Oleh Aditya AF pada hari Sabtu, 27 Feb 2021 - 12:15:34 WIB
Bagikan Berita ini :

Pembunuhan Jamal Khashoggi di Restui Pangeran Saudi

tscom_news_photo_1614396985.jpeg
Pangeran Saudi Restui Pembunuhan Jamal Khashoggi (Sumber foto : Ist)

JAKARTA ( TEROPONG SENAYAN ) -- Amerika Serikat akhirnya merilis dokumen intelijen yang mengindikasikan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman (MbS), merestui pembunuhan jurnalis pengkritik kerajaan, Jamal Khashoggi.

"Kami menilai Putra Mahkota Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, menyetujui operasi di Istanbul, Turki, untuk menangkap atau membunuh jurnalis Saudi, Jamal Khashoggi," demikian kutipan ringkasan dokumen intelijen AS itu, sebagaimana dikutip CNN, Jumat (26/2/21).

Intelijen AS mendasarkan laporan tersebut pada sejumlah aspek, salah satunya peran besar MbS sebagai pemimpin de facto Saudi, sehingga tak mungkin keputusan besar untuk menghabisi nyawa Khashoggi diambil tanpa sepengetahuannya.

"Kami mendasarkan penilaian ini pada peran Putra Mahkota sebagai pengambil keputusan di Kerajaan, keterlibatan langsung seorang penasihat kunci dan anggota keamanan Mohammed bin Salman dalam operasi itu, juga dukungan Putra Mahkota untuk menggunakan kekerasan untuk membungkam warga di luar negeri, termasuk Khashoggi."

Khashoggi merupakan seorang kolumnis Washington Post yang kerap mengkritik Putra Mahkota. Ia dinyatakan tewas di dalam gedung konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada Oktober 2018 setelah sempat dinyatakan hilang. Pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyimpulkan Saudi "melakukan eksekusi yang disengaja dan direncanakan sebelumnya" terhadap Khashoggi.

Meski sempat membantah, Saudi akhirnya mengakui bahwa Khashoggi tewas di dalam gedung konsulatnya. Namun, Riyadh berkeras bahwa kerajaan tak terlibat pembunuhan jurnalis itu. Mereka menegaskan bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh pejabat Saudi dengan perintah gelap.

Bocoran mengenai dokumen ini sebenarnya sudah tersebar sejak beberapa hari lalu. Namun, AS baru memublikasikan dokumen itu sehari setelah Presiden Joe Biden untuk pertama kalinya menelepon Raja Salman pada Kamis (25/2/21).

Dalam pembicaraan itu, Biden menegaskan "komitmen AS untuk membantu Arab Saudi mempertahankan wilayahnya di tengah serangan dari kelompok-kelompok yang didukung Iran." Namun, berbeda dengan era Trump, Biden juga "menegaskan bahwa AS juga mementingkan hak asasi manusia universal dan supremasi hukum."

Pembicaraan langsung dengan raja tersebut dianggap sebagai salah satu simbol Biden tak mau berbicara dengan MbS yang selama ini dianggap sebagai pemimpin de facto Saudi. Rentetan keputusan ini dianggap sebagai pertanda bahwa arah politik AS di bawah Biden berbeda dengan Trump yang lebih dekat dengan MbS. Setelah perilisan dokumen ini, Biden juga diperkirakan bakal menjatuhkan sanksi terhadap sejumlah pejabat Saudi yang dekat dengan MbS.

tag: #arab-saudi  
Bagikan Berita ini :
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Advertisement
Indonesia Digital Network 2021
advertisement
Dompet Dhuafa - teropongsenayan.com - ZAKAT
advertisement
Dapatkan HARGA KHUSUS setiap pembelian minimal 5 PACK
advertisement
The Joint Lampung
advertisement
Lainnya
Berita

Tol Japek II Elevated Diganti Nama Tol Layang Sheikh MBZ, Inilah Profilnya

Oleh Rihad
pada hari Senin, 12 Apr 2021
Beredar kabar Jalan Tol Jakarta-Cikampek (Japek) II Elevated diganti nama  Tol Layang MBZ (Sheikh Mohamed Bin Zayeb). Di mana dalam rangka pergantian nama tersebut, akan dilakukan penutupan ...
Berita

Salat Tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Hanya 10 Rakaat

Pemerintah Arab Saudi akan mempersingkat rakaat salat tarawih di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, menjadi 10 rakaat dari 20 rakaat. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19. Kepala ...