
JAKARTA, TEROPONGSENAYAN – Kondisi kepemimpinan nasional saat ini memicu pertanyaan kritis mengenai arah kemudi bangsa. Muncul sebuah tanya besar yang menggelitik nalar publik: Sebenarnya, dia beraninya sama siapa?
Awalnya, publik menduga bahwa loyalitas dan rasa sungkan hanya tertuju pada poros tertentu—sebut saja Solo, Trunojoyo, hingga Beijing. Namun, realitas politik belakangan ini seolah menunjukkan tabir lain. Ternyata, ada ketakutan yang lebih besar terhadap kekuatan Washington dan Tel Aviv.
Jika demikian, lantas kepada siapa keberanian itu akan ditunjukkan?
Nasionalisme yang Dipertanyakan
Ke mana perginya narasi nasionalisme dan patriotisme yang selama ini selalu didengungkan dan dibanggakan di podium-podium resmi? Jika setiap langkah diplomasi dan kebijakan selalu dibayang-bayangi keraguan, maka jargon "kedaulatan" hanyalah sekadar pemanis kata.
Mungkin, pihak-pihak pendukung akan berkilah dan menjawab dengan jawaban klasik: "Ini adalah bagian dari strategi."
Analogi Kapal Besar dan Titanic
Namun perlu diingat, Indonesia adalah sebuah kapal besar. Mengelola negara sebesar ini membutuhkan sosok kapten yang:
* Cepat dalam membaca situasi.
* Tepat dalam menentukan arah.
* Mandiri dalam mengambil keputusan tanpa intervensi pihak luar.
Indonesia bukanlah kapal Phinisi yang lincah dan bisa berbelok secara mendadak dengan aman. Salah sedikit dalam memutar kemudi, stabilitas kapal taruhannya. Kita juga tentu tidak ingin dipimpin oleh sosok yang menyerupai kapten kapal Titanic—sosok yang sombong dan merasa paling tahu, hingga mengabaikan peringatan, lalu menabrak gunung es dan tenggelam bersama seluruh penumpangnya.
Strategi Tanpa Ketegasan adalah Kekalahan
Sudah saatnya ada kesadaran kolektif bahwa strategi yang tidak tegas sebenarnya bukanlah strategi diplomasi yang cantik, melainkan sebuah jalan panjang menuju kekalahan.
Mari kita sadar sebelum terlambat. Mari kita rapatkan barisan untuk satu tujuan: Selamatkan kapal besar INDONESIA!
Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.
tag: #