Oleh windarto pada hari Kamis, 18 Feb 2021 - 22:15:39 WIB
Bagikan Berita ini :

Cuaca Ekstrem Hadirkan Risiko yang Terus Membayangi Masyarakat di Tengah Pandemi

tscom_news_photo_1613661339.jpg
Tim Autocillin Rescue Menyerahkan Mobil Pelanggan Setelah Penyelesaian Klaim Akibat Bencana Banjir (Sumber foto : dok: Istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) - Pandemi Covid-19 telah menjadi tantangan global selama satu tahun terakhir, dan mengubah fokus serta gaya hidup masyarakat di seluruh dunia. Dengan semua perhatian tertuju pada dampak kesehatan dan ekonomi dari pandemi ini, banyak yang melupakan risiko lingkungan yang sebelumnya merupakan isu global yang hangat dibicarakan. Meskipun pembatasan sosial dan perjalanan di seluruh dunia telah menurunkan emisi global di paruh pertama tahun 2020, indikasi emisi dapat kembali melejit terlihat dengan dibukanya aktivitas umum secara bertahap saat ini.

Global Risk Report 2021 (Laporan Risiko Global 2021) yang dirilis oleh World Economic Forum dan didukung oleh Zurich Insurance Group, menyebutkan “Kegagalan penanganan masalah iklim” adalah risiko jangka panjang yang paling berdampak dan duduk di posisi kedua dalam daftar risiko global dari risiko global. Risiko terbesar yang mungkin timbul dalam rentang 10 tahun adalah cuaca ekstrem, kegagalan penanganan masalah iklim, dan kerusakan lingkungan akibat ulah manusia.

Indonesia merupakan salah satu negara yang rentan terhadap dampak lingkungan, terlebih dampak perubahan iklim. Cuaca ekstrem dengan curah hujan yang meningkat memberikan risiko banjir yang kerap tidak dapat dihindari. Di awal tahun 2021 sejumlah daerah di Indonesia seperti Aceh hingga Maluku diterjang banjir bandang. Di Provinsi Kalimantan Selatan sendiri, Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 7 Kabupaten/Kota yang terdampak banjir.

Nyatanya, risiko lingkungan tidak melihat situasi pandemi. Meski seluruh perhatian tertuju pada upaya penanganan pandemi, risiko lingkungan tidak dapat diabaikan. Perubahan iklim—yang berdampak pada semua orang—senantiasa menjadi risiko yang tak bisa dianggap remeh. Mitigasi bencana dan manajemen risiko harus dilakukan untuk mencegah tingginya kerugian yang muncul dari dampak perubahan iklim. Tidak hanya memakan korban jiwa, bencana banjir juga menimbulkan kerugian material pada rumah, kendaraan, dan asset lainnya.

Hassan Karim, Direktur Utama PT Asuransi Adira Dinamika, Tbk (Adira Insurance) yang merupakan bagian dari Zurich Insurance Group (Zurich), memaparkan, “Kita harus mengubah persepsi kita terhadap penanganan masalah lingkungan. Semua pihak perlu terlibat dan berkontribusi untuk mencegah dan menangani dampak dari perubahan iklim. Kegagalan mengelola risiko lingkungan dapat memberikan dampak dan kerugian yang tidak terukur bagi masyarakat. Pandemi ini telah memberi kita kesempatan untuk merefleksikan bagaimana kita memperlakukan lingkungan dan bahwa belum terlambat untuk mengelola risiko yang kita hadapi dan mengubah dampaknya.”.

Banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya manajemen risiko. Kebanyakan masyarakat masih berpaku pada dampak, melupakan faktor pencegahan dan pengelolaan risiko yang sebetulnya dapat dilakukan. Setiap individu dapat terlibat aktif dalam upaya menjaga lingkungan karena ini bagian dari mitigasi yang dapat kita lakukan, seperti pengurangan limbah, memperbanyak tanaman hijau, dan area resapan di sekitar rumah.

