Profil

Alzier, Sosok Politisi Penuh Warna dari Lampung

Oleh Ferdiansyah pada hari Selasa, 04 Okt 2016 - 06:39:14 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

13Alzier Dianis Thabranie.jpg

Alzier Dianis Thabranie (Sumber foto : istimewa)

JAKARTA (TEROPONGSENAYAN)—Tak banyak yang menyangka karir politik HM Alzier Dianis Thabranie berkibar hingga saat ini. Pasalnya, pria kelahiran Yogyakarta 58 tahun lalu itu pada 2002 terberlit badai politik sekaligus kriminalisasi. Bahkan Alzier sempat dibawa paksa aparat kepolisian dengan helikopter khusus dari Jakarta menuju Lampung.

Ketika itu Alzier sebenarnya telah terpilih sebagai Gubernur Lampung dalam rapat paripurna DPRD Provinsi Lampung. Namun, dia tak mendapat restu dari Ketua PDI-P yang juga Presiden, Megawati Soekarnoputri. Alizer ngotot. Hasilnya, dia dicopot dari Ketua DPD PDI-P Lampung sekaligus dikuak kasus-kasus perdata dan pidana.

Namun ajaib, hanya berselang hitungan bulan Alzier justru menjadi Ketua DPD Parti Golkar Provinsi Lampung. Tidak main-main, kursi Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung itu dijabatnya sejak 2004 hingga kini atau lebih dari dua periode! Meski belum bisa mendongkrak perolehan suara, sepak terjang Alzier ini menunjukkan kepiawaiannya dalam dunia politik.

Dunia politik bisa jadi mengalir dalam darahnya. Alzier adalah putra ketiga mantan Walikota Lampung Thabranie Daud. Meski mengawali karir dalam dunia bisnis hingga menjadi Ketua KADINDA Provinsi Lampung, sepak terjang Alzier dalam langit politik Lampung tak bisa dikesampingkan. Alzier pernah menjajal nasib dalam pemilihana Bupati Lampung Selatan (2000).

Menjadi Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Lampung lebih sebelas tahun, membuat Alzier adalah politisi yang disegani di ujung selatan pulau Sumatera itu. Tak hanya melahirkan sejumlah pemimpin dan politisi lokal yang loyal, Alzier juga berhasil mengantarkan anaknya yaitu Dwie Aroem Hediati sebagai anggota DPR RI dan Heru Sambodo menjadi anggota DPRD Kota Bandar Lampung.

Cengkeraman pengaruh Alzier itu tampak saat DPP Partai Golkar memutuskan untuk menggantinya. SK yang ditandatangani Ketua Umum DPP Partai Golkar Setya Novanto dan Sekjen DPP Partai Golkar Idrus Marham itu bukan hanya karena Alzier sudah dua kali menduduki kursi jabatan Ketua DPD Tk I, namun juga untuk menindaklanjuti keputusan Munaslub yaitu konsolidasi organisasi.

Namun, Alzier dan loyalisnya berusaha menolak keputusan DPP Partai Golkar itu. Mereka tidak terima penggantian Alzier. Bahkan, Alzier juga mengadu kepada Setya Novanto dan Aburizal Bakrie (yang sangat dia percayai dan kagumi). Alzier kembali melakukan manuver politik, meski posisinya sudah berlawanan dengan AD/ART Partai Golkar.

Dikalangan sahabatnya, Alzier memang dikenal sosok yang ngotot jika sudah memiliki kemauan. Bahkan dikenal berani menabrak ‘tembok’. Selain itu langkah-langkah politiknya sering mengejutkan kawan dan lawan. Meski dikenal temparamental, Alzier juga dikenal memiliki kesetiakawanan yang tinggi serta tak tega melihat kesusahan orang lain.

Beda dengan 2002, kini usia Alzier sudah menapaki 58 tahun. Rambut politisi senior Lampung ini sudah memutih. Gerak langkahnya juga semakin tak lincah lagi.(*)

tag: #  

Bagikan Berita ini :