yang mungkin terjadi. Aksi gerakan menanam ini juga mudah dilakukan cukup dengan memanfaatkan bahan bekas seperti botol bekas, kaleng, dan dipadukan dengan sistem hidroponik.

Gerakan merupakan wujud dari aktualisasi. Dalam hal ini momentum Pilkada yang akan dilaksanakan, kita berharap calon kepala daerah mampu memberikan pemikiran dan strategi yang mampu mengolah potensi lokal dan bahkan dapat menggali lebih dalam potensi-potensi besar yang belum digali di masyarakat.

Kemerdekan ini adalah momentum untuk menggerakkan potensi yang dimiliki untuk kemudian mengolah sumber alamnya dan kekayaan hayati dengan kekuatan lokal secara swadaya.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #hut-ri-ke-75  #ketahanan-pangan  #bpip  #antonius-benny-susetyo  
Bagikan Berita ini :
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Advertisement
Top Up Jackcard Kamu Dengan JakOne Mobile
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - Bantu Negeri Peduli Pendidikan Masa Pandemi
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Opini Lainnya
Opini

Inilah Kemuliaan Ulama dan Bahaya Menyakitinya

Oleh Firda Umayah, S.Pd Pendidik dan Penulis
pada hari Jumat, 18 Sep 2020
Kasus teror dan ancaman kepada da"i dan ulama kembali terjadi di bumi pertiwi. Belakangan menimpa Syekh Ali Jaber. Wakil Ketua MPR RI Zulkifli Hasan menyampaikan kecaman keras terhadap kejadian ...
Opini

Sambung Rasa

Bahkan, di tengah cengkeraman wabah, yang merlukan penguatan empati dan proteksi, elite politik terus bertikai. Sejumlah rancangan undang-undang miskin kapasitas argumentatif dan deliberatif terns ...