Oleh Yudi Latif pada hari Jumat, 10 Apr 2026 - 16:55:42 WIB
Bagikan Berita ini :

Krisis Api dan Air Republik

tscom_news_photo_1775814942.png
(Sumber foto : )

Saudaraku, kesuraman dan kelembaman yang mewarnai kehidupan Republik boleh jadi karena kita mengabaikan api dan air kebajikan publik. Apinya nalar sehat, airnya moral terpuji. Tanpa nalar dan moral suatu negara kehilangan obor penerang dan marka haluan perjalanan.

Kesenangan bisa diperoleh dari kemenangan pemilihan, kenaikan kedudukan, pendapatan, popularitas dan pengikut, profit dan aset. Namun, kesenangan tak pernah mengenal kata cukup. Kebahagiaan abadi hanya bisa diraih dengan mengembangkan jiwa dan pikiran dengan tujuan moral yang membuat manusia menjalani kehidupan yang baik.

Apa itu kehidupan yang baik? Aristoteles dalam uraiannya tentang kebahagiaan (eudaimonia) menyatakan: sesuatu dikatakan baik jika memenuhi tujuannya. Jam yang baik menunjukkan ketepatan waktu, anjing baik dapat menjaga tuannya. Manusia baik yang mampu bertindak seusai dengan nalar yang benar dan menggunakan nalar itu untuk menginvestigasi alam dan tujuan keberadaannya di alam.

Alhasil, kita bisa menghidupi kehidupan yang baik tatkala mampu menemukan tujuan moral dalam mengembangkan nalar yang benar serta menggunakan nalar itu untuk bertindak secara bajik. Maka, bertindaklah secara baik dan benar sejalan dengan nilai sebagai makhluk rasional, maka kehidupan akan bahagia.

Prasyarat nalar dan moral itu pula yang melandasi rumusan sila keempat Pancasila. Cita kerakyatan hendak menghormati suara rakyat dalam politik dengan memberi jalan bagi peranan dan pengaruh besar yg dimainkan oleh rakyat dalam proses pengambilan keputusan pemerintahan.

Cita permusyawaratan memancarkan kehendak untuk menghadirkan negara persatuan yang dapat mengatasi paham perseorangan dan golongan, dengan mengakui adanya kesederajatan/persamaan dalam perbedaan.

Cita hikmat-kebijaksanaan merefleksikan orientasi nalar-etis, bahwa “kerakyatan yang dianut bangsa Indonesia bukanlah kerakyatan yang mencari suara terbanyak saja, tetapi kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan. Orientasi nalar-etis ini dihidupkan melalui daya nalar deliberatif argumentatif, kearifan konsensual dan komitmen keadilan yang dapat menghadirkan sintesis konstruktif bagi kebajikan publik.

Disclaimer : Rubrik Opini adalah media masyarakat dalam menyampaikan tulisannya. Setiap Opini di kanal ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis dan teropongsenayan.com terbebas dari segala macam bentuk tuntutan. Jika ada pihak yang berkeberatan atau merasa dirugikan dengan tulisan ini maka sesuai dengan undang-undang pers bahwa pihak tersebut dapat memberikan hak jawabnya kepada penulis Opini. Redaksi teropongsenayan.com akan menayangkan tulisan tersebut secara berimbang sebagai bagian dari hak jawab.

tag: #  
Bagikan Berita ini :
Advertisement
Leap Telkom Digital
advertisement
IDUL FITRI M HEKAL
advertisement
IDUL FITRI AHMAD NAJIB
advertisement
IDUL FITRI SINGGIH
advertisement
IDUL FITRI SOKSI
advertisement
Lainnya
Opini

Keluar dari Kemelut

Oleh Yudi Latif
pada hari Kamis, 09 Apr 2026
Saudaraku, hendak ke mana demokrasi kita menuju? Pertanyaan reflektif seperti itu sulit terlintas dan terpikirkan elit politik dan ilmuwan pengamat hari ini karena mengidap problem rabun ...
Opini

Analis Mi6: Lindungi Sawah Penting, Tapi Kebijakan Jangan Abaikan Realitas Lapangan

MATARAM — Dukungan terhadap kebijakan pengendalian alih fungsi lahan sawah terus mengalir. Kali ini datang dari kalangan masyarakat sipil. Direktur Lembaga Kajian Sosial dan Politik Mi6, ...