“Tidak banyak yang mengetahui bahwa biaya pemulihan dapat mencapai hampir 9 kali lebih tinggi daripada biaya yang dikeluarkan untuk pencegahan. Sebagai perusahaan asuransi yang memberikan jaminan terhadap risiko banjir melalui beberapa produknya, Zurich memahami tingginya kerugian yang dapat dirasakan masyarakat dari risiko banjir. Pada tahun 2020, Adira Insurance, yang merupakan bagian dari Zurich, membayar lebih dari Rp126 miliar klaim terkait banjir” Hassan melanjutkan.

Zurich melihat perlu langkah kolektif untuk bisa mengatasi risiko lingkungan dan menciptakan masyarakat Indonesia yang tangguh untuk masa depan. “Edukasi terkait dengan manajemen risiko dari bencana alam juga patut digalakkan oleh pihak-pihak terkait. Sebagai pemain global dalam industri asuransi, Zurich merupakan salah satu perusahaan yang menandatangani kesepakatan The Paris Agreement (Perjanjian Iklim Paris 2015) untuk menghentikan peningkatan suhu global maksimum 1,5 derajat celcius. Kami bekerja sama dengan mitra bisnis dan pelanggan untuk untuk mewujudkan dunia yang lebih berkelanjutan dan memberikan pendekatan praktik bisnis ramah lingkungan. Kami juga sangat berhati-hati dalam penempatan investasi dan pertanggungan pada beberapa kriteria perusahaan yang berpotensi merusak lingkungan. Melalui program kepedulian sosial, kami juga memberikan edukasi kepada masyarakat terkait pengelolaan sampah dan penggunaan air, serta pelatihan dan sarana sanitasi untuk membantu menciptakan masa depan yang lebih cerah bagi masyarakat yang kami layani.” Hassan menambahkan.

Tidak ada yang imun terhadap perubahan iklim, dan tidak ada vaksin terhadap risiko lingkungan. Mitigasi bencana dan manajemen risiko patut dilakukan untuk mencegah tingginya kerugian yang muncul dari perubahan iklim. Perlindungan yang komprehensif juga sangat penting untuk menyikapi risiko lingkungan karena bencana alam tidak dapat diprediksi. Salah satu bentuk manajemen risiko yang dapat dilakukan masyarakat juga adalah melengkapi diri dengan perlindungan mendasar seperti proteksi jiwa maupun asset. Perlindungan terhadap properti, kendaraan bermotor, bahkan bisnis, dapat membantu masyarakat untuk mengantisipasi kerugian akibat bencana alam. Ini merupakan tujuan utama dari asuransi, yaitu untuk membantu masyarakat pulih kembali setelah terjadi bencana.

“Ini merupakan salah satu peran penting perusahaan asuransi untuk memberikan perlindungan yang holistik kepada Pelanggan. Pelanggan tidak perlu merasa khawatir apabila hujan deras melanda wilayahnya. Perlindungan asuransi dapat membantu pelanggan dalam menghadapi situasi saat bencana melanda maupun untuk bangkit kembali setelahnya.” tutup Hassan.

Adira Insurance memiliki produk yang dapat memberikan perlindungan dari risiko banjir seperti asuransi kendaraan baik mobil (Autocillin) maupun motor (Motopro), lalu asuransi properti seperti rumah tinggal (Home Insurance) maupun ruko (Arthacillin). Setiap tahunnya, Adira Insurance menyiapkan Tim Autocillin Rescue untuk tanggap bencana terutama saat musim penghujan. Tim Autocillin Rescue siap 24 jam untuk memberikan pertolongan kepada pelanggan yang terkena bencana. Pelanggan yang membutuhkan evakuasi cukup menggunakan Autocilin Mobile Claim (AMC) atau menghubungi Adira Care 1500 456.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Bisnis

Cek Harga Emas Antam Hari Ini

Oleh Ariful Hakim
pada hari Sabtu, 06 Mar 2021
JAKARTA(TEROPONGSENAYAN)--Harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk pada Sabtu (6/3/21) berada di angka Rp 923.000 per gram.  Angka tersebut naik Rp 5.000 jika dibandingkan dengan harga ...
Bisnis

Garuda Indonesia Melayani Rapid Test Antigen Gratis

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)-Garuda Indonesia melayani rapid test Antigen gratis bagi seluruh penumpang rute domestik. "Tentunya kami harapkan, hadirnya layanan rapid test Antigen gratis ini dapat ...