
JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) --Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris menyambut baik keputusan Badan Gizi Nasional (BGN) yang menghentikan sementara (moratorium) pembangunan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Ia pun mendorong agar pelaksanaan MBG disalurkan berbasis dapur di sekolah.
“Kami menyambut baik berbagai langkah pembenahan yang diumumkan Kepala BGN, khususnya kebijakan moratorium pembangunan dapur SPPG baru, refocusing penerima manfaat, serta pergeseran fokus dari kuantitas menjadi kualitas MBG,” kata Charles Honoris, Senin (8/6/2026).
Seperti diketahui, BGN memutuskan untuk melakukan moratorium pembangunan dapur baru MBG. BGN memilih merapikan dan mengevaluasi dapur yang ada sebelum membuka pembangunan baru.
Selain menghentikan sementara pembangunan dapur baru, BGN juga akan membenahi dapur-dapur yang sudah beroperasi. Langkah tersebut mencakup peningkatan standar SPPG hingga perbaikan dan pelatihan sumber daya manusia (SDM).
Tak hanya itu, BGN pun disebut akan menggeser fokus dari target kuantitas 82,9 juta penerima menjadi prioritas intervensi gizi berkualitas, khususnya bagi kelompok rentan (ibu hamil, ibu menyusui, balita) dan wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Charles mengapresiasi evaluasi yang dilakukan BGN tersebut karena refocusing penerima manfaat bertujuan agar tidak membebani APBN.
“Fokus baru kebjikan ini adalah yang selama ini kami tunggu untuk memastikan program berjalan lebih efektif, efisien, dan memberikan dampak nyata terhadap perbaikan status gizi masyarakat,” tuturnya.
Menurut Charles, moratorium pembangunan dapur baru MBG patut didukung sebagai kesempatan bagi BGN untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola program, memperbaiki SOP, meningkatkan kualitas SDM, serta memastikan seluruh dapur yang telah beroperasi memenuhi standar keamanan pangan dan kualitas gizi yang ditetapkan.
“Terlebih dalam kondisi keuangan negara yang sedang menghadapi tekanan, langkah menahan ekspansi dan memprioritaskan pembenahan merupakan pilihan yang bijaksana dan bertanggung jawab,” ungkap Charles.
Lebih lanjut, pimpinan Komisi bidang kesehatan dan gizi DPR itu juga menilai langkah refocusing penerima manfaat merupakan kebijakan yang rasional dan berbasis kebutuhan. Charles mengatakan, hal ini lantaran program MBG tidak seharusnya diposisikan sebagai program universal.
“Melainkan sebagai instrumen intervensi gizi yang ditujukan kepada kelompok yang membutuhkan, seperti balita, anak usia sekolah dari keluarga rentan, ibu hamil, ibu menyusui, serta masyarakat di wilayah dengan prevalensi masalah gizi yang tinggi,” paparnya.
“Dengan demikian, anggaran negara dapat difokuskan untuk menghasilkan dampak perbaikan gizi yang nyata dan terukur,” lanjut Charles.
Atas dasar tersebut, Charles menyatakan mendukung arah baru kebijakan BGN untuk mempertajam sasaran penerima manfaat.
“Tidak semua anak harus menjadi penerima MBG. Program perlu difokuskan pada mereka yang menghadapi risiko kekurangan gizi, stunting, maupun keterbatasan akses terhadap pangan bergizi,” tegasnya.
Dalam kondisi fiskal yang terbatas, menurut Charles, pendekatan yang lebih terarah akan meningkatkan efisiensi penggunaan anggaran sekaligus memperbesar dampak perbaikan gizi nasional.
“Selain itu, momentum pembenahan ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong transformasi model penyediaan MBG dari pendekatan dapur SPPG terpusat menuju school-based kitchen atau dapur berbasis sekolah,” ungkap Charles.
Charles mengatakan, model dapur MBG yang terpusat langsung di sekolah akan memungkinkan pengelolaan yang lebih dekat dengan penerima manfaat. Model ini pun dapat memanfaatkan fasilitas yang telah tersedia di sekolah.
“Termasuk mengurangi biaya logistik dan distribusi, memperkuat pengawasan kualitas makanan, serta membuka ruang partisipasi sekolah dan masyarakat dalam penyelenggaraan program,” lanjut Legislator dari Dapil DKI Jakarta III itu.
Ditambahkan Charles, pendekatan school-based kitchen juga lebih sejalan dengan tujuan utama MBG sebagai intervensi gizi. Sebab sekolah dapat berperan lebih aktif dalam memastikan kualitas makanan, edukasi gizi, serta pemantauan kondisi peserta didik yang menjadi sasaran program.
“Dengan memanfaatkan infrastruktur yang sudah tersedia, pemerintah dapat menekan biaya investasi dan operasional sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan program,” ujar Charles.
Ke depan, Charles menyebut keberhasilan MBG seharusnya tidak semata-mata diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi dari sejauh mana program mampu menurunkan masalah gizi, meningkatkan kesehatan anak, serta memperbaiki kualitas SDM Indonesia.
“Oleh karena itu, langkah moratorium, penajaman sasaran penerima manfaat, dan penguatan kualitas layanan yang saat ini ditempuh BGN layak mendapatkan dukungan dari seluruh pemangku kepentingan,” pungkasnya.