Berita

Empat Hal Ini Jadi Catatan F-PKS Soal APBN 2017

Oleh Mandra Pradipta pada hari Jumat, 28 Okt 2016 - 09:04:24 WIB | 0 Komentar

Bagikan Berita ini :

69refrizal_pks.jpg

Refrizal (Sumber foto : Istimewa)

Empat Hal Ini Jadi Catatan F-PKS Soal APBN 2017


JAKARTA (TEROPONGSENAYAN) – Anggota DPR dari Fraksi PKS Refrizal memberikan empat catatan terhadap APBN 2017 yang telah disahkan dalam rapat Paripurna, Kamis (27/10/2016).

Pertaman, kata Refrizal, tujuan utama disusunnya APBN adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Untuk itu sangatlah penting untuk menjaga kredibilitas dari APBN yang dibuat dengan memastikan akurasi dari target-target yang telah ditetapkan dan memastikan realisasinya tercapai," kata Refrizal kepada TeropongSenayan, Jakarta, Jumat (28/10/2016).

Kedua, lanjut legislator dari Dapil Sumatera Barat II itu, mewaspadai keseimbangan primer, terutama defisit APBN yang semakin besar yang mencapai Rp 108,97 triliun, atau meningkat Rp 4 triliun dari APBN-P 2016.

"Bila keseimbangan primer defisit, itu artinya pemerintah ada dalam posisi gali lubang tutup lubang karena terjebak dalam lingkaran menarik utang untuk membayar bunga utang," ujarnya.

Ketiga mengenai target penerimaan pajak. Ia menyarankan pemerintah agar lebih kreatif dalam upaya pencapaian target penerimaan pajak, dimana dalam beberapa tahun terakhir target penerimaan pajak tidak pernah tercapai. Terlebih tax ratio Indonesia masih sangat rendah di kisaran 11,52%, sedangkan rata-rata negara ASEAN ada di angka 19-21%.

"Pasca Tax Amnesty, pemerintah harus serius melanjutkan reformasi perpajakan salah satunya adalah dengan mengamandemen paket UU Perpajakan seperti seperti UU KUP, UU PPh, dan UU PPN, serta penguatan kelembagaan, pembinaan aparat perpajakan, akses data dan informasi, dan lain-lain," ucapnya.

Keempat, kata Refrizal, soal penetapan suku bunga SPN sebesar 5,3 persen yang justru kontradiktif dengan komitmen pemerintah untuk mencapai single digit policy.

"Dalam pandangan saya, seharusnya suku bunga SPN dapat lebih rendah dikisaran angka 5%. Suku bunga yang tinggi mencerminkan risiko negara yang relatif tinggi dan mempengaruhi biaya fiskal ke depan," tutup anggota Komisi XI tersebut.(yn)

tag: #apbn-2017  #pks  

Bagikan Berita ini :