Oleh Redaksi Teropongsenayan pada hari Rabu, 01 Apr 2026 - 15:31:54 WIB
Bagikan Berita ini :

Laporan Khusus: Konsolidasi Intelektual Melawan Wacana Pembatasan Kritik

tscom_news_photo_1775032314.jpg
(Sumber foto : )

Jakarta – Di tengah dinamika politik pasca-Lebaran, puluhan pengamat nasional dan aktivis demokrasi menggelar pertemuan strategis yang dikemas dalam acara Halal Bihalal di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Selasa (31/3/26). Pertemuan bertajuk "Sebelum Pengamat Ditertibkan!" ini menjadi panggung pernyataan sikap kolektif merespons wacana Presiden Prabowo Subianto terkait penertiban pengamat.
1. Intisari Pertemuan: Integritas di Atas Tekanan
Fokus utama pertemuan ini adalah menegaskan posisi para intelektual sebagai kontrol sosial. Ubedilah Badrun, pengamat sosial politik yang menjadi sosok sentral dalam gerakan ini, menegaskan bahwa para pengamat tidak akan mundur meski menghadapi tekanan kekuasaan.


> "Kami akan terus berdiri tegak melawan segala bentuk kekerasan, penindasan, dan upaya pemerintah yang merusak demokrasi. Semuanya kami lakukan secara scientific dan sesuai koridor konstitusi," ujar Ubedilah.


Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kritik yang dilontarkan bukan sekadar sentimen politik, melainkan hasil analisis berbasis metodologi ilmiah yang dilindungi oleh hak konstitusional warga negara.
2. Perspektif Lintas Disiplin: Hukum, Ekonomi, dan Kebangsaan
Pertemuan tersebut menghadirkan diskursus dari berbagai sudut pandang ahli yang memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi nasional:
* Aspek Konstitusi: Pakar Hukum Tata Negara, Feri Amsari, menyoroti adanya "cacat konstitusional" yang berlanjut sejak proses pemilu. Ia mengkritik pemahaman tata negara rezim saat ini yang dinilai kerap menabrak aturan dasar dan menunjukkan kecenderungan otoriter.
* Aspek Ekonomi: Dipo Satria Ramli memberikan analisis tajam mengenai praktik state capitalism (kapitalisme negara) di Indonesia. Menurutnya, model ini gagal karena tidak dibarengi dengan integritas pejabat yang mumpuni dan tata kelola yang transparan.
* Aspek Patriotisme: Sukidi menegaskan bahwa sikap kritis para pengamat adalah bentuk tertinggi dari rasa cinta tanah air (ekspresi patriotik), bukan upaya untuk merongrong stabilitas negara.
3. Daftar Tokoh yang Hadir
Solidaritas ini dihadiri oleh jajaran pemikir lintas sektor, antara lain:
* Ray Rangkuti & Lucius Karus (Pengamat Politik/Parlemen)
* Saiful Mujani (Ilmuwan Politik/Survei)
* Islah Bahrawi (Keamanan dan Terorisme)
* Danang Widyoko & Almas Syafrina (Anti-Korupsi)
* Tokoh agama dan intelektual lainnya seperti Romo Antonius Setyo Wibowo dan A. Wakil Kamal.
4. Analisis Prediktif: Ancaman Demokrasi ke Depan
Sesi penutup yang disampaikan oleh Islah Bahrawi dan Saiful Mujani memberikan peringatan serius. Mereka memprediksi kemungkinan situasi nasional yang memburuk akibat:
* Kerusakan internal dalam pengelolaan demokrasi dan Hak Asasi Manusia (HAM).
* Ketidaksiapan respons domestik terhadap dinamika geopolitik global.
* Melemahnya institusi oposisi yang mengakibatkan kekuasaan menjadi tidak terkendali.
Kesimpulan Independen:
Pertemuan di Utan Kayu ini bukan sekadar ajang silaturahmi, melainkan sebuah sinyal peringatan (early warning) dari kelas menengah intelektual terhadap arah pemerintahan. Para pengamat sepakat bahwa soliditas kekuatan kritis adalah kunci untuk menjaga agar Indonesia tidak tergelincir kembali ke dalam pola kepemimpinan otoriter.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